
Yanto menemui Bordo di kantor tempatnya bekerja, sesampainya di tempat Bordo ia melihat lambang bendera politik di kantor Bordo, ternyata Bordo mengikuti partai pohon kelapa, partai pohon kelapa merupakan partai kelas menengah pada saat itu.
setelah keluar dari mobil, Yanto bergegas masuk ke kantor Bordo, takut akan ada orang lain mengikuti atau melihat gerak gerik Yanto yang ingin berpolitik atau bahkan ingin mencalonkan diri menjadi pemimpin di daerah tersebut. Yanto segera menemui karyawan yang menunggu di depan ruangan masuk Bordo. "assalamualaikum", "wa'alaikumsalam" jawab karyawan Bordo, "ada yang bisa saya bantu?", tanya karyawan Bordo, "saya ingin menemui pak Bordo, ada?" tanya Yanto sambil tersenyum, "ada pak tunggu sebentar pak, saya akan memanggilnya", jawab karyawan tersebut sambil berdiri untuk menemui Bordo di ruangannya. selang beberapa waktu Bordo keluar dengan cepat menemui Yanto, dia seperti mendapatkan durian runtuh, bahkan ingin menjilat Yanto jika perlu. "ehhh pak Yanto, silakan masuk pak" seraya menyalaminya, "silakan duduk pak, oh ya.. ada perlu apa pak"? tanya Bordo dengan nada semangat, " em begini pak Bordo kita bisa membicarakan ini empat mata kan?" jawab Yanto agak gugup, "hehe baiklah, emang perlu apa pak Yanto" Bordo berdiri sambil mengajak menuju ke ruangan yang bersifat rahasia di kantor Bordo.
Setelah berbicara empat mata dengan Bordo, Yanto akhirnya mengetahui arti berpolitik dan Bordo mendukung penuh apa bila ia siap untuk mencalonkan diri, bagi Bordo sekelas Yanto merupakan pemuda yang pas untuk kepentingan kursi partainya dan bahkan ia siap menjadikan Yanto sebagai ketua partainya. Mengingat hal itu, Yanto tak terburu-buru menerimanya, ia mau berpikir dulu dan juga mempelajari arti berpolitik. Mungkin setelah mengerti dan mempelajari bagaimana berpolitik Yanto akan membuka diri untuk berpartisipasi.
__ADS_1
sudah 6 bulan mempelajari dan memahami cara-cara berpolitik akhirnya Yanto mulai membuka diri dan segera menandatangani perahunya yaitu partai pohon kelapa sekaligus menjadi ketua dari partai tersebut. Berita tentang hal itu sangat cepat beredar di tengah-tengah masyarakat, dan banyak yang berbondong-bondong mendukung Yanto untuk mencalonkan diri sebagai pemimpin di daerahnya tersebut, ini tidak lain dikarenakan prestasi dan perjuangan Yanto demi masyarakat, apa lagi pengaruhnya tentang para petani-petani yang selama ini di Lakoninya.
Mendengar berita tentang hal itu Marzuki jadi geram, ia segera memanggil tim-tim nya untuk segera merapat membentuk barisan-barisannya guna menghambat langkah-langkah Yanto atau bahkan mematikannya. Dalam dunia politik semua hal bisa saja terjadi baik dalam positif maupun negatif, perebutan kekuasaan akan di lakukan dengan berbagai cara, demi kepentingan pribadinya maupun partainya. Seperti yang di lakukan Marzuki, ia menghalalkan segala cara demi mempertahankan kedudukannya sebagai pemimpin yang saat ini di dudukinya.
Namun apapun yang di lakukan Marzuki dan timnya tak mampu melengserkan Yanto dari tekadnya, bahkan nama Yanto semakin terkenal dan dukungannya pun semakin bertambah. Pejabat-pejabat daerah pendukung Marzuki juga ikut ketar-ketir lantaran apabila Yanto jadi pemimpin tentu jabatannya akan terancam.
