Rahim Pengganti Untuk CEO

Rahim Pengganti Untuk CEO
Tes


__ADS_3

Raya dan Sera sedang nonton televisi bersama karena permintaan dari Raya. Bukan tanpa alasan. Raya ingin mengetes apakah Sera benar-benar hamil atau tidak. Karena, sampai sekarang pun dia masih belum yakin jika sang menantu sedang mengandung.


"Sera, kamu sukanya nonton apa?" tanya Raya membuka pembicaraan.


"Aku suka nonton film horor, Ma," sahut Sera yang langsung membuat Raya sedikit tertegun. Jika memang Sera hamil, pasti dia tidak akan memilih untuk menonton film horor.


"Oh ya, bagaimana perasaanmu saat bayi di dalam kandunganmu menendangmu sampai berkali-kali? Bagaimana rasanya? Sakit tidak? Mama ingin sekali merasakan tendangan dari cucu Mama," ujar Raya yang langsung membuat Sera gugup. Ini menambah daftar rasa curiga Sera.


"Oh, anu, Ma. Rasanya agak aneh dan sedikit tidak nyaman karena perutku terus bergerak. Tidak sakit sama sekali. Tapi, biasanya mereka menendang ketika aku sangat lapar," ucap Sera yang juga membuat Raya tertegun. Jawaban Sera memang tepat, seperti itulah yang dirasakan setiap ibu jika anak di dalam kandungannya menendang.


Sera bisa bernafas lega karena dia sudah mempersiapkan segala pertanyaan mengenai ibu hamil yang mungkin saja dilontarkan padanya. Dia selalu bertanya pada Aira, bagaimana rasanya jika bayi menendang di dalam perut. Tak hanya itu, dia juga menanyakan hal yang lain terkait keadaan ibu yang sedang hamil. Untung saja.

__ADS_1


"Mama jadi penasaran seperti apa mereka nanti. Kamu lahirannya normal, ya," ucap Raya dengan tatapan serius.


"Aduh, sepertinya tidak bisa, Ma. Karena kata dokter, tubuhku tidak memungkinkan untuk melahirkan normal," ucap Sera. Dia tahu kalau dirinya melahirkan normal, pasti dia tidak bisa berakting dengan baik. Mending gunakan alasan operasi saja agar tidak ada yang dicurigai.


"Sayang sekali, padahal Mama melahirkan Reyhan dengan normal. Dan kebanyakan Ibu mengatakan bahwa lahiran normal lebih cepat pulih daripada operasi. Tapi kita harus tetap mengikuti nasehat dokter. Oh ya, bisakah kamu membuatkan Mama teh?"


"Bisa, Ma, sebentar." Sera pun langsung beranjak dari tempat duduknya. Seketika Raya kembali terkejut melihat betapa mudahnya Sera berdiri. Bahkan tanpa menggunakan tangannya yang harusnya berpegangan pada badan sofa.


Dia pun segera pergi ke dapur untuk menemani Sera membuat teh. Terlihat Sera berdiri dengan perut yang ditempelkan ke meja.


Raya kembali dibuat terkejut karena Sera seperti tidak merasakan sakit sama sekali walaupun perutnya sedang tertekan pada benda yang keras.

__ADS_1


Sera yang menyadari keberadaan Raya langsung memundurkan tubuhnya. Dia memberikan teh pada Raya dengan tatapan gugup.


"Ini, Ma. Maaf lama, Mama jadi harus pergi ke belakang," ucap Sera dengan wajah pias.


"Tidak apa-apa, Sera. Terima kasih tehnya. Ya sudah, sekarang lebih baik kamu istirahat saja."


Ucapan Raya pun langsung mendapatkan anggukan dari Sera. Wanita itu langsung pergi ke kamarnya yang berada di lantai atas.


Dan lagi-lagi, Sera menemukan keanehan di mana Sera menapaki anak tangga satu persatu tanpa memegangi pinggiran tangga.


Dan dari jalannya, Sera seperti tidak memiliki beban. Tetap menapaki anak tangga satu persatu seolah dirinya hanya membawa satu orang saja, bukan tiga orang.

__ADS_1


"Aku tidak akan percaya sebelum aku menyaksikan langsung bahwa dia diperiksa oleh dokter kandungan. Lihat saja, aku akan mengikuti kalian ketika memeriksakan kandunganmu. Aku berharap kamu jujur, Sera. Karena kalau sempat kamu bohong, maka aku tidak akan pernah mengampunilah. Itu artinya kamu sama saja dengan ibumu.


__ADS_2