Rahim Pengganti Untuk CEO

Rahim Pengganti Untuk CEO
Gapailah


__ADS_3

Hari-hari pun dilalu Aira i dengan sedikit tertekan. Dia bahkan harus sembunyi-sembunyi jika ingin melakukan sesuatu di rumah itu, misalnya pergi ke dapur, duduk di taman, atau menonton televisi di ruang keluarga. Karena televisi di kamarnya sudah diambil Ibu Reyhan yang tak ingin Aira menonton film aneh-aneh.


Namun, kali ini dia tidak berhasil melakukannya karena sang ibu mertua duduk di sampingnya sepulang dari arisan.


Mereka duduk dalam satu sofa, namun saling diam-diaman. Aira tak banyak bicara karena dirinya sedang merasa takut.


"Ini, makanlah," ucap Raya sambil menyerahkan sebungkus martabak pada Aira.


Mata Aira membulat sempurna melihat martabak yang sejak dari tadi pagi diinginkan. Dia melihat iklan martabak di internet dan bertanya pada indih di mana dia bisa mendapatkan martabak itu.


Namun, Indi tidak bisa menolong karena pelayan di rumah ini tidak diperbolehkan keluar kecuali mendapatkan izin dari Raya sendiri.


"Ini untukku, Ma?" tanyanya dengan tatapan mata berpindah-pindah. Ini adalah martabak yang sedang viral karena toppingnya sangat banyak dan menggugah selera.


"Jadi untuk siapa? Demit?" tanya Raya dengan ketus.

__ADS_1


"Hehehe, terima kasih, Ma," ujar Aira sambil menikmati martabak dengan sukacita.


"Kalau kau menginginkan sesuatu, bilanglah pada Mama. Jangan diam saja atau saat cucu Mama lahir, dia akan menjadi anak yang ileran! Apa kamu tidak tahu itu?"


"Iya, Ma, maaf, aku tidak tahu." Aira hanya tertawa cengengesan.


"Oh ya, apa benar kalau Ayah kamu terjerat pinjaman online dan hampir b*nuh diri di perusahaan Reyhan?" tanya Raya tiba-tiba.


"Ya, Ma, ayahku hampir b*nuh diri kalau Mas Reyhan tidak menolongnya."


"Dia ditipu oleh temannya, Ma. Ya, namanya Kami adalah orang yang minim pengetahuan, makanya bisa tertipu."


"Astaga, ada-ada saja. Makanya kamu kuliah bias jadi orang pinter!"


"Aku maunya kuliah, Ma. Tapi otakku kurang pintar untuk mendapatkan beasiswa. Dengan biaya, ayah tidak sanggup. Apalagi kami memiliki hutang sebegitu besar."

__ADS_1


"Lalu? Mau jadi apa kamu jika tidak kuliah? Apa kamu pikir kamu bisa hidup tenang dengan menjadi istri kedua?"


"Rencananya aku akan kuliah setelah...emmmm."


"Setelah apa? Setelah melahirkan? Kamu mau meninggalkan anakmu? Pada Sera? Kamu pikir dia itu sebaiknya kamu kira? Tidak, Aira, jangan mau dibodoh-bodohi oleh dia. Cukup Reyhan saja yang bisa dibodohi olehnya, kamu jangan."


"Kenapa, Ma?"


"Sudahlah, kenapa itu tidak penting! Yang jelas jangan pernah mendengarkan ucapan Sera! Sekarang makan martabak itu, lalu istirahat! Jangan sering nonton televisi! Ada foto Reyhan yang sebegitu besar, kamu tidak perlu melihat aktor Korea ini! Mama tahu mereka lebih tampan dari Reyhan! Tapi kan tidak bisa kamu gapai. Mengapa mengagumi yang tak bisa digapai, jika di depanmu ada yang bisa digapai!"


"Hah, maksudnya apa, Ma? Menggapai apa?" tanya Aira yang ucapan Ibu mertuanya belum sampai ke otaknya.


"Dasar telmi! Mudah-mudahan saja cucu Mama tidak telmi seperti dirimu. Sudahlah, Mama mau bersantai!" Raya pun pergi ke kamar tanpa memperdulikan Aira yang masih terbengong dengan ucapannya.


"Maksudnya menggapai apa? Oppa Lee min ho? Tentu saja tidak bisa digapai, Ma. Ah, Oppa, kapan kita bisa bertemu?" Aira masih melihat layar televisi. Sedari tadi dia Memangnya nonton serial drama aktor Korea itu di televisi. Untung saja televisi ini berlangganan aplikasi yang menayangkan drama Korea, sehingga dia bisa menikmati ketampanan aktor Korea yang sangat disukainya itu.

__ADS_1


__ADS_2