
"Kamu dengar, kan, Aira? Sebentar lagi kamu akan diceraikan oleh Mas Reyhan. Jadi, aku harap mulai hari ini, kamu harus melupakan semua tentang kita. Jika bertemu di jalan, anggap saja kita tidak pernah saling kenal."
Sera sedang berbicara dengan Aira mengenai talak yang akan dijatuhkan Reyhan hari ini. Satu kata yang akan mengubah hubungan mereka menjadi mantan suami istri.
Aira hanya diam sambil mengangguk. Dia terlihat tak bersemangat lagi. Pasti karena sebentar lagi dia akan berpisah dengan kedua anaknya. Rasanya memang berat karena melakukan semua ini dengan terpaksa.
"Aku tahu, Mbak. Memang inilah yang harusnya terjadi. Mbak, Mbak janji, kan akan menjaga mereka dengan baik? Jangan pernah memarahi mereka, ya, Mbak. Mereka hanyalah bayi yang tidak berdosa."
"Aku tahu, Aira. Sesuai janjiku, aku akan menjaga mereka layaknya anak kandungku. Bukankah selama ini aku sudah membuktikannya padamu?"
"Aku tahu, Mbak, terima kasih." Aira mengangguk perlahan.
__ADS_1
"Sekarang, aku akan membantu kamu mengemasi barang-barang kamu." Sera memberikan sebuah koper besar, tempat dimana Aira akan menaruh semua barang-barangnya.
"Apa ini, Aira, kamu ingin membawa foto Arya dan Arka?" tanya Sera saat menemukan sebuah foto berukuran sedang ada di dalam laci lemari Aira.
"Iya, Mbak, aku mohon. Aku ingin sekali menyimpan foto mereka jika suatu waktu aku merindukan mereka."
"Apa? Tidak, Aira, kamu tidak boleh melakukannya. Kalau sampai ini diketahui orang lain, bisa gawat. Apa kamu memang sengaja melakukan ini agar orang-orang tahu bahwa kamu adalah ibu kandung si kembar? Aku tidak tahu ternyata kamu cukup serakah, Aira. Kamu akan mendapatkan begitu banyak harta, tapi kamu tidak mau melepaskan kedua anakmu." Sera menatap Aira dengan tatapan tajam. Seolah Aira telah melakukan kesalahan fatal hingga membuatnya sangat marah.
"Mbak, aku tidak bermaksud begitu. Aku hanya ingin menyimpan foto mereka sebagai kenang-kenangan saja. Aku mohon, Mbak, izinkan aku untuk menyimpan foto mereka." Aira berlutut di hadapan Sera dan memohon dengan penuh air mata.
"Ada apa, ini?" Reyhan yang melihat kertas berserakan berisikan foto kedua anaknya terlihat tidak suka.
__ADS_1
"Ini, Mas, dia merasa kesal dan merobek foto si kembar. Aku tidak tahu entah apa yang ada di pikirannya. Apa salah kami padamu, Aira, begitu teganya kamu merobek foto kedua anak kandungmu sendiri? Kamu tidak mau mengurus mereka, oke, aku terima! Tapi kamu tidak perlu merebut foto mereka. Ini sangat menyakitkan bagiku!" Sera mulai menangis tersedu-sedu hingga membuat Aira kebingungan.
"Bukan, Mbak, bukan itu maksudku. Aku hanya ingin...."
"Ingin apa? Kamu ingin tetap di sini agar bisa menguasai harta Reyhan, bukan? Memang dasar wanita licik! Kamu tidak mau menerima anakmu, tapi kamu tidak rela pergi dari sini!"
"Sudahlah, aku tidak mau mendengar alasanmu lagi! Memang benar bahwa aku harus menceraikanmu!"
"Sera Amalia binti Hendrawan, mulai detik ini, kamu aku talak! Kamu bukan istriku lagi!"
Bagai disambar petir ketiga Sera mendengar namanya disebut dalam ikrar talak itu.
__ADS_1
"Mas! Bagaimana kamu bisa menyebutkan namaku! Ulang, Mas, harusnya nama Aira yang kau sebut!"
"Tidak, Sera, ikrar talak ini, memang benar-benar aku ucapkan padamu. Aku menceraikanmu."