
Semua itu tidak bisa berjalan dengan mulus, apa bila tidak banyak yang terlibat. Dalam kasus ini tentu banyak sekali yang terlibat, baik media, maupun pejabat-pejabat daerah pada masa itu. Akan tetapi untuk mengungkap kasus ini hingga ke akar-akarnya di butuhkan banyak pihak dan membutuhkan waktu yang lama. penelusuran di lakukan pertama kali tentunya media-media terkait yang telah menyebarkan berita pertama kali. Media pertama kali menyebarkan Berita tersebut tentu tidak mudah mengaku dan berbicara yang sebenarnya terjadi, apalagi media swasta yang dipimpin wafik sendiri. Akan tetapi polisi tetap akan memaksimalkan pencarian barang bukti dimedia swasta tersebut. Melihat gerak-gerik mereka polisi mencurigai bahwa ada oknum tertentu yang telah menghambat proses penyelidikan, ini guna untuk menghilangkan dan melenyapkan barang bukti. Segera polisi mengambil tindakan untuk mengambil alih perusahaan media swasta itu, wafik selaku manajer di sana berdalih dan tak mau perusahaannya di obrak Abrik oleh polisi dengan berbagai macam alasan, akan tetapi ini semakin menambah kecurigaan polisi tersebut. Untuk menghentikan itu, wafik lagi-lagi berfikir untuk membuat berita untuk memperkeruh keadaan. Ia memberitakan bahwa polisi telah mengambil alih media secara paksa untuk kepentingan mereka, tindakan polisi yang mengobrak abrik ini dilakukan seperti koboi dan preman jalanan. padahal polisi memang hanya menjalankan tugas, dan tindakan mereka mengambil alih media swasta tersebut guna untuk penyelidikan lebih dalam, apa lagi ada kecurigaan polisi terhadap salah satu oknum media ini yang pertama kali menyebar fitnah dan ujaran kebencian tersebut. Mendengar berita tersebut masyarakat menjadi geram terhadap tindakan polisi, apa lagi baru-baru ini mereka di serang tentara lantaran tindakan dan aksi koboi salah satu oknumnya. Ini semakin sulit untuk mengungkap dan memecahkan kasus ini. Munandar yang mendapati berita ini semakin penasaran, ia bertanya-tanya atas kebenaran berita ini, untuk mengetahui yang sebenarnya ia langsung menelpon Kapolda. Kapolda menjelaskan secara detail tentang hal ini kepada Munandar dan berita mengenai itu semua tidak benar, mereka melakukan hal itu guna untuk penyelidikan, apalagi mereka mencurigai media ini. Munandar langsung mengerti, memang benar sepertinya media inilah yang telah memfitnah keluarganya, untuk memastikannya sendiri Munandar membuat timnya sendiri untuk bermain di balik layar. Ia juga menelepon kakaknya Yanto guna menuruni timnya juga yang telah lama menunggu aba-aba Munandar. Kini baik polisi, tim Munandar dan tim kakaknya Yanto turun menyelidiki kasus ini, tentu ini tidak akan ada celah bagi pelaku untuk menghindar lagi, kecuali menyerah dan bertanggung jawab, kemudian meminta maaf kepada keluarga yang telah di fitnah tersebut di publik, biar semua masyarakat tau kebenarannya. Munandar memulai penyelidikannya dengan menyuruh timnya menangkap wafik secara diam-diam, untuk menyuruhnya berbicara secara paksa. Wafik baru saja pulang dari tempat bekerja seperti biasa, ia tak tau kalau ada orang yang mengikutinya, mereka membututi wafik sampai di mana rumah tempatnya tinggal. Lalu mereka menelfon Munandar guna untuk memberikan aba-aba kepada mereka, "jendral, kami sudah berada di rumah target, segera berikan perintah", " tunggu dulu, tunggu waktu malam, jam 23:00 target harus ada di sini" jelas Munandar dengan tegas di telpon, "baik jendral" jawab prajuritnya dan langsung mematikan teleponnya. Begitu pula tim kakaknya Yanto juga beraksi, mereka membawa reporter ternama dari pusat, dan juga membawa direktur sekaligus pemilik media terbesar di daerahnya saat itu, maklum pemilik media terbesar itu teman Yanto waktu masih bekerja di perusahaan perdagangan dulu, ia tak tau berita palsu yang menimpa kawan lamanya itu, wajar saja selama ini ia berada di luar negeri guna mengembangkan bisnis.
