
"Jadi, kita harus membawa Aira ke rumah sakit agar bayinya bisa dilahirkan lewat operasi Caesar? Apa itu tidak terlalu berisiko? Bagaimana kalau orang-orang tahu bahwa Aira adalah istri kedua Mas Reyhan?"
Sontak pertanyaan Sera membuat Raya syok. Ternyata Sera memang tidak hamil. Yang hamil adalah wanita yang bernama Aira itu.
Dan yang yang lebih mengejutkan adalah ketika serah membuka perut palsunya.
"Ah, sesak sekali rasanya memakai ini di depan Mama. Aku hampir tak bernafas karenanya. Bagaimana denganmu, Aira? Apa kau baik-baik saja?" tanya Sera dengan tatapan penasaran.
"Aku baik-baik saja, Mbak. Kan yang asli dan yang palsu beda, hehehe."
Hampir saja Raya pingsan setelah mendapati kenyataan bahwa selama ini dia dibodohi oleh anak dan menantunya. Ternyata yang hamil bukanlah Sera, melainkan gadis yang saat ini belum bisa dilihat wajahnya oleh Raya.
Dengan geram, dia pun langsung berdiri dan mendatangi mereka.
"Oh, jadi begini tingkah laku kalian?" Raya datang dan membuat Sera kelabakan. Dia berusaha memasukkan perut palsunya lagi, namun, Raya sudah terlanjur datang dan menarik perut itu.
"Kamu tidak perlu lagi bersandiwara, Sera! Saya sudah melihat semuanya! Kamu memang sengaja membodohi saya, kan? Licik sekali otakmu!" Raya mendorong Sera.
__ADS_1
Plakkk! Sebuah tamparan pun berhasil mendarat di pipi Sera. Raya terlihat sangat murka padanya.
"Ma! Apa-apaan Mama!"
"Oh, kamu mau juga?"
Plakkk! Sebuah tamparan juga mendarat di pipi Reyhan.
"Tega sekali kalian membohongi Mama!" Raya menatap mereka berdua dengan tatapan berkaca-kaca.
Sedangkan si dokter juga terlihat panik karena bisa jadi setelah ini dirinya akan terkena masalah. Bagaimana kalau Raya melaporkan ini pada pihak rumah sakit? Bisa-bisa dia dipecat dan kehilangan pekerjaannya.
"Tapi bukan berarti harus menikah lagi dan mencari perempuan lain, kan! Dan perempuan mana yang mau dijadikan istri kedua hanya untuk melahirkan anak kalian? Apa dia sudah gila!"
Raya menunjuk Aira tanpa menoleh ke arahnya. Dia tidak tahu bagaimana wajah Aira. Sepertinya emosi membuatnya tak mau melihat wajah wanita yang sedang mengandung cucunya.
Aira menatap mereka dengan sorot mata penuh ketakutan.
__ADS_1
"Ma, ini semua sudah kami pikirkan. Tidak apa-apa jika aku punya anak dari wanita lain. Karena yang Mama inginkan adalah darahku, bukan darah Sera, kan?"
Reyhan kembali memberi pengertian pada ibunya. Namun, rupanya Raya masih tak menerima hal ini.
"Apa kalian sudah gila? Aku harus menerima anak dari wanita yang tidak jelas asal-usulnya seperti ini? Darimana kalian mendapatkan dia, ha? Dari pinggir jalan? Atau, jangan-jangan dari tempat yang tidak jelas?" Masih tak menoleh ke wajah Aira. Hanya menunjuknya saja dengan jari.
"Ma, dia dari keluarga baik-baik. Bahkan dia masih suci saat aku menyentuhnya."
Ucapan Reyhan membuat Sera sedikit terkejut. Ternyata Aira ini masih suci. Tadinya dia pikir Aira sudah tak bersegel seperti dirinya dulu. Kini ada sedikit rasa tak enak dalam hatinya.
"Apa? Masih suci? Yakin, kamu!" Langsung menoleh ke Aira. "Wanita seperti ini yang...."
Dia pun menghentikan ucapannya dan menatap Aira dengan tatapan terkejut. Begitu juga dengan Aira yang sudah menyadari siapa wanita ini.
"Ka-kamu!" ucapnya terbata-bata.
"Mama kenal?" tanya Reyhan.
__ADS_1
"Kamu! Tukang pijet di salon itu, kan?"