
Sesuatu yang telah terjadi di suku rejang sangat menggemparkan, hampir semua orang membicarakannya, tak di sangka dodoi yang tak tau apa-apa masalah orang tuanya telah menjadi korban keganasan pamannya sendiri.Tiaksuh hanya meraung menangisi anaknya yang telah tewas secara tragis atas kesalahannya sendiri, belum lagi memikirkan dua orang anaknya yang sakit, satu gila dan satu lagi ayan. membuat tiaksuh terpukul dan ingin mati saja.
sehari setelah di makamnya dodoi bin tiaksuh, malam menjadi sunyi mencekam, orang-orang pada takut keluar, maklumlah orang-orang masih percaya takhayul dan menganggap arwah dodoi masih bergentayangan. Apa lagi keluarga Mukti, mereka memilih untuk menjauh dan bersembunyi mencari tempat yang lebih aman, takut tiaksuh akan membalas kematian anaknya. sementara Mukti telah di tahan polisi dan di vonis hukuman 20 tahun penjara atas kasus pembunuhan.
sementara di Bengkulu, Syahri mendengar berita itu dan ia tertawa lepas, "itu azab bagi orang-orang yang telah menghancurkan rumah tanggaku, rasakan itu"Syahri berbicara dalam hatinya dengan ekspresi geram.
Gemuruh suara ombak, angin sepoi-sepoi bertiup lembut menyentuh kulit, matahari mulai ingin terbenam memunculkan jingga merona membuat siapa saja ingin menikmati waktu santai di pinggir pantai panjang. Duduklah Tiwi dan adiknya Suckar anak dari ibu tirinya tetapi sedarah karena memiliki satu bapak, Suckar sudah berusia tiga tahun, Tiwi mengajak adiknya jalan-jalan santai di karenakan memang dia di suruh menjaga Suckar lantaran ibunya mau memasak dan mengurus adik-adiknya yang lain. Tiwi sudah menjadi gadis cantik, pendidikan sekolahnya sudah selesai hanya tinggal menunggu kelulusannya saja. jika lulus ia ingin pulang ke kampung untuk mencari kerja dan mengabdi di kampungnya saja, membantu ibunya yang lama tidak bertemu hampir lima tahun.
Ardi kakak tertua memikir adik-adiknya sudah pada dewasa semua. ia mulai memikirkan hak warisan dan mendahuli adik-adiknya, ia ingin meminta warisan sebanyak-banyaknya kepada ibunya maryatul di kampung. mumpung adik-adiknya belum mengerti apa-apa tentang hak waris dan belum pulang semua dari Bengkulu.
__ADS_1
maryatul memang keturunan raja rejang, tetapi hak waris yang di berikan kepada dia termasuk sedikit di bandingkan kakak dan sepupu-sepupunya yang lain. Nenek maryatul adalah raja rejang yang di kenal dengan sebutan PENGIRAN. PENGIRAN memiliki 3 anak, dua di Utara dan satu di selatan, kebetulan nenek maryatul berada di selatan bernama SRATAN biN PENGIRAN. di selatan harta raja rejang Tek begitu banyak, maka cukup untuk satu anaknya SRATAN dan keturunannya nanti, sratan memiliki enam orang anak, satu di antaranya ayah dari maryatul bernama BIRAUNURDIN bin SRATAN, ia sudah meninggal. warisan yang di berikan kepada maryatul 2 hektar sawah, 5 hektar perkebunan dan 10 ekor kerbau.Nanti ini akan di bagi empat orang anaknya secara adil , yaitu : Ardi, Maryana, Tiwi dan Ujang. ini cukup untuk ke empat anaknya jika pandai mengolahnya.
Nah di sini lah keturunan raja rejang selanjutnya akan menjadi keturunan termiskin, dikarenakan anak maryatul melakukan kesalahan besar dan juga kesalahan kakak maryatul tiaksuh yang menghabiskan hampir setengah harta di selatan.
