Rantai keluarga yang terputus

Rantai keluarga yang terputus
Rantai keluarga yang terputus bab 7


__ADS_3

Di Utara memang harta raja rejang berlimpah, ngak sebanding dengan yang di selatan, kalau di kalkulasikan, satu banding sepuluh. Apa lagi di selatan banyak sekali yang di jual, tak mampu mengolah dengan baik dan pembagiannya pun benar-benar tidak adil. Wajar di selatan keturunannya makin lama makin miskin. Berbeda dengan yang di Utara, sebagian hartanya di olah dengan baik. melihat keadaan keturunan selatan begitu Kumal dan miskin keluarga dari Utara merasa jijik dan menganggap seakan-akan ini bukan dari kalangan keluarga raja rejang. selesai pemakaman maryatul seluruh keluarga dari Utara bergegas meninggalkan keluarga selatan dengan perasaan jijik dan tak menganggap mereka sama sekali. Inilah mulai memutuskan rantai keluarga besar raja rejang. Dengan harta keluarga jadi tak berguna lagi.


seminggu setelah kepulangan maryatul ke Rahmatullah, Maryana dan Ardi mulai menjilat isi dari sisa harta ibunya maryatul, Ardi mendapatkan meja batu giok seharga milyaran untuk dibawa pulang dengan alasan untuk merawatnya, sedangkan Maryana mengambil emas-emas beserta surat-surat penting lainnya. Tiwi melihat keadaan kakaknya itu hanya terdiam, dia berpikir mereka ingin menguasai peninggalan ibunya itu. melihat itu ia mulai menyelamat selendang peninggalan raja rejang untuk keturunan selatan, selendang itu benangnya terbuat dari emas yang di rajut. Selendang itu satu-satunya bukti keturunan raja rejang. Jika hanya memperlihatkan selendang itu, maka orang-orang akan tau itu adalah keturunan raja. karena selendang itu begitu penting dari yang lainnya, sebelum meninggal, maryatul hanya memberi tahukan kepada Tiwi tempat di mana selendang itu di simpan.

__ADS_1


sudah seminggu Tiwi berada di rumah ibunya maryatul, tiba-tiba Ardi datang kerumah dan langsung menyuruh adik-adiknya berkumpul untuk mengatur hak waris, kemudian Tiwi memanggil Maryana dan adiknya Ujang untuk berkumpul di rumah orang tuanya untuk mengatur hak waris, "begini, kakak akan mengatur hak waris peninggalan orang tua kita", kata Ardi, "rumah ini akan di bagikan kepada Tiwi dan Ujang, Tiwi bagian depan dan Ujang di bagian belakang" sambung Ardi. "setuju silakan tanda tangani surat-surat ini" Ardi menunjukkan surat-surat untuk di tandatangani mereka berempat. semua adik-adiknya setuju dan menandatanganinya.


"kemudian sawah kurang dari satu hektar ini akan di berikan kepada Ujang, apa kalian setuju?". mereