Rahim Pengganti Untuk CEO

Rahim Pengganti Untuk CEO
Sikap yang semakin dibenci


__ADS_3

Beberapa hari kemudian, Aira pun pulang ke rumah bersama bayi kembarnya. Namun, hingga hari ini, dia masih enggan menyusui bayinya. Jawabannya mungkin hanya satu, karena Sera.


Arya dan Arka terpaksa diberikan susu formula karena Aira yang enggan memberikan ASI. Namun, tiap kali Aira memompa ASI untuk dibuang, Reyhan dan Raya diam-diam mengambil ASI itu untuk anak mereka. Bagaimana pun juga, mereka harus tetap mengkonsumsi ASI Aira meski sang ibu tidak menghendaki.


Malam ini, ketika kadua bayi kembarnya menangis, Aira tidak menggubris hingga tangisan mereka membangunkan Reyhan, Sera, dan Raya. Mereka bergegas ke kamar Aira dan mendapati Aira membiarkan kedua bayinya menangis.


Reyhan sudah menatapnya dengan emosi, namun, ketika dia ingin mendatanginya, Sera mencegahnya.


"Sudah, jangan, sebaiknya kita mengurus mereka saja. Kau dan Ibu gendong mereka, sedangkan aku akan membuat susunya," ucap Sera yang langsung mendapatkan anggukan dari suami dan mertuanya.


Reyhan menggendong Arya, lalu Raya menggendong Arka. Mereka berusaha mendiamkan kedua bayi yang sedang menangis itu.


Setelah susu datang, mereka langsung meminumnya hingga habis. Menggunakan botol dot dengan kualitas terbaik.

__ADS_1


Setelahnya, mereka pun kembali terlelap dalam tidur. Popok yang tidak basah membuat mereka terlelap dengan cepat.


Sementara Aira masih memalingkan tubuhnya ke arah lain. Membelakangi mereka tanpa mereka tahu bahwa dia sedang menangis karena tak bisa menyentuh anaknya.


"Ayo, Rey, sekarang kita keluar. Mulai besok, mereka pindahkan saja ke kamarmu dan Sera. Mama melihat Sera lebih pantas menjadi Ibu mereka dibanding ibu yang tak bertanggung jawab ini!"


Raya pun keluar bersama anak dan menantu pertamanya. Dalam hati Sera berdecak senang karena akhirnya, Ibu mertuanya mengakui bahwa dia adalah ibu yang pantas untuk mereka.


Sepeninggal mereka, Aira menangis tersedu-sedu. Tubuhnya gemetar, sedari tadi merasakan sakit kala kedua anaknya menangis dengan begitu pilu. Sanubarinya begitu tertekan. Tersiksa dengan jalan hidup yang harus ditempuhnya.


Berhasil, dia berhasil menyusui anaknya hingga kembali terlelap. Begitu juga dengan kembar yang satunya yang terbangun setelah saudaranya tertidur.


Keesokan harinya, Aira belum juga terbangun karena bergadang demi kedua anaknya. Dia menahan kantuk agar ketika bayinya terbangun dia bisa langsung mendiamkannya tanpa melihat mereka menangis karena dirinya.

__ADS_1


Raya yang memang mendatangkan pengasuh setiap pagi langsung menyuruh mereka memandikan si kembar. Meskipun Sera meminta izin untuk memandikannya, namun sang ibu mertua tidak berani mengambil risiko karena serai yang tidak memiliki pengalaman. Sedangkan dirinya sudah mulai renta sehingga tak memiliki tenaga cukup untuk kedua cucunya.


"Lihatlah ibu tak bertanggung jawab yang kerjaannya hanya tidur. Dia tidak memperdulikan anaknya, tidur dengan nyenyak, lalu mengapa paginya masih malas-malasan?" gerutu Raya dengan kesal.


"Sudahlah, Ma, dia kan baru saja menjalani operasi. Jadi, wajar saja jika dia membutuhkan istirahat yang cukup," ujar Sera yang berpura-pura membela Aira.


"Mama dulu tidak begitu. Bahkan tidak dibantu pengasuh. Mama mendedikasikan waktu Mama untuk merawat Reyhan dari bayi hingga dewasa."


"Setiap orang kan beda-beda, Ma."


"Ya jelas beda. Itu lah asalan untuk tidak menyuruh anak bay kencur untuk punya anak!"


"Ma, sudahlah, ini masih pagi. Sebaiknya sambut pagi ini dengan senyuman." Reyhan berusaha menghibur ibunya.

__ADS_1


"Hmm, baiklah. Ini demi cucu Mama yang pintar. Mereka itu sangat baik, hanya terbangun di sepertiga malam. Biasanya kan anak baru lahir akan bangun berkali-kali setiap malam."


Ucapan Raya membuat Sera tersadar. Apakah itu ada hubungannya dengan Aira yang tak kunjung bangun sampai pagi ini?


__ADS_2