Tepat pukul 23:00 para pasukan Munandar tiba di tempat rahasianya, membawa tahanan yang di culik nya tidak lain yaitu wafik menejer dari media swasta yang pertamakali menyebar fitnah terhadap keluarganya. begitu pula tim Yanto juga berada di sana lebih awal, seraya menyiapkan kamera tersembunyi, guna mengintrogasi kan wafik. wafi yang dari tadi pingsan lantaran di bius, di bawa dengan cepat ke dalam ruangan khusus dan di ikat di kursi. Tak lama kemudian wafik sadar, mulutnya di tutupi Laban hingga dia tak bisa berbicara apa lagi berteriak. "tak....tak...' suara sepatu dari luar ruangan berbunyi, kemudian terdengar suara orang yang membukakan pintu, lalu muncul tepat di depan wafik. kemudian mengalihkan pandangannya ke kursi yang kosong yang beberapa meter, kemudian menyeretkan kursi itu dan duduk tepat di depan wafik, wafik yang tersadar jadi ketakutan dan gemetar seraya mulutnya berdecit mau berbicara, akan tetapi Laban menutupi mulutnya." Kau tau siapa saya?" Munandar mulai bicara, "kau tau mengapa kau di sini?" Munandar melanjutkan pertanyaannya, "oh iya saya lupa melepaskan penutup mulutmu" srekkkkk.... suara Laban yang di lepaskan Munandar dari mulut wafik. "ka....kamu siapa?, mengapa aku ada disini, kamu mau apa?" wafik berbicara ketakutan, ia serasa akan di bunuh orang ini. pakkk....pukkk...pakk...., Munandar memukul pipi wafik, "kamu tidak mengenal aku ya, baiklah aku adalah Adik Yanto yang kau fitnah dulu... ingatkan?" mendengar nama itu wafik jadi lebih ketakutan, "lepaskan aku, aku tidak tau apa-apa, dan aku tidak tau apa yang kau bicarakan". "sudahlah mengaku saja, sebelum kau ku hajar", Munandar tegak dari tempat duduknya, ia berjalan menuju tas peralatan di atas meja, dan mengeluarkannya satu-satu. pertama-tama ia keluarkan pisau dan tang, kemudian mendekat lagi menuju tempat wafik yang di ikat. "jika kamu tidak mau mengakuinya, saya akan potong jarimu satu persatu"," cepattttttt!!!!! teriak Munandar dengan keras, sontak membuat wafi terkencing-kencing mendengar teriakan Munandar, sebagai seorang jendral ia sudah terbiasa menyiksa tahanan, tahanan yang ia interogasi kan pasti akan mengakui kesalahannya. "cepatlahhhhh....!!!, saya tidak akan bertanya lagi", seraya meletakkan pisau di jari telunjuk wafik. "jaaa... jaaangan... tuan, saya akan mengakuinya, tapi jangan siksa saya" wafik mulai angkat bicara " baiklah... selagi kau berkata jujur saya tidak akan menyakitimu, sekarang katakan yang sebenarnya" Munandar berdiri di depan wafik sambil menunggu ucapan wafik. "baiklah saya mengakui nya, memang fitnah dan ujaran kebencian itu saya yang buat bersama karyawan saya, ini perintah dari pejabat-pejabat pada masa itu, saya hanya membuat dan mencetaknya saja, videonya di dapatkan dari oknum pejabat dan mereka sendiri merubah dan mengeditnya", wafik mengakuinya sambil menangis ketakutan, "kalau begitu siapa nama pejabat itu, cepat.....!!" lagi-lagi Munandar berteriak ganas lantaran mendengar pengakuan wafik itu. "namanya pak Sudir tuan, ia menjabat sebagai pemimpin di daerah ini saat ini, ia memang ingin menjatuhkan pak Yanto dan ingin merebut kursi kepemimpinan pak Yanto dulu tuan". mendengar hal itu, kini Munandar mulai mengerti mengapa kasus ini sulit untuk di selesaikan, sebab akan banyak yang terlibat dalam kasus ini, terutama pejabat-pejabat di daerahnya tersebut. Dulu Sudir menjabat sebagai wakil pimpinan daerah pada masa Yanto yang memimpin. Tak di sangka ia adalah musuh dalam selimut, demi kekuasaan ia rela melenyapkan Yanto teman seperjuangannya sendiri.