__ADS_1
Di hari penentuan ini membuat kedua calon pemimpin ini ketar-ketir, mereka berharap merekalah pemenangnya. masyarakat juga ikut penasaran dan menunggu hasil dari pemilihan pemimpin mereka. Apa lagi para petani-petani berharap yanto lah yang jadi pemimpin mereka lantaran kepeduliannya terhadap petani-petani.
selang beberapa waktu kemudian sekitar jam 20:00, keluarlah hasil dari pemilihan pemimpin tersebut. Hasil dari pemilihan tersebut di menangkan tipis oleh Yanto, beda beberapa ratus suara, dengan demikian harapan para petani-petani menjadikan Yanto sebagai pemimpin di daerahnya tersebut menjadi kenyataan, semua yang mendukung Yanto bersorak gembira, warga yang mendengar kemenangan Yanto berharap besar atas kepemimpinannya nanti, dengan Yanto jadi pemimpinya bisa merubah daerahnya menjadi daerah yang makmur dan ekonomi semakin kuat.
Berbeda dengan Marzuki, dengan kekalahan membuat dia terpukul, dia syok dan tak percaya dengan hasil yang di dapat, dia mengamuk sama tim-timnya, harta yang di korbankan banyak sekali, maklum Marzuki saat pencalonan nya melakukan banyak jalan pintas, semua yang laluinya mulus lantaran mengeluarkan banyak sekali hartanya. Semua orang yang mendukung Marzuki menghilang tanpa jejak, apa lagi timnya yang hanya menginginkan uangnya saja. Marzuki terpuruk sendiri, dia menjadi stres dan hampir gila dan segera cepat di bawa ke rumah sakit jiwa.
__ADS_1
Keturunan Utara yang tak mendukung Yanto keturunan selatan menjadi pemimpin di daerahnya, gempar dan tak percaya keturunan raja rejang bangkit dari tanah selatan. Banyak keturunan dari Utara berbondong-bondong menyanjung Yanto dan ingin menjilat Yanto seperti gerombolan anjing-anjing. keturunan Utara yang paling depan berpartisipasi dalam penyambutan Yanto sebagai pemimpin di daerahnya, sedangkan orang yang benar-benar mendukung Yanto menghilang dan tak mau ikut andil dalam acara penyambutannya, hanya segelintir saja yang ikut, itupun demi keamanan Yanto. Tidak lain tidak bukan, itu lantaran memang Yanto yang merencanakannya, dia pernah menyampaikan kepada tim-timnya, apa bila ia memenangkan pencalonannya sebaiknya tak terlalu menampakan diri, dikarenakan orang-orang yang penjilat akan datang paling duluan atas keberhasilannya, ia ingin melihat siapa wajah paling duluan yang sok jadi pahlawan kesiangan, yang berpura-pura aktor utama dalam keberhasilannya memperoleh kepemimpinan di daerahnya.Dan ucapan Yanto benar saja terjadi, banyak orang-orang yang tak di kenal datang duluan menggandeng dan menyalami Yanto, berpura-pura mendukung Yanto, padahal Yanto tau persis orang-orang ini, apa lagi keluarga dari keturunan Utara. Ini membuat Yanto ingin tertawa-tawa, tetapi sebagai pemimpin yang baru di daerahnya ia harus melunakkan hatinya, dan tak terlalu ingin menampakkan kebenciannya, akan tetapi dia selalu memprioritaskan orang-orang yang benar-benar mendukung perjuangannya dulu. Sebagai pemimpin bagi seluruh masyarakat di daerahnya, ia harus bersikap adil dan tak terlalu memikirkan hal yang sudah-sudah. melihat sanak saudaranya dari Utara yang bersuka ria, membanggakan diri atas keberhasilan Yanto menjadi raja baru di keturunannya hanya membuat Yanto bisa tersenyum kecil sambil menyembunyikan kebenciannya.