Ardi datang ke ibunya maryatul, dia meminta hak warisannya untuk di ambil, ibunya memberikan 1 hektar sawah dan 1 hektar kebun. Ardi menjualnya karena ia tak bisa mengolahnya, tapi maryatul tak terlalu mengambil tindakan dan menegur Ardi atas tindakannya. Ardi tak pernah bekerja keras, dari hasil menjual hak warisnya lah ia hidup, makan tidur, sampai uangnya habis. kemudian dia datang lagi ke maryatul ibunya untuk minta tambahan lagi hak warisnya di karenakan ia ingin menyekolahkan anaknya tinggi-tinggi nanti. Maryatul tak memarahinya dan memberikan 3 hektar kebun.
Kini maryatul hanya memiliki kurang dari 1 hektar sawah dan 1 rumah tempatnya tinggal. untuk d berikan ke Tiwi dan Ujang jika ia telah tiada nanti.
Tiwi telah pulang ke kampung, dia di kenal wanita tercantik di kampungnya dan menjadi bunga desa. ia tinggal bersama ibunya, benar saja ia hanya ingin membantu ibunya di kampung dan mengajar di sekolah SD sebagai guru suka rela. Tiwi lama tak bertemu ibunya membuat ia ingin menjadikan ibunya ratu sebagai ganti kerinduannya bertahun-tahun dulu. Apapun semua di kerjakan ia sendiri, masak, nyuci piring, nyuci pakaian bahkan mengolah sisa sawah yang sudah di bagikan ke kakaknya itu. ibunya hanya di suruh duduk manis saja, tanpa perlu pusing memikirkan hal yang lain.
__ADS_1
Hanya beberapa tahun kemudian Ujang juga pulang dari Bengkulu dan tinggal bersama kakak dan ibunya juga. kini anak-anak maryatul telah kembali semua dan berkumpul lagi seperti dulu lagi. hanya saja anak-anaknya sudah besar semua, dua sudah menikah dan dua masih gadis dan juga perjaka yang gagah.
Tak lama kebersamaan itu, kini tiba jodoh tiwi, ia di pinang pria gagah bernama hazam, hazam anak petani biasa, ia bekerja sebagai Tukang bangunan. Tak lama kemudian sebelum menikah dengan hazam, Tiwi berhenti jadi guru suka rela dan memilih untuk ikut hazam bila sudah menikah nanti.
sebulan kemudian Tiwi sudah menikah dengan hazam dan berlangsung meriah tanpa halangan apapun.
setahun menikah dengan hazam, ternyata nasib berkata lain, bukannya hidup senang malahan hidup semakin sulit apa lagi sudah memiliki momongan 1 orang anak. hazam sebagai tukang bangunan sering mendapatkan borongan bila ada yang mau membangun rumah, tapi akhir-akhir ini tak ada yang datang untuk membangun rumah, membuat hazam harus membanting setir untuk bertani dan berternak saja di sawah. Tiwi meminta untuk mengolah sawah ibunya dan hasilnya bagi dua, kini Tiwi, hazam dan anaknya tinggal di pondok persawahan milik ibunya untuk beternak ikan, ayam dan menanam padi.
sudah lima tahun kemudian, Tiwi mendengar ibunya maryatul telah pulang ke Rahmatullah, Tiwi syok mendengar berita itu ia di jemput dari sawah tempat tinggalnya itu, untuk melihat terakhir kalinya wajah ibu yang sangat ia sayangi itu sebelum di makamkan. seluruh keluarga berkumpul di rumah adat rejang, yaitu rumah keluarga besar BIRAUNURDIN bin SRATAN untuk melayat maryatul anak keduanya, seluruh keturunan raja rejang baik Utara dan Selatan hadir di pemakaman itu. keluarga dari Utara rata-rata banyak yang masih kaya-raya mobil berderet dari keturunan Utara, hanya dari selatanlah hidup penuh kemiskinan. selesai pemakaman maryatul, seluruh keluarga berkumpul lagi di rumah adat raja rejang keturunan selatan. keturunan Utara melihat keadaan keturunan selatan yang tragis mulai menyombongkan diri.
__ADS_1