Rahim Pengganti Untuk CEO

Rahim Pengganti Untuk CEO
Kenyataan


__ADS_3

"Apa-apaan ini?! Mengapa kamu malah menceraikan aku? Yang harusnya kamu ceraikan itu adalah dia, bukan aku! Semua sudah aku lakukan untukmu. Apakah ini balasan dari semua ketulusanku?" Sera berteriak di depan Reyhan dengan wajah penuh emosi dan air mata.


"Ketulusan katamu? Memberikan obat tidur pada kedua anakku agar mereka diam saat bersamamu? Agar kamu mendapatkan tidur yang nyenyak dan terhindar dari kantung mata yang akan membuat wajahmu kusam? Itukah yang kamu sebut dengan ketulusan? Atau...mengancam Aira untuk segera meninggalkan kami? Ah, atau ketulusan yang kau sebut itu adalah ketika kamu yang sebenarnya bisa hamil, tapi kamu tidak mau karena tidak ingin kehilangan keindahan tubuhmu. Dan satu lagi, apakah ketulusan yang kau sebut itu adalah niatmu untuk menghancurkan keluargaku karena dendam mamamu pada mamaku?"


Ucapan Reyhan langsung membuat Sera terkejut setengah mati. Dia diam dan mencoba mencerna semuanya. Ya, dia memang memberikan obat tidur pada si kembar. Dia juga memalsukan kemandulannya untuk menjaga tubuhnya agar tetap bagus. Dan yang utama, ibunya lah faktor utama penyebab mengapa dia mau menikah dengan Reyhan.


"Kenapa? Kamu sudah tidak memiliki alasan lagi? Kamu kira kami tidak tahu semua rencana busukmu? Sejak Aira mengabaikan anaknya, kami tahu bahwa dia pasti terpaksa melakukannya. Dan setelah kejadian malam itu, Mama memaksanya, dia akhirnya mau mengaku. Kami terus berpura-pura agar kamu percaya kalau Aira akan segera kami usir dari rumah ini. Setiap malam, Aira akan diam-diam pergi ke kamar kalian dan menyusui si kembar. Dan obat tidur yang selalu kamu berikan pada mereka, kami masukkan ke minumanmu agar kamu tidur nyenyak sampai pagi seperti keinginanmu yang tidak ingin memiliki kantung mata."


Raya menatap tajam pada Sera yang terlihat syok, lalu melanjutkan ucapannya.


"Sebenarnya kami bisa melakukan ini lebih awal, tapi kami masih menunggu hasil penyelidikan orang suruhan kami terhadapmu dan ibumu. Ternyata ibumu sama sekali tidak berubah. Dia masih menjadi monster. Sudah cukup, dulu dia mengkhianati ku. Asal kamu tahu, Sera, ibumu dan aku adalah sahabat baik sampai dia menjebakku. Merebut kekasihku yang menjadi ayahmu dengan cara berpura-pura hamil, lalu membuat semua orang membenciku dengan kejadian yang dia sabotase! Aku kira dia sudah berubah. Makanya aku mau menerimamu. Namun nyatanya, kamu sama sekali jiplakan ibumu!"


Sera menatap nanar ke sembarang arah. Tak disangka rencana yang sudah dia susun dengan matang harus berakhir seperti ini.

__ADS_1


"Kenapa? Kamu merasa kalah karena belum bisa menguasai harta Reyhan seperti keinginan awalmu?" Raya menyinggungkan senyumannya. Ini adalah hari yang sejak lama memang ditunggunya. Hari dimana dia bisa mengusir Sera yang berusaha menghancurkan keluarganya.


"Baiklah, aku ketahuan, haha. Tapi, kalian telah kalah karena setelah kemunculan Aira yang menyebabkan perceraian kita, kalian akan menerima hujatan dan kebencian dari semua orang. Aira, orang tuamu akan menjadi bahan gunjingan di tempat tinggal mereka. Itu yang kamu inginkan, kan?" Sera terkekeh seakan tak merasa bersalah.


"Silakan lakukan saja, mantan menantuku. Kami memiliki banyak CCTV di sini. Pemberian obat tidur, ancamanmu terhadap Aira, bahkan saat kamu berbicara sendiri seperti orang gila juga sudah kami rangkum jadi satu." Raya tersenyum melihat senyuman Sera yang tiba-tiba menghilang. Berganti dengan eskpresi wajah kaget sekaligus cemas.


"Sekarang tinggalkan rumah ini karena kamu bukan istriku lagi!" Reyhan mencampakkan koper yang ada di belakang pintu. Koper yang memang sudah dia siapkan. Berisikan barang-barang Sera yang sudah dia kemas sebelumnya.


Sera langsung mengambil koper itu dan pergi dengan tatapan penuh dendam. Dia tak mengatakan sepatah katapun, hanya umpatan demi umpatan yang memenuhi hatinya saat ini.


"Aira, apa kamu mau terus membina rumah tangga ini bersamaku? Aku mencintaimu, Aira."


"Aku juga mencintaimu, Mas. Aku mau tetap membina rumah tangga bersamamu. Tapi, jangan galak-galak, ya, cukup Mama saja yang galak."

__ADS_1


"Apa? Kamu sudah berani mengatai Mama galak?" Raya berkacak pinggang dan memelototi Aira.


"Iya, ampun, Ma, cuma bercanda, hehe."


"Dasar! Sudahlah, Mama mau menemani cucu Mama. Silakan nikmati waktu berdua. Hanya dua jam saja!"


Raya pun pergi meninggalkan kamar itu sambil tersenyum kecil.


"Dua jam itu waktu yang lumayan lama. Kita mulai darimana?" Reyhan mulai mengusap pipi Aira dan hendak mendaratkan sebuah kecupan di sana.


"Mas, kamu belum bisa menyentuhku sampai masa nifasku habis. Dua minggu lagi."


"Apa? Dua minggu lagi? Aku bisa gila! Pantas saja tadi Mama tersenyum. Ternyata mau mengerjai aku!" Reyhan memanyunkan bibirnya.

__ADS_1


Aira terkekeh melihat ekspresi Reyhan. Dia pun mengajak sang suami untuk keluar dan ikut menjaga si kembar. Kini, Aira bisa menyusui mereka dengan bebas tanpa takut siapapun melarang.


__ADS_2