
Yanto membelikan 2 hektar lahan kosong di daerah pedalaman, Yanto membelikannya dengan penduduk setempat, yang harganya masih murah lantaran penduduk di daerah pedalaman relatif sedikit dan lahan pun masih banyak yang nganggur. Lahan tersebut nantinya akan di tanami sawit, Yanto merupakan sosok yang cerdas tentu ia bisa mengambil peluang dalam bertani, menurutnya sawit lah yang paling cocok untuk di tanami di daerah tersebut. Apalagi skillnya dalam hal bertani tak bisa di ragukan lagi. Sebagai penduduk yang baru di daerah tersebut, Yanto berusaha mencoba mendekati dan memahami penduduk setempat, ini tak lain di karenakan untuk mengolah lahan yang di milikinya di butuhkan beberapa orang pekerja, untuk mendapatkan pekerja-pekerja yang handal di daerah tersebut di butuhkan latihan dan pengetahuan yang cukup, di daerah pedalaman seperti tempatnya sekarang ini sangat sulit menemukan orang-orang yang benar-benar paham cara bertani dengan benar. Untuk itulah ia mencari pemuda yang siap untuk di latih cara bertani yang benar, dengan upah apa adanya.
Akhirnya Yanto menemukan lima orang pemuda yang mau bekerja dengannya, walaupun upahnya tak seberapa akan tetapi mereka yakin dengan ilmu-ilmu yang di terapkan yanto bisa mereka dapatkan, apa lagi mencari pekerjaan di daerah pedalaman memang sulit bahkan tidak ada sama sekali.
__ADS_1
Pengolahan dan penggarapan lahan yang akan di tanami sawit tersebut sudah berjalan beberapa bulan, para pekerja di ajari Yanto dengan tepat dan benar, mereka berangsur-angsur mulai memahami ilmu-ilmu yang di ajari Yanto, bagaimana cara pembibitan sawit, menanamnya dan lain sebagainya. Lima tahun Yanto mempekerjakan dan mengolah lahan yang di tanami sawit tersebut mulai menunjukkan hasil, sawit yang di tanami tumbuh dengan cepat dan hijau-hijau tanpa penyakit dan hama yang menggangu. Buahnya begitu banyak dan lebat, memang Tuhan memberikan kemudahan bagi orang-orang yang tak pernah putus asa, apa lagi sosok seperti Yanto yang mau berbagi ilmu tanpa mengharapkan apa-apa, membuat orang yang bekerja dengannya merasa senang dan tak segan-segan apa bila Yanto lagi membutuhkan tenaga mereka. Keberhasilan ini membuat penduduk di sana berbondong-bondong untuk menanam sawit di lahan mereka masing-masing. Mereka tidak segan-segan datang ketempat Yanto untuk belajar ilmu dan tehnik cara perkebunan sawit, Yanto selalu terbuka tak pernah merahasiakan tehnik-tehniknya, itulah yang membuat masyarakat kagum akan sosok Yanto ini.
Beberapa tahun kemudian Yanto berhasil sukses kembali menjadi juragan sawit di daerah tempat tinggalnya yang baru tersebut, daerah pedalaman yang dulu tak di kenal, kini berangsur-angsur banyak yang mengetahui karena akan perkebunan sawit yang luas, masyarakat di sana rata-rata memiliki kebun sawit sendiri, semuanya sudah pada siap untuk memanenkan hasilnya.
