Rahim Pengganti Untuk CEO

Rahim Pengganti Untuk CEO
Kelahiran si kembar


__ADS_3

Hari persalinan pun tiba. Dikarenakan Aira yang harus menjalani operasi Caesar, mereka menjadwalkan tanggalnya hari ini dimana tanggal yang sama dengan tanggal ulang tahun Reyhan.


Di depan ruang operasi, Reyhan, Sera, dan Raya mondar-mandir dengan wajah yang cemas. Mereka mengkhawatirkan keadaan ibu dan dua bayi yang akan dilahirkan.


Hingga suara tangisan jual beli yang bersahut-sahutan pun akhirnya melegakan mereka. Raya memeluk Reyhan sambil menangis haru. Akhirnya, hari ini diresmi menjadi seorang nenek. Hal yang selama ini ditambahkannya dari beberapa tahun yang lalu.


"Selamat, Rey, hari ini kamu resmi menjadi seorang ayah."


"Mama juga selamat, ya, Mama resmi menjadi seorang nenek," ucap Reyhan dan Raya yang seakan tak memperdulikan Sera. Membuat wanita itu hanya bisa menahan kesabarannya.


Dokter pun keluar dan mempersilakan ayah dari kedua bayi untuk mengazankan mereka. Kedua bayi itu adalah laki-laki, sesuai dengan harapan Raya selama ini. Cucu laki-laki yang akan meneruskan nama Adijaya.


Setelah Aira dipindahkan ke ruang rawat, barulah mereka bisa masuk bersama-sama dan melihat kedua bayi kembar itu. Keadaan mereka sehat karena Raya selalu menjaga asupan makanan Aira sampai melahirkan.


"Lucu banget cucu Nenek. Wajahnya mirip Papa, ya," ucap Raya saat menggendong salah satu bayi. Sedangkan bayi satunya digendong oleh Reyhan.


Aira tersenyum melihat mereka. Namun, satu tatapan Sera membuatnya langsung melenyapkan senyuman itu. Bagaimana tidak? Sera menatapnya dengan begitu tajam karena kedua orang di depannya tidak memperdulikannya sama sekali.


"Siapa namanya, Rey?" tanya Raya pada Reyhan dan Aira.

__ADS_1


"Bagaimana kalau namanya Arya dan Arka?" ucap Reyhan yang langsung terbesit dua nama itu untuk putra kembarnya.


"Iya, bagus, ya," ucap Raya yang rupanya menyetujui nama yang merupakan gabungan dari nama Aira dan Reyhan.


"Tapi, bukannya nama mereka Revan dan Ravan?" tanya Sera yang langsung membuat suami dan ibu mertuanya menoleh ke arahnya.


"Arya Revan Adijaya, dan Arka Ravan Adijaya. Gimana, Sera? Kamu suka, kan, nama itu?" tanya Reyhan yang sedari tadi tak bisa berhenti melepas senyumannya.


"Bu-bukankah namanya harusnya di depan?"


"Memangnya kenapa kalau nama mereka di tengah? Kamu mau protes?" Raya melayangkan tatapan tajam pada menantu pertamanya itu.


Sera langsung menundukkan kepalanya dan berhenti bicara. Tatapan itu menunjukkan bahwa Raya sedang marah dan ucapannya tidak bisa dibantah.


Tadinya Aira sudah berniat untuk menggendong anaknya. Namun, ketika melihat tatapan Sera, dia pun ingat dengan janji yang dibuatnya pada wanita itu.


"Maaf, Ma, aku tidak bisa," ucap Aira yang langsung mengejutkan Raya dan juga Reyhan.


"Apa maksud kamu tidak bisa? Ini kan anak kamu," ucap Raya dengan tatapan tajam.

__ADS_1


"Tapi aku tidak mau, Ma. Mama dan Mas Reyhan saja yang mengurus mereka, aku tidak mau. Dan jangan paksa aku menyusui karena aku tidak mau jam tidurku diganggu. Dan kalau mereka membuat tubuhku melar karena menyusui, itu pasti akan sangat merugikan aku."


Ucapan Aira benar-benar membuat Reyhan dan Raya tak percaya. Bagaimana bisa Aira yang dikenal lemah lembut dan baik itu berubah menjadi sosok yang egois? Bahkan pada anak kandungnya sendiri.


Sera tersenyum senang melihat Aira yang mau melakukan perintahnya dan membuat suami serta mertua mereka kesal.


"Kamu udah gila, ya, Aira? Dimana sih pikiran kamu? Mereka ini adalah anak yang baru saja kamu lahirkan? Bagaimana kamu bisa berkata sedemikian rupa?" Raya kembali melontarkan pertanyaan dan tatapan tajam pada Aira.


"Maaf, Ma, aku punya hak. Kalian aja bisa memaksaku untuk mengandung dan melahirkan anak ini. Lalu, mengapa aku tidak bisa mengabaikan mereka? Kalian lah yang egois!"


"Kalau saja kamu tidak sedang lemah, sudah saya tampar wajah kamu! Dasar perempuan tidak tahu diri, kamu!"


Aira yang dimaki seperti itu hanya diam saja. Dia memalingkan wajahnya, lalu mendengar langkah kaki mereka meninggalkannya saat perawat meminta mereka untuk kembali dimasukkan ke ruangan bayi.


"Terima kasih, Aira, aku tidak menyangka kamu mau mengabulkan permintaanku. Semoga saja setelah ini Mas Reyhan segera menceraikanmu dan aku bisa hidup bahagia dengannya."


Terdengar egois, namun Aira hanyalah orang ketiga yang memang mengganggu hubungan Sera dan Reyhan.


"Tapi, Mbak, Mbak janji kan bakalan merawat mereka dengan baik? Agar aku tenang ketika aku meninggalkan mereka," ucap Aira sambil menyeka sudut matanya yang basah.

__ADS_1


"Kamu tenang aja, Aira, aku akan menepati janjiku. Mereka akan mendapatkan limpahan kasih sayang dariku."


Ucapan Sera pun membuat Aira sedikit lega. Meskipun hal itu tak sepenuhnya membuat kesedihannya berkurang.


__ADS_2