
Sudah dua tahun berlalu, tiaksuh belum juga menemukan obat untuk anak-anaknya itu. Uang sudah benar-benar habis, jangankan membeli obat, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja sulit. Tiaksuh sudah putus asa dan menganggap sudah tidak ada harapan lagi. Lalu ia mulai teringat akan sawahnya yang jadi jaminan hutangnya sama maryatul adiknya dulu. "Tapi tidak mungkin bisa mengambil begitu saja" pikir tiaksuh, kemudian dia mulai memutar otaknya untuk menggunakan sawah itu, ia menemui adik istrinya, meminjam uang dengan janji akan menjual sawahnya bila tidak melunasinya, adik iparnya mempercayainya begitu saja tanpa ada pegangan sama sekali, hanya menggunakan kwitansi sebagai tanda bukti.
__ADS_1
Tahun demi tahun telah berganti, adik ipar tiaksuh sedang ada kebutuhan yang mendadak untuk uang sekolah anaknya, ia harus melunasi biaya sekolahnya secepat mungkin kalau tida anaknya tak bisa ikut ujian. Adik ipar tiaksuh bukanlah orang kaya, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari hanya mengandalkan perkebunan yang tak seberapa. Di tahun ini hasil dari perkebunannya kurang bagus, malahan termasuk gagal panen. kini ia teringat atas hutang kakak iparnya dulu dan ingin menagihnya, hanya itu satu-satunya harapan. Tiaksuh memiliki enam orang anak, lima laki-laki dan satu perempuan. Dua orang anaknya sakit ngak sembuh-sembuh membuat ia syok berat. Anaknya yang tertua bernama dodoi, ia sudah berkeluarga dan memiliki dua orang anak. Dia lah yang selalu membantu orang tuanya mengobati adik-adiknya itu.
__ADS_1
"Tiaksuh......!!!! keluar kau bajingan...... kau telah menipuku, keluar kau.." mendengar teriakan itu dodoi anak tertua tiaksuh dari tadi berada di dalam membuka pintu dan keluar, "paman... ada apa?" , tanpa basa basi Mukti mulai membabi buta, siapapun yang berhubungan darah dengan tiaksuh langsung di hajar, suissssss..... pedang Mukti langsung ke leher keponakannya dodoi..,, langsung terputus, darah berceceran, tak sampai di situ, Mukti mulai mencari mangsa lain yaitu tiaksuh, tiaksuh melihat sendiri anaknya di tebas oleh adik iparnya. Tiaksuh tidak memegang senjata ia berlari menyelamatkan diri, Mukti mengejarnya, orang-orang berkerumunan menyaksikan kejadian itu, banyak orang-orang yang memberanikan diri untuk menghentikan jiwa iblis Mukti. Ada yang perlahan-lahan mendekat dari belakang untuk menangkap tangan Mukti dan melumpuhkannya agar tidak bertambah lagi korban, secara perlahan-lahan dan "tap....,," tangan Mukti yang memegang pedang langsung di tangkap, kemudian disusul yang lain memegang Mukti dan melumpuhkannya. kemudian Mukti di robohkan ke tanah, orang-orang mulai berdatangan ,ada yang memegang kaki, tangan dan seluruh badannya, kemudian kaki dan tangan di ikat, agar Mukti tak bisa leluasa bergerak. Di sisi lain anak tiaksuh dodoi yang terpenggal kepalanya di krumuni orang-orang, nampak lah istri dodoi berteriak histeris seakan tak percaya dengan kejadian ini, ia menyambungkan kembali kepala suaminya, akan tetapi tidak mungkin tersambung lagi. Darah membasahi tubuh lelis istri dodoi, air mata mengalir deras, teriakan histeris tak henti-hentinya keluar dari mulutnya. sontak suasana di dusun itu gempar, semua orang penasaran ingin melihat kejadian pembunuhan yang begitu singkat tersebut. Mukti yang tergeletak dan tak bisa bergerak karena di ikat warga hanya siap untuk di bawa polisi untuk di tangkap atas kasus pembunuhan. kemudian polisi datang karena laporan masyarakat dan mengamankan Mukti, ambulans pun menyusul untuk mengambil jenazah dodoi dan di bawa ke RSUD untuk di autopsi.
__ADS_1