__ADS_1
Pada suatu hari, Tiwi merindukan tempat kelahirannya di daerah rejang, ia menangis pilu lantaran teringat orang tuanya dan rumah kediamannya dimana ia besar dulu, belum lagi saudara-saudara kandungnya yang tak pernah saling mengabari lantaran sudah memutuskan hubungan kekeluargaan dulu. Bagaimana bisa dengan kemiskinan dulu bisa merubah hubungan keluarganya begitu saja. Tiwi selalu mengeluh kepada Yanto untuk kembali ke daerah asalnya dulu, sudah bertahun-tahun tak pernah kembali setelah fitnah yang di tuju kepada keluarganya dulu. Melihat dan mendengar keluhan ibunya tentu saja Yanto luluh hatinya, ia ingin mewujudkan keinginan ibunya tersebut, akan tetapi kasus yang di lalui dulu belum ada kabar sama sekali, apakah sudah selesai ataukah memang pihak berwajib tidak mempedulikannya lagi. Yanto tak pernah mau mengungkit hal itu lagi, ia lebih senang tinggal di tempatnya sekarang ini di bandingkan tinggal di daerahnya dulu yang penuh dengan orang-orang yang busuk. Akan tetapi ibunya yang selalu mengeluh dan merengek kepada Yanto untuk bisa kembali ke kampung halamannya dulu, apa lagi ibunya merindukan saudara-saudara kandungnya dan rumah neneknya yang di titipkan kepada ibunya dulu, rumah keturunan raja rejang asli. Untuk hal itu Yanto mulai ingin mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menyerang balik apa yang telah orang-orang perbuat terhadap keluarganya. Belum lagi adiknya Munandar yang pangkatnya sebagai tentara sudah tinggi dan menjadi jenderal, tentu sangat siap mengusut kasus fitnah terhadap kakaknya dan keluarganya dulu. Yanto menghubungi adik-adiknya untuk pulang dan berkumpul kembali guna untuk membicarakan tentang ibunya yang ingin pulang ke kampung halamannya ini. "assalamualaikum adik ku Munandar, apakah kamu sehat-sehat saja?", Yanto menelfon adiknya Munandar yang lama tak pernah pulang lantaran tugas yang di laluinya. "wa'alaikumsalam, Alhamdulillah sehat kak" jawab Munandar. "adik kini ibu sudah tua, kakak berharap adik bisa pulang ada sesuatu yang ingin kakak sampaikan, dan juga, kamu sudah bertahun-tahun tak pernah pulang, kalau bisa sebaiknya adik segera mencari solusi perizinan untuk pulang". mendengar hal itu Munandar menjadi sedih, sudah bertahun-tahun tak pernah pulang membuat ia sangat rindu keluarganya terutama kedua orang tuanya, walupun demikian ia selalu menguatkan hatinya, sebagai seorang jendral ia tak mau menampakkan kesedihannya, lalu menjawab telefon kakaknya "baiklah kak... saya mencoba mencari solusinya dan membicarakannya dulu kepada panglima, siapa tau ada perizinannya". jawab Munandar tanpa nada keluhan sama sekali. "baiklah dik... sudah dulu,, kami di kampung merindukanmu dan kami menunggu kepulangan mu, itu saja yang ingin kakak beri tahu". "siap kak.. assalamualaikum" "wa'alaikumsalam" Yanto menutup teleponnya.
Beberapa bulan kemudian Munandar di pindahkan ke daerahnya sendiri untuk bertugas, dan menjadi jendral nomor satu di tanah kelahirannya yaitu daerah rejang. Yanto dan keluarganya hanya menunggu Munandar pulang ke kampungnya, hanya dia kunci utama untuk menyerang balik orang-orang yang telah memfitnah keluarganya.
__ADS_1
Dengan mengejutkan... barisan mobil mewah bernomor plat bintang Kuning emas berderet-deret mengiringi perjalanan Munandar, masuk ke daerah pedalaman dan berhenti tepat di depan rumah kediaman keluarga besar Yanto. Turunlah Munandar dari mobil mewah berplat bintang tiga tersebut. Dengan baju militer lengkap, di bahunya nampak bintang tiga kuning emas yang membuat orang kagum bagi orang yang melihatnya. Bandan tinggi besar dengan badan berotot, wajah nampak ganas haus akan darah, sangat menakutkan. keluarlah Yanto berjalan keluar menyambut adiknya itu, Munandar segera langsung memeluk kakak yang sangat ia sayangi dan hormati itu, bagaimana tidak, semua yang ada pada dirinya berkat dari kerja keras Yanto, tanpa Yanto Munandar belum tentu bisa menjadi seperti sekarang ini. Lalu mengajak Munandar masuk kedalam rumah, di dalam adik-adik dan kedua orang tuanya menunggu kedatangan Munandar, Munandar berlari memeluk ibunya yang lama tidak bertemu. Isak tangis kerinduan di dalam keluarga besar Tiwi dan hazam tak dapat terbendung kan. Akhirnya semua anak Tiwi dan hazam berkumpul kembali seperti dulu lagi, saling bersukacita, bercanda dan saling menceritakan pengalaman masing-masing.