Rantai keluarga yang terputus

Rantai keluarga yang terputus
Rantai keluarga yang terputus bab 15


__ADS_3

Setelah kepulangan Munandar, kini tiba saatnya Yanto membuat ancang-ancang, tim kepercayaan yanto dulu satu persatu di panggi Yanto dari kampung mereka masing-masing, untuk berkumpul di rumahnya di daerah pedalaman, Yanto memberi alamatnya, mereka dengan cepat bergerak menuju tempat keberadaan Yanto untuk berkumpul kembali. memang tim Yanto yang ini tak pernah berkhianat dengan Yanto, mereka memang dari dulu di tolong dan di beri pekerjaan oleh Yanto dari nol, tentu dengan berterimakasih saja tak kan mampu membayar kebaikan Yanto terhadap mereka dulu, mereka sangat menghormati Yanto, isu fitnah yang di lakukan terhadap Yanto dulu membuat mereka ikut kena imbasnya, mereka semua ingin membalas perbuatan-perbuatan orang-orang yang memfitnah Yanto dan keluarganya tersebut.

__ADS_1


kini semua sudah berkumpul, saatnya mereka membentuk barisan dan strategi-strategi untuk membalas perbuatan orang-orang yang telah menjatuhkan martabat keluarga Yanto dulu.

__ADS_1


Untuk memulai pembalasannya, hanya Munandar yang bisa dengan mudah masuk paling duluan, apa lagi ia seorang jendral dan bertugas di daerah tersebut, ia memiliki pasukan dan prajurit yang siap mengikuti perintah sang jenderal. Di hari pertama munandar masuk ke daerah tanah kelahirannya, ia menyamar seperti masyarakat biasa, ia tidak langsung menuju markas barunya, markas barunya di titipkan ke prajuritnya, ini guna untuk menyembunyikan identitasnya untuk menyamar, dan guna untuk mendapatkan informasi dengan mudah.

__ADS_1


Hari sudah pagi, menunjukkan pukul 8:00, kini tiba saatnya Munandar beraksi, dengan sepeda motor bututnya ia berangkat menuju kantor kapolda untuk menanyai laporan kakaknya dulu, sesampainya di gerbang, ia di hadang oleh penjaga yang bertugas di Kapolda tersebut, "selamat siang pak, ada yang bisa kami bantu" jelas polisi yang bertugas itu, "saya ingin menemui kepala satuan kalian, ada yang perlu saya sampaikan" jawab Munandar dengan hormat, melihat kondisi Munandar yang Kumal, membuat polisi sinis melihatnya, mereka berpikir tidak mungkin orang ini bisa dengan mudah bertemu dengan Kapolda, "maaf pak kalau ada yang perlu di laporkan sebaiknya bapak laporkan ke kami dahulu", sahut polisi yang bertugas tersebut, "ini masalah serius, saya harus bertemu pak Kapolda guna membicarakan laporan saya ini, sebab laporan ini sudah lama masuk tapi tidak selesai-selesai" jawab Munandar dengan tenang. "kalau begitu tunjukan berkas laporan bapak, biar kami yang mengurusnya", polisi itu meminta berkas kepada Yanto sambil menatap ganas, "berkas saya sudah lama saya berikan ke atasan kalian" jawab Munandar, "kalau begitu tunjukan identitasmu", jawab polisi itu sambil menghampiri Munandar. kemudian Munandar mengeluarkan kartu identitasnya, mereka kaget dengan identitas Munandar, lalu mereka menyuruh Munandar untuk masuk ke pos penjagaan.Ternyata mereka tidak mempercayai identitas Munandar sebagai jenderal, dan menganggap Munandar memalsukannya. Tanpa memeriksa dengan teliti, polisi yang bertugas itu ingin langsung membawa Yanto untuk di interogasi lantaran di duga memalsukan identitasnya. Tentu saja Yanto tidak mau dan memberontak, "itu identitas asliku, dan saya tidak melakukan pemalsuan" jawab Munandar kesal, "hahahah baik jendral, sebaiknya jendral ikut kami, sebelum kami mengambil tindakan tegas" jawab salah satu oknum polisi tersebut dengan nada yang sombong, dan yang lainnya juga ikut tertawa. kemudian tiba-tiba datang komandan mereka " ada apa?, kenapa dengan orang ini" tanya komandan mereka sembari mendekati Munandar. Ternyata komandan polisi itu adalah teman Munandar waktu sekolah dulu, ia melihat kondisi Munandar yang Kumal dan seperti orang miskin itu tertawa terbahak-bahak " hahah ini beneran kamu Munandar?" tanya Arif sambil tertawa dan menepuk pundak Munandar, Munandar merasa senang melihat temannya dulu, yang menghampirinya dan ikut tertawa juga " hahah hei kawan kamu sudah jadi komandan di sini?", lalu Arif dengan bangga menjawab " ia tentu saja, dan kamu menjadi orang tak berguna ya, hahah". "ngapain sampah sepertimu kesini, mau cari penyakit ya?, tak ku sangka keluargamu yang sempurna dulu menjadi miskin" Arif mulai menghina Munandar, ia tak tau sedang berhadapan dengan singa yang siap menerkam dan menelan mereka hidup-hidup.

__ADS_1


"sombong sekali kamu Arif, bukankah kita berteman akrab dulu, kok kamu berubah begini" sahut Munandar seakan tak percaya teman akrabnya waktu kecil bisa berbicara seperti itu kepadanya. "alahhh ngak usah banyak omong", lalu Arif mulai menanyai kepada anggotanya apa yang terjadi, lalu dengan keras dan lepas ia tertawa" hahahah" semua anggota pasukannya pun ikut tertawa terbahak-bahak, "mau jadi jendral kamu pecundang hahah", Arif tak henti-hentinya tertawa, Arif dulu memang teman Munandar dari kecil sebelum ia pindah ke daerah pedalaman, arif anak dari pembantu di rumah Munandar dulu, tetapi keluarga Munandar menganggap mereka sebagai keluarga, di karenakan keluarga Munandar terjatuh, akhirnya keluarga Munandar menyuruh mereka untuk pindah dan mencari pekerjaan di tempat lain." apa maksudmu Arif, saya benar-benar seorang jendral, memang kenapa?" Munandar mulai geram, tentu ini membuat tertawa mereka semakin keras, "hei Munandar, jangan terlalu tinggi impianmu, lihatlah akibatnya, hahah, dulu memang keluargamu kaya, tapi sekarang keluargamu bukan siapa-siapa, semua orang tau kebusukan keluargamu, kini begini saja, saya akan menolongmu, sebaiknya kau keluar dan pergi dari sini dan jangan membawa hal konyol ke sini lagi,, cepat sebelum saya berubah pikiran" Arif menyuruh Munandar pergi sembari tertawa tak henti-hentinya. "saya tidak peduli dengan kalian, saya tetap ingin menemui Kapolda segera", Munandar lalu merebut kartu identitasnya di tangan salah satu petugas penjaga dan langsung berjalan ingin menuju tempat Kapolda berada, melihat hal itu, tentu saja Arif dan pasukannya menghentikannya dan ingin melumpuhkannya, sebagai seorang jendral itu hal yang biasa baginya, jangankan menghadapi satu pasukan, ratusan pasukan pun tak mungkin mengalahkan Munandar.

__ADS_1


__ADS_2