Rahim Pengganti Untuk CEO

Rahim Pengganti Untuk CEO
Mengikuti diam-diam


__ADS_3

Hari ini, seperti yang sudah diketahui, Reyhan dan Sera pun pergi ke rumah sakit dengan tujuan untuk kontrol kandungan.


"Ma, kami pergi dulu, ya," ucap Sera yang diikuti anggukan Reyhan.


"Kalian hati-hati, ya. Segera pulang setelah selesai kontrol kandungan. Sera pasti membutuhkan banyak istirahat," ucap Raya dengan senyuman ramahnya.


"Ya, Ma, setelah dari dokter kami langsung pulang. Kalau begitu kami pergi dulu," ucap Reyhan yang langsung membawa Sera ke dalam mobil. Mereka pun segera pergi ke kediaman Aira.


Namun, mereka bukan ingin menjemput Aira. Melainkan menemani Aira kontrol kandungan dan mendapatkan hasilnya untuk dibawa pulang. Karena dokter yang memeriksa Aira datang ke apartemen ini.


Akan lebih baik jika mereka melakukan pemeriksaan tanpa harus membuat Aira keluar dari penthouse.


Raya yang sedari tadi mengikuti mereka pun tertegun melihat kemana mereka pergi. "Hah? Untuk apa mereka pergi ke apartemen Reyhan? Memangnya ada yang tertinggal?"

__ADS_1


Dengan rasa penasaran, Raya pun mengikuti mereka sampai ke dalam. Dia pun kita pikir bahwa mereka akan pergi penthouse karena dia sudah hafal kalau Sera selalu menginginkan tempat yang terbaik.


Setelah mereka masuk lift, dia pun menunggu lift terbuka untuk bisa mengejar mereka ke atas.


Dan sesampainya dia di lantai teratas, ternyata keyakinannya benar-benar nyata. Reyhan dan Sera masuk ke dalam penthouse.


Namun, sebelum itu, dia melihat seorang dokter yang baru saja sampai. Mereka sama-sama masuk ke dalam penthouse dengan melihat ke sekitar karena tak ingin ada yang mengikuti.


Untung saja Raya berhasil bersembunyi di sebuah guci besar yang ada di koridor.


Dia pun langsung menekan password yang akan membuka pintu jika dia menekannya dengan benar. Dia masih ingat gerakan tangan Sera saat menekan password.


"Ternyata passwordnya adalah tanggal pernikahan mereka? Baiklah." Rata pun langsung masuk ke dalam tanpa membuat suara agar tidak ketahuan.

__ADS_1


Dia masih mendengar suara pembicaraan beberapa orang di ruang tamu.


Dia mencoba mengintip dan melihat ada empat orang yang sedang berbicara. Yang tiga adalah Sera, Reyhan, dan sang dokter. Dan yang satu adalah seseorang yang sedang duduk membelakanginya sehingga dia tidak bisa melihat wajahnya.


Namun, dia bisa melihat dengan jelas bahwa orang itu adalah wanita. Dirinya sudah mulai berpikiran buruk. Namun, dia akan tetap menunggu agar mengetahui tentang apa yang mereka lakukan sekarang.


Terlihat mereka mulai berbicara dan Raya pun mendengarkannya dengan seksama.


"Kalau menurut saya, sebaiknya Nona melahirkannya di rumah sakit. Karena peralatan di rumah sakit lebih lengkap daripada di sini. Saya hanya takut jika Nana kenapa-napa. Kalau masalah kontrol kandungan memang bisa kita lakukan di sini. Tapi kalau untuk melahirkan, sepertinya tidak bisa karena itu akan sangat beresiko. Apalagi, bayi yang dikandungnya kembar." Dokter perempuan itu tampak menjelaskan sambil melihat wajah Aira yang belum bisa dilihat oleh Raya.


"Kita akan mengupayakan agar bisa melahirkan di rumah sakit. Hanya saja, tidak ada yang boleh mengetahuinya, apalagi mama," ucap Reyhan dengan wajah ragu.


Raya kembali terkejut. Untuk apa Reyhan menyembunyikan kelahiran anaknya dari sang mama. Jadi benar, kalau emang ada yang sedang mereka sembunyikan? Raya rupanya masih belum menyadari keberadaan wanita yang ada di antara mereka.

__ADS_1


Hingga satu kalimat pun terucap dari bibir Sera yang langsung membuat Raya syok.


__ADS_2