
Sesudah semuanya di bersihkan dan di perbaiki, rumah tua itu mulai nampak cantik dan indah dengan keunikannya tersendiri. Kini Tiwi dan anak-anaknya mulai mendekorasi tempat itu guna untuk menyambut sanak saudaranya untuk menjamunya. Yanto di tugaskan untuk pergi menyusuri di mana tempat keberadaan rumah Wak, paman dan sepupu-sepupunya. Tak lupa pula ia ingin mencari keluarga tiaksuh Wak dari ibunya Tiwi, dan bagi diri Yanto, tiaksuh adalah kakeknya. Satu persatu rumah mereka di telusuri, dan akhirnya setelah menanyai kesana-kemari Yanto menemukan rumah waknya Ardi. Sungguh memilukan kakak dari ibu kandungnya hidup dengan penuh kemiskinan, hidup di gubuk yang didingnya hampir roboh, apa lagi atap rumahnya kalau hujan akan bocor. Anak-anak Ardi pergi merantau jauh meninggalkan Ardi sendiri, dan istrinya sudah lama meninggal dunia. Yanto mengetuk pintu rumah Ardi waknya itu, waknya keluar seraya bertanya siapa anak muda yang bertamu kerumahnya itu, Yanto menjelaskan kepadanya siapa dirinya dan menyebutkan nama nenek dan nama ibunya. Sontak membuat Ardi kaget, ternyata keponakannya Yanto sudah berubah drastis, wajar Ardi melupakan Yanto ia hanya bertemu Yanto terakhir kalinya waktu berusia lima tahun dan masih kecil sekali. Ardi mengajak Yanto masuk, ia merentangkan tikar yang sudah lusuh, dan mengajak Yanto duduk. "Apa kabar Wak, mana anak-anak Wak kok ngak ada yang keluar" tanya Yanto, "anak Wak pergi merantau, untuk mencari pekerjaan, disini lowongan pekerjaan sulit untuk di dapatkan, yahhh.... Wak ngak bisa melarang niat baik mereka, Wak kini hanya hidup sendri, dan istri Wak sudah lama meninggal lima tahun yang lalu". mendengar cerita Waknya itu, Yanto tak bisa menahan kesedihan dan rasa iba terhadap kakak kandung ibunya itu, mengapa bisa keluarganya miskin seperti ini, sedangkan ia banyak memiliki usaha dan bisnis, tentu punya banyak harta. Mengapa dia tak pernah tau kalau keluarganya sendiri nasibnya seperti ini, bukankah dengan memberikan sedikit bantuan saja bisa meringankan beban mereka. Tangisan Yanto tak terbendung dan langsung memeluk waknya itu. "maafkan Yanto Wak.... Yanto tak pernah tau kalau nasib Wak seperti ini, mengapa ibu tak pernah memberi tau saya tentang ini". "ngak apa-apa, sudah nasib Wak.... Wak ikhlas, ini semua memang kesalahan Wak dulu, yang tak bisa membimbing adik-adik Wak dengan baik, Wak selalu angkuh dengan adik-adik Wak..... Wak pantas menerima semua ini" Ardi pun menangis penuh penyesalan lantaran memutuskan hubungan kekeluargaan lantaran hak warisan dulu. Padahal apalah arti harta dengan menukarkannya dengan keluarganya sendiri. "tak usah di ungkit lagi Wak, ibu dan kami sudah memaafkan Wak dan kami sudah melupakannya dari dulu", mendengar hal itu Ardi menangis sejadinya, perasaannya yang penuh penyesalan kini semakin membaik lantaran mendapatkan maaf dari keluarga yang ia sia-siakan dulu. Ardi tak pernah mengharapkan apapun, mendapatkan maaf dari adik-adiknya itu sudah cukup baginya. "Wak besok saya jemput Wak, ibu dan kami sekeluarga ingin mengajak Wak untuk berkumpul lagi di rumah nenek guna menyambungkan lagi tali silaturahmi". "tentu Wak ikut nak.... sudah lama wak menginginkan hal ini, Wak rindu sama adik-adik Wak" Ardi menjawab penuh semangat dan gembira. Tak lama kemudian Yanto pamit kepada Ardi lantaran ingin mencari keluarganya yang lain, tak lupa pula Yanto meninggalkan uang kepada waknya itu guna untuk membantu sedikit waknya yang lagi kesusahan. Beberapa waktu kemudian Yanto menemui rumah Ujang adik dari ibunya, mereka tidak begitu sulit perekonomiannya, melihat ajakan dan undangan Yanto mereka juga senang, apa lagi melihat Yanto yang sukses membuat sepupunya termotivasi dan bangga dengan Yanto. kemudian Yanto melanjutkan untuk pergi mencari kerumah waknya yang bernama Maryana kakak perempuan Tiwi. Akhirnya menemukannya, tenyata waknya Maryana juga hidup susah dan miskin juga, dan hidup sendiri juga, suami dan anak tertuanya di tangkap polisi lantaran membunuh kakak kandung ayahnya sendiri. ini lantaran ribut masalah perbatasan tanahnya yang saling klaim kepemilikannya dan berujung saling baku hantam dan merenggut nyawa saudara kandung ayahnya sendiri. melihat