
Ketika pasukan Arif menyerang, satu persatu tumbang di tangan Munandar, kemudian di susul beberapa orang menyerang secara serentak, lagi-lagi semuanya tumbang, sekitar puluhan pasukan Arif sudah tumbang, lalu Arif sendiri yang menyerang untuk melumpuhkan Munandar, akan tetapi itu sia-sia saja, arif terbanting dan menerima pukulan paling keras, mulut keluar darah, arif meringis kesakitan. melihat tidak ada lagi halangan, Munandar melanjutkan langkahnya menuju Kapolda di dalam ruangannya, akan tetapi secara tiba-tiba pasukan keluar dari dalam ruangan dengan senjata lengkap, siap untuk menembak Munandar, "berhenti, jangan melawan, angkat tanganmu keatas, dan berlutut dan menyerahkan lah" terdengar pengeras suara dari pasukan polisi yang siap menembak Munandar. Rupanya gerak gerik Munandar dari tadi memang sudah di pantau melalui cctv, melihat tindakannya yang melumpuhkan pasukan Arif, segera operator yang memantau cctv menekan tombol darurat. Munandar sudah terkepung, dengan perlahan ia mengangkat tangannya sambil menekan tombol jam tangannya, rupanya di jam tangan Munandar memiliki tombol untuk memangil pasukannya, sambil mengangkat tangannya Munandar berbicara keras" saya hanya ingin bertemu pimpinan kalian, sebaiknya kalian mundur sebelum hal buruk terjadi, saya tidak ingin ada yang terluka", mendengar nada bicara Munandar, pasukan polisi itu, semuanya ingin tertawa, mereka menyangka Munandar hanya bercanda dan membual, " jangan bercanda, kami tidak main-main, cepat menyerah lah, kamu tidak mungkin bisa melumpuhkan pasukan kami sendiri, lihat sekelilingmu, mereka menunggu aba-aba untuk menembak mu". Selang beberapa menit gemuruh suar helikopter dan tank lapis baja, dan suara sepatu prajurit Munandar, mereka di pimpin oleh Wahyu yang pangkatnya masih bintang dua di bawah Munandar. Melihat keadaan itu, pasukan polisi tersebut menyangka akan membantu untuk melumpuhkan Munandar, "hanya untuk melumpuhkan orang ini, bisa-bisanya mereka menurunkan pasukan seperti ini" gumam beberapa polisi yang menyangka itu bantuan untuk mereka. Tak lama kemudian turunlah tali dari dalam helikopter yang masih terbang rendah itu, satu persatu pasukan itu turun tepat di atas Munandar dan melingkari Munandar untuk melindunginya. Pasukan polisi tersebut mulai tercengang, mengapa bisa-bisanya pasukan itu melindungi Munandar, akhirnya Arif dan pasukannya yang masih terkapar menyadari bahwa Munandar benar-benar seorang jendral, Arif yang masih sadar walaupun terkapar berteriak dan berbicara "sebaiknya kita mundur, Munandar memang seorang jendral, cepat mundur" mendengar teriakan Arif, pasukan polisi yang bersenjata lengkap jadi gugup dan ada pula yang gemetar, sangking gugupnya, tak sengaja menekan pelatuk senjatanya kearah pasukan Munandar, dan mengenai rompi anti peluru yang di pakai pasukan munandar "duarrr", sontak dengan cepat barisan pasukan Munandar membalas tembakan itu, seraya berjalan cepat membawa Munandar ke tempat aman.Tembak menembak tak bisa di hindarkan, lantaran kesalahan salah satu oknum polisi tersebut. Suara tembak menembak terdengar di tengah-tengah masyarakat yang bermukim dekat dengan markas Kapolda di sana. Sangat mengerikan mereka seakan-akan berada di tengah-tengah peperangan.masyarakt berhamburan keluar dari rumah mencari tempat yang aman, apalagi getaran tank lapis baja mengelilingi markas Kapolda yang siap menunggu aba-aba untuk menembak dan meratakan