Rantai keluarga yang terputus

Rantai keluarga yang terputus
Rantai keluarga yang terputus bab 8


__ADS_3

Dengan perlakuan adiknya itu, Ardi jadi memanas dan mukanya memerah marah bercampur malu. Tangannya menggenggam, gemetar, tak di sangka adiknya bisa berkata sekeras itu. "kalau kamu ngak bisa membantu ngak apa-apa, saya bisa mencari bantuan ketempat lain, baiklahhhhh...!!! saya akan pergi, tapi ingat dengan kata-katamu", ucap Ardi. "pergi saja..... dasar penjilat..... rakuss!!!, jangan pernah datang lagi", Tiwi berteriak keras. Dengan teriakan tiwi hazam suami Tiwi sedang sedang membajak sawah cepat-cepat berlari kepondok, "ada apa Mak Yanto?", tanya hazam, "ngak apa-apa cuman kakak tak tau malu ini mau ngutang" jawab Tiwi dengan mulut jutek. "maaf kak Tiwi emang begini orangnya"sahut hazam sama kakak iparnya Ardi." ngak apa-apa, saya akan pulang", tanpa hasil apa-apa Ardi pulang dengan rasa penghinaan dari adiknya sendiri. Hazam merasa Tiwi terlalu berlebihan terhadap kakaknya sendiri, "itukan kakak kamu, mengapa kau perlakukan seperti itu" jelas hazam kepada Tiwi, "ngak apa-apa bak Yanto, dia pantas mendapatkannya" jawab Tiwi dengan nada geram. hazam hanya terdiam dan lalu masuk ke dapur untuk makan dan minum.malam berdenging, suara kodok dan jangkrik begitu ramai, kira-kira pukul 20:00."oh ya ibu saya sudah tua, saudaraku menyuruhku pulang agar menjaga dan merawat ibu di dusun, kita semua akan pindah ke dusun di rumah ibuku, apa kau mau Mak Yanto?", "kan saudaramu yang lain ada, mengapa kita yang harus mengurusnya, jangankan mengurus ibumu, untuk kita sekeluarga aja kita sulit" jawab Tiwi dengan lembut sama suaminya hazam. "ia saya sudah mempertimbangkan itu, tapi ibu saya memaksa saya yang mengurusnya, tak mungkin saya menolaknya" sahut hazam, "ya sudah kalau begitu saya punya syarat kalau mau pulang ke kampung ngerawat ibu" "hahaha apa itu?, kok pakai syarat segala" hazam tertawa."kita ini sedang susah bak Yanto, nanti kalau seandainya kita tak mampu merawat ibu, tak mampu memberikan yang terbaik buat ibu, saya takutnya nanti saudara-saudaramu marah sama kita, bilang kita tidak becus dan hal lain sebagainya". Tiwi menjelaskan dengan lembut pada suaminya, terus ia melanjutkan pembicaraannya, " belum lagi seandainya kita sudah lama di sana, tidak mungkin kita membiarkan rumah tua ibu kita rusak lantaran termakan usia, pasti kita harus memperbaikinya dan itu butuh biaya, seandainya kita di usir dari rumah itu, kan sia-sia uang yang kita korbankan itu, untuk dari itu sebaiknya hak kepemilikan rumah dan biaya untuk merawat ibu sebaiknya di wariskan sama kamu, biar kita ngak terlalu terbebani, itu saja syarat dari saya bak Yanto". "ohhhh jadi minta hak waris ni yeee.. hehe" hazam tersenyum sambil bergurau, "pemikiran kita persis sama, itu sudah saya bicarakan sama saudara-saudaraku, mereka setuju, tenang saja, kamu setuju kan?""kalau begitu saya setuju hehe"Tiwi senyum dan merasa tenang. "oh ya tiga hari ini siapkan barang-barang kita untuk berkemas, kita akan pindah ke dusun" hazam menyambungkan. "bagaimana dengan usaha kita di sini?, ditinggalkan begitu saja gitu?" tanya Tiwi, " nanti saya ngulang dari dusun aja, ngak apa-apa kalau rezeki ngak kemana" sahut hazam. "ya udah sebaiknya kita tidur sudah malam" hazam menarik selimut dan langsung menutup matanya.


tiga hari berikutnya hazam dan Tiwi sudah pindah ke rumah orang tuanya untuk merawat ibunya yang telah masuk usia lanjut.

__ADS_1


sepuluh tahun tinggal di rumah orang tuanya, belum ada kemajuan dalam perekonomian keluarga hazam, mereka sudah memiliki enam orang anak, malahan semakin sulit, belum lagi ibunya yang sudah tua sering sakit-sakitan, biaya ke sana-kemari untuk berobat cukup menguras kantong mereka. pendapatan sebagai buruh tani tak seberapa, lahan orang tua yang di garap hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari.


mengingat usia orang tua hazam sudah semakin tua kesehatannya pun semakin melemah, bahkan untuk makan pun ia tak mampu mengambil sendiri butuh orang lain yang menyuapi. Pukul satu malam hujan lebat dan petir bergemuruh, kesunyian yang pekat hanya terdengar rintikan hujan dan gemuruh. Lalu tiba-tiba terdengar teriakan dan tangisan dari bilik rumah hazam, semua tetangganya yang mendengar teriakan dan tangisan sayup-sayup itu lalu keluar dan bertanya-tanya apa yang terjadi di saat hujan lebat ini. Ternyata kakak hazam yang menginap untuk menjaga ibunya itu yang menangis keras, lantaran kedapatan ibunya sudah tidak bernyawa lagi di tempat tidurnya. ia sudah meninggal lantaran sakit yang sudah lama di deritanya, kini keluarga hazam telah berduka atas kepulangan ibunya ke Rahmatullah. semua tetangga dan kerabat terdekat mulai ramai untuk melayat ibunya hazam, dan akan di makamkan kan besok di TPU terdekat.

__ADS_1


Begitu juga Tiwi di mulai dari permusuhan dengan Ardi, kemudian Ardi menghasut adiknya Ujang dan Maryana untuk menjauh dari Tiwi karena tidak menganggapnya sebagai kakaknya lagi. kini Tiwi dan hazam seakan tak punya keluarga lagi, semua orang menumpukkan beban kepada mereka kemudian menyalahkan kesalahan semua kepada mereka.


Yanto anak tertua hazam dan Tiwi, Yanto adalah anak yang cerdas dan pintar, sebelum masuk sekolah, ia sudah pandai menulis dan menghafal huruf abjad. ia memang unik dan memang berbakat, dari SD sampai tamat SMA ia selalu mendapat juara umum. uniknya saat sekolah ia selalu mempelajari pelajaran di atas pelajaran kelasnya sendiri. misalnya ia kelas 1, dia mempelajari pelajaran kelas 2, saat kelas 2 dia mempelajari kelas 3 begitulah seterusnya sampai ia lulus SMA. Melihat potensinya yang begitu bagus dan sangat cerdas Yanto mendapat beasiswa untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi. Tentu sebagai orang tua Tiwi dan hazam sangat bangga dengan anaknya, mengingat dirinya orang miskin tak mungkin bisa membiayai pendidikan yang lebih tinggi.

__ADS_1


__ADS_2