keadaan ini Yanto hanya bisa diam da tak bisa berkata apa-apa, ia hanya termenung dengan keadaan keluarganya seperti ini, sungguh di luar dugaannya, ia tak menyangka akan menemukan saudara ibunya dalam keadaan terpuruk seperti ini, ia malu dengan dirinya sendiri, yang tak bisa berbuat apa-apa terhadap keluarga ibunya selama ini. Maryana yang hidup membanting tulang sendiri hanya bisa menangis di depan Yanto, sambil menceritakan semua hal yang menimpa kehidupannya selama ini, Akan tetapi Yanto berusaha menenangkannya dan berkata akan membantunya semaksimal mungkin. Tak lama kemudian Yanto mengajak Waknya ini untuk pergi kerumah neneknya, untuk berkumpul seperti dulu lagi, di sana ada ibunya dan saudara-saudaranya yang menunggu kedatangannya. Tentu Maryana sangat senang dengan ajakan Yanto, dan langsung menggantikan pakaian, masuk ke mobil untuk mengikuti acar jamuan keluarganya itu. Ke esok harinya seluruh keluarga besar keturunan selatan berkumpul di kediaman rumah tua peninggalan anak raja rejang. Semua bersuka ria tak ada lagi kesedihan, tangis yang muncul, itu hanya tangis kerinduan dan kegembiraan, Yanto dan adik-adiknya tak pernah melihat ibunya segembira ini, dan juga belum pernah melihat bahwa keluarganya sebanyak dan sebesar ini. Yanto juga berpikir seandainya keluarga keturunan Utara juga ikut andil berkumpul pasti akan lebih banyak lagi. memang keturunan raja rejang sudah berkembang dan tak terhitung lagi jumlahnya, seandainya itu di kumpulkan semua hampir seperempat wilayah di daerah itu adalah keluarganya. sisanya hanya keturunan lain dan pendatang, bagaimana tidak nenek moyang merekalah yang pertama kali menginjak dan membentuk daerah itu menjadi daerah kerajaan rejang.
__ADS_1
Beberapa hari kemudian keturunan Utara mengetahui bahwa keturunan selatan mengadakan jamuan besar-besaran. Mereka marah lantaran tak di undang di acara itu, mereka menganggap keturunan selatan telah melupakan mereka, dan menganggap keturunan selatan telah memutuskan rantai kekeluargaan di bagian Utara, padahal dari dulu keturunan Utara membenci keturunan selatan lantaran miskin dan menganggap mereka tidak ada sama sekali. kini ketika mereka bersatu kembali dan mulai ingin merajut kembali tali silaturahmi yang terputus, keturunan Utara mulai mencibir dan melupakan mereka. Padahal tidak ada niat Yanto dan yang lain melupakan mereka, akan tetapi mereka sendiri yang memutuskan hubungan dari dulu. Karena merasa telah dilupakan, keturunan Utara mengutuk keturunan selatan, bahwa siapapun yang ingin mencalonkan jadi pemimpin atau menjadi raja rejang lagi di keturunan selatan maka ia tak akan pernah menang, semuanya akan tumbang dan kalah dengan keturunan Utara. Ternyata kutukan itu benar-benar terjadi, dari tahun ke tahun setiap keturunan selatan yang mencalonkan diri untuk menjadi pemimpin di daerah rejang tersebut, pasti tidak akan pernah menang dan selalu kalah hingga pada saat ini. Tak tau harus bagaimana untuk memecahkan dan menghilangkan kutukan itu, yang memimpin di daerah rejang sampai saat ini tetap keturunan Utara, sehingga keturunan Utara sampai saat ini sangatlah berjaya dan berkuasa, dari tahun ke tahun keturunan selatan berangsur-angsur pudar dan tak lagi ada yang hebat dan kuat, seperti masa-masa Yanto yang berhasil mengumpulkan kembali seluruh keturunan selatan. Apa lagi setelah kepulangan Tiwi dan hazam ke Rahmatullah, semua melupakan keturunan selatan, kini anak cicit keturunan selatan telah di lupakan dan tak tau bagaimana nasibnya, anak dari keturunan Yanto pun tak lagi di pandang. walaupun mereka mengatakan dan menceritakan yang sebenarnya tentang keturunannya, orang-orang tak akan mempercayainya dan di anggap bualan saja.
__ADS_1
Sampai saat ini keturunan raja rejang yang di ketahui masyarakat hanyalah keturunan Utara, tidak ada keturunan selatan, keturunan selatan yang pernah berjaya dulu telah di lupakan dan lenyap untuk selama-lamanya. Walaupun ada yang muncul hebat, itu hanya sebatas bagian selatan saja dan tak mampu untuk menguasai daerah rejang sampai saat ini. semua di kuasai orang-orang Utara baik menjadi pejabat dan pengusaha maupun jadi pemimpin di daerah rejang sampai pada saat ini.
__ADS_1