gedung markas Kapolda itu. Sebelum jatuh korban Munandar menyuruh pasukannya menghentikan tembakan. Begitu pula pasukan polisi juga menghentikan tembakannya juga, lalu mereka menggunakan pengeras suara untuk menjelaskan kesalahpahaman itu, "tolong jangan menembak lagi, ini hanya kesalahpahaman, kita bisa membicarakan hal ini baik-baik", mendengar hal itu Munandar berteriak dan berbicara "saya sudah bilang saya ingin bertemu pimpinan kalian, jika kalian menghalangi, saya tidak akan segan-segan memerintahkan pasukan ku meratakan tempat ini", "baiklah, kami tidak akan menghalanginya, dan Kapolda memang dari tadi ada di sini untuk membicarakan masalah ini". Segera Munandar perlahan menuju tempat Kapolda berada, dengan beberapa prajurit mengikutinya. "baiklah di mana pimpinan kalian" Munandar bicara tepat di depan pasukan polisi tersebut. "saya di sini" Tamrin segera menghampiri Munandar sambil meminta maaf atas kejadian ini, dan langsung mengajak Munandar masuk. melihat kejadian yang luar biasa dan jauh dari dugaan, Arif yang masih cidera dan juga pasukannya yang terluka, tak merasakan kesakitan lagi, ini lantaran ketakutannya terhadap Munandar yang mereka hina dari awal tadi. Mereka tak menyangka Munandar benar-benar adalah seorang jendral, mereka menyesalkan perbuatan mereka, andai mereka teliti dengan identitasnya Munandar, dan mengecek kebenarannya, mungkin kejadiannya tidak seperti ini. Gara-gara keteledoran dan kesombongan mereka markas besar polisi di daerahnya hampir saja rata. Hanya beberapa saat berdiri, Arif tiba-tiba pingsan, dan akhirnya pasukannya dan dia sendiri yang di hajar Munandar sendirian tadi, segera di bawa ke RSUD guna untuk mendapatkan pengobatan, tak di sangka pukulan yang di layangkan Munandar terhadap Arif begitu keras hingga Arif harus mendapatkan pengobatan intensif. Sedang kan lokasi bekas tembak menembak menyebabkan kerusakan parah, bekas peluru banyak tertancap di didinding, mobil polisi hancur terhantam peluru pasukan Munandar, beruntung tidak ada korban jiwa. Seandainya Munandar tak menghentikan pasukannya, Mungkin akan banyak korban, Bahkan semuanya bisa mati sia-sia lantaran kebodohan oknumnya yang terlalu menyombongkan diri. Berita tentang hal ini dengan cepatnya meluas, banyak masyarakat penasaran dan ingin melihat bekas kejadian itu, bukan hanya itu banyak pula masyarakat yang senang dengan kejadian itu, ini lantaran banyak oknum-oknum polisi yang kinerjanya menyeleweng dan mengecewakan banyak masyarakat. Padahal tidak semua polisi berbuat seperti itu, itu lantaran oknum-oknum yang tak bertanggung jawab, sehingga nama polisi jadi buruk di tengah-tengah masyarakat.
__ADS_1
Selesai berbicara dengan Kapolda tentang masalah keluarganya yang ingin Munandar selesaikan itu, semua pasukan Tamrin di kumpulkan di markas besar Kapolda daerah rejang pada saat itu juga. Sedangkan pasukan Munandar segera meninggalkan lokasi, baik helikopter dan tank lapis baja yang terparkir di sana, segera memutarkan badan untuk meninggalkan lokasi.
__ADS_1
Satu persatu pasukan Tamrin mulai mencari dan membongkar siapa dalang dari kasus ini, Media yang menyebar berita palsu dulu kini mulai ketar-ketir, mereka ketakutan, seandainya polisi berhasil membongkar kasus ini, habislah hidup mereka, apalagi keluarga kardio dan anaknya wafik sebagai manajer media swasta yang pertama kali menyebar fitnah dan ujaran kebencian terhadap keluarga Yanto dulu.
__ADS_1