Rahim Pengganti Untuk CEO

Rahim Pengganti Untuk CEO
Permintaan


__ADS_3

"I-iya, aku janji nggak akan bocorin ini sama siapapun. Tapi janji jangan bilang ke yang lain," ucap Laras dengan wajah pias.


"Hai, bro, kalau hidupmu mau aman, maka jaga mulutmu atau aku akan membuatmu menjadi pemakai baju sh*p**," ucap Reyhan dengan tatapan tajam. Tentu saja Bayu langsung pucat pasi karena sepertinya Reyhan tahu bahwa dia mengkonsumsi obat-obatan terlarang.


Reyhan sendiri tahu bagaimana ciri-ciri orang yang mengkonsumsi obat-obatan terlarang. Dan Bayu jelas memiliki ciri-cirinya. Mata yang terus merah, pupil melebar, terlihat lelah, badan yang kurus kering dan kulit pucat adalah ciri-ciri pecandu obat-obatan terlarang yang umum. Karena Reyhan sendiri pernah melihat ciri-ciri seperti itu. Mantan pegawainya yang kecanduan obat-obatan hingga berakhir di PHK karena mencoba mengkorupsi obat-obatan terlarang.


Sedangkan Laras dan Aira tidak mengerti sama sekali dengan ucapan Reyhan. Mungkin mereka harus memfollow akun lambe dower supaya tidak kudet atau kurang update.


"Kamu kenapa masih pacaran sama Mas Bayu, Ras? Bahkan kamu tidur sama dia. Kalau terjadi apa-apa sama kamu terus kamu harus nikah muda, tidak sayang dengan kuliahmu? Apalagi Mas Bayu itu kan tidak bekerja. Bagaimana dengan masa depan kalian nanti?" tanya Aira dengan tatapan cemas. Dia tahu seperti apa Bayu. Bahkan dia tanpa sengaja pernah mendengar sendiri saat Bayu mengobrol bersama teman-temannya. Dia hanya memanfaatkan gadis bodoh yang mau menuruti ucapannya.


Laras memang cinta mati pada Bayu sehingga selalu memberikan apa saja yang Bayu minta. Uang, ponsel, baju baru, kendaraan, sampai paket bulanan dan kost pun Laras yang membayarkan.

__ADS_1


"Maaf, kalau soal itu mending kamu jangan ikut campur. Urusan kita hanya sekedar tutup mulut dengan rahasia kita berdua. Kalau jodoh, kita bisa apa? Lagian aku menerima dia apa adanya. Jadi aku akan menerima segala kekurangannya. Itulah yang disebut cinta, bukan malah menikahi...." Laras melirik Reyhan sekilas, tak berani melihat wajahnya karena takut.


"Sudahlah, Ai, jangan dipikirkan. Segala konsekuensinya akan ditanggungnya jika terjadi apa-apa padanya. Jangan pernah menasehati orang yang sedang jatuh cinta, sama saja kau menasehati batu. Tidak akan didengar, apalagi dilakukan."


"Tapi, Mas, dia kan...."


"Sudah, ayo kita pergi." Reyhan langsung mengajak Aira pergi dari sana.


Sedangkan Laras pergi bersama kekasihnya menuju ke rumah. Namun, mereka membeli banyak makanan untuk orang tua Laras. Meski uang Laras juga yang harus keluar, tapi dia akan mengatakan bahwa semua makanan Ini dibelikan oleh Bayu.


"Mbak, mari makan," ucap Aira berbasa-basi.

__ADS_1


Sera hanya mengangguk dan tersenyum menatap Aira yang makan dengan begitu nikmatnya. Seakan makanan yang ada di depannya adalah makanan terenak selama hidupnya.


"Makanlah, Aira, sepertinya kau ngidam makanan ini, ya." Sera menolak dengan halus.


Dia meneguk air putihnya, lalu menatap Aira yang masih menikmati makanannya. Bulir air matanya pun menetes membasahi pipinya. Membuat Aira terkejut dan langsung panik.


"Mbak, apa Mbak sedih karena aku hanya membeli satu? Aku akan kembali ke depan dan memberinya lagi, Mbak, tapi jangan menangis," ucap Aira dengan tatapan penuh kekhawatiran.


"Tidak, Aira, aku bukan menangis karena ingin seblakmu. Tapi.....sudahlah, aku tidak ingin mengganggu pikiranmu." Sera menggeleng lemah dan kembali meneguk airnya.


"Tidak, Mbak, ceritakan saja apa yang mengganjal di hati Mbak. Kalau Mbak diam, pikiranku juga tidak akan tenang." Aira memegang tangan Sera sambil menatap penuh perhatian.

__ADS_1


Sera menghapus air matanya, lalu menarik nafas panjang dan mengeluarkannya secara perlahan. Dia menatap lekat wajah polos Aira. Gadis baik yang tak tahu apa-apa dan ikut menanggung masalah mereka.


"Aira, maafkan aku harus menyampaikan ini. Tapi, bisakah kau meninggalkan suamiku setelah anak ini lahir?"


__ADS_2