
Setelah Reyhan pergi, Raya terlihat menidurkan cucunya di kamar Sera dan Reyhan. Box mereka sudah ada di dalam sana, dipindahkan saat Aira masih tertidur.
"Mama nggak habis pikir, bagaimana wanita yang dulunya penakut seperti Aira bisa membangkang seperti ini," ucap Raya dengan tatapan tajam.
"Sudahlah, Ma, jangan membahasnya lagi. Semakin Mama membahas dia, semakin aku kasihan pada kedua anak ini," ucap Sera sambil menyentuh kedua pipi anak kembar yang tidur di box yang berbeda itu.
"Apa mungkin dia terkena baby blues, ya? Sikap dia yang tidak mau menemui anaknya." Raya mencoba berpikir sejenak mengenai kondisi Aira.
"Sepertinya tidak, Ma. Dia tidak bersedih atau menunjukkan gejala depresi. Atau mungkin dia memang ingin lepas dari Mas Reyhan agar segera mendapatkan uang?"
Raya terkejut mendengar ucapan Sera dan langsung menatapnya serius. "Benar juga! Mengapa tidak terpikirkan oleh Mama!"
Sera berdecak senang dalam hati ketika ucapannya barusan dipercaya oleh Raya.
"Makanya sebaiknya kita biarkan saja dulu, Ma. Kita tidak boleh membuatnya dekat dengan anak-anak ini atau mereka akan bergantung padanya. Mungkin saja dia ingin membawa anak-anak ini bersamanya. Dia ingin mengambil cucu-cucu Mama."
__ADS_1
Provokasi Sera semakin menjadi-jadi. Membuat Raya yang dari tadi berpikiran negatif pada Aira semakin menanamkan prasangka buruk di dalam hatinya mengenai wanita itu.
"Kamu benar. Kita tidak boleh membiarkan anak-anak ini dekat dengan wanita jahat itu! Mama akan menyuruh Reyhan untuk segera menceraikannya agar Reyhan tetap memiliki satu istri yang jelas-jelas adalah wanita baik-baik dan terhormat."
Kembali, Sera kegirangan dalam hati karena Raya berpihak padanya. Sebentar lagi Reyhan akan menceraikan Aira, hal yang paling ditunggu-tunggu olehnya.
Hingga hari-hari berlalu, Sera tak pernah terbangun malam karena ternyata Reyhan lebih sigap. Setiap malam, Reyhan yang bangun ketika anak mereka menangis. Sedangkan Sera tak dibangunkan karena merasa kasihan.
Mereka berbagi tugas yang mana Sera menjaga si kembar ketika siang saja. Awalnya Sera menolak karena Reyhan akan sering ketiduran di kantor. Namun, Reyhan meyakinkan bahwa dia akan baik-baik saja. Sera hanya perlu melakukan yang dia mau.
"Aku pikir karena kamu siang terlalu lelah, Sayang. Kamu bisa tidak untuk berhenti mengkonsumsi obat diet kamu. Aku yakin itu yang membuat mu sulit bangun," ucap Reyhan yang sedari dulu tidak suka jika Sera mengkonsumsi obat diet. Karena kata dokter, salah satu penyebab serat sulit hamil adalah karena sibuk mengkonsumsi obat diet di umurnya yang sedang matang untuk punya anak.
"Aku kan ingin terlihat tetap langsing demi kamu, Sayang. Kalau aku cantik, kan kamu juga yang senang."
"Hmmm, terserah kamu saja. Yang penting aku sudah menasihati."
__ADS_1
"Oh ya, jadi kapan kamu menceraikan wanita jahat itu?" tanya Sera sedikit berbisik.
"Aku belum tahu. Aku sedang menunggu waktu yang pas."
"Baiklah, sebenarnya aku tidak mau Mama mengambil keputusan ini. Tapi, daripada Mama bersedih karena dia, lebih baik kamu menceraikan dia saja."
"Iya, aku juga tidak mau menjadi suami seorang wanita jahat lebih lama lagi." Reyhan mengangguk membenarkan ucapan Sera.
Sudut bibir Sera menarik ke atas dan tatapannya menunjukkan sebuah tatapan penuh kelicikan. Dia menang, akhirnya Aira akan segera tersingkir dari rumah ini.
"Oh ya, bagaimana caramu menidurkan mereka dalam waktu yang cepat? Pengasuh bilang, jika mereka bersamamu, mereka bisa tidur lebih cepat."
"Itu karena aku bisa memberikan rasa nyaman untuk mereka. Aku menganggap mereka seperti anak kandungku sendiri. Itulah ramuan yang aku berikan pada mereka."
"Terima kasih, ya. Ramuanmu berfungsi dengan baik." Reyhan tersenyum pada Sera.
__ADS_1
Dia hanya tak tahu, jika Sera memang memberikan ramuan yang dikonsumsi si kembar dalam botol susunya.