
"Ma-maaf, Bu, saya bukan tu-tukang pijat," ucap Aira dengan tubuh gemetar.
"Mama kenal dia?" tanya Reyhan yang pertanyaannya masih belum dijawab sang mama.
"Dia ini yang pernah Mama ceritain, Rey, yang Mama salah masuk salon, tapi dia yang bikin Mama nggak jadi marah pijatannya enak," ujar Raya sambil menatap wajah sang anak.
Dia memang pernah bercerita pada Reyhan bahwa dia mendapatkan pijatan enak saat salah masuk salon. Katanya, gadis itu mirip dengan tukang pijat langganannya dulu.
"Ta-tapi saya bu-bukan tukang pi...."
"Sudah, diam kamu! Mau membela apa lagi? Jangan lupa bahwa di sini Kamu adalah tersangka karena telah ikut andil dalam kebohongan yang mereka lakukan! Memangnya pekerjaan kamu ini memang menjual rahim, ha? Mau-maunya diajak seperti ini oleh mereka!" Raya kembali memberi tatapan tajam pada Aira. Membuat gadis itu langsung terdiam dan gugup.
__ADS_1
"Maaf, Ma, kami memang terpaksa melakukannya. Tidak ada yang salah dengannya karena aku yang menawarkan kepada orang tuanya untuk melunasi hutang mereka dengan imbalan anaknya menjadi istri kedua aku dan melahirkan cucu untuk Mama," jelas Reyhan yang membuat Raya semakin emosi.
"Sudah gila, kamu, hah? Bagaimana mungkin kamu memanfaatkan kesengsaraan orang lain untuk kepentingan pribadimu? Kamu kira, setelah dia melahirkan anakmu, dia akan hidup bahagia? Bodoh, kamu, Rey! Entah dimana otak kamu!" Raya mendekati Reyhan dan menoyor kepalanya dengan tatapan kesal.
"Maafkan aku, Ma," ujar Reyhan dengan tatapan penuh rasa bersalah.
"Pusing Mama gara-gara kalian. Kalau begini, mana mungkin Mama mengusirnya. Dia sedang mengandung anak kalian! Kalau begitu, bawa dia ke rumah. Dan setelah melahirkan, jangan mencoba untuk memisahkannya bayinya. Karena bayi yang baru lahir harus mendapatkan asupan ASI dari ibunya! Mama bukan mau membelanya. Karena ada cucu Mama, terpaksa Mama harus menerimanya!"
Namun, Sera terlihat tidak terima karena Aira akan tinggal bersama mereka. Otomatis ibu mertuanya akan semakin mencoba memisahkannya dari sang suami. Apalagi, saat ini ada wanita lain yang sedang mengandung anak Reyhan.
"Dan kamu Sera! Sekarang Mama sudah membuktikan bahwa buah jatuh tak jauh dari pohonnya," desis Raya sambil menatap Sera. Itu artinya, Sera sama seperti ibunya yang dulu sering menghalalkan segala cara untuk mendapatkan keinginannya.
__ADS_1
Sudah rencana gagal, sekarang dia harus menerima kenyataan bahwa Aira akan terus menjadi madunya.
Mereka pun langsung membawa Aira ke rumah untuk tinggal bersama dengan alasan agar Raya bisa mengontrol perkembangan cucu yang selama ini dinantikannya.
Sepanjang jalan, Raya terus mengomel. Mengatakan bahwa Reyhan dan Sera adalah manusia paling payah dalam hal sandiwara. Dia adalah tipe orang yang tidak bisa dibodohi.
Begitu juga dengan Sera yang terus mendapatkan ceramah panjang darinya.
"Kamu harusnya bisa mengambil sikap. Kalau tidak mendapatkan cukup uang dari pekerjaanmu, harusnya kamu bekerja jadi tukang pijat saja! Apa kamu tidak tahu zaman sekarang bayaran tukang pijat itu mahal!"
"Ta-tapi saya bukan..."
__ADS_1
"Ya, saya tahu kalau kamu bukan tukang pijat! Tapi bukan berarti kamu tidak bisa memanfaatkan keadaan!" Omelan panjang Raya terus mengisi perjalanan mereka sampai ke rumah. Mereka hanya diam mendengarkan sampai wanita separuh baya itu puas dengan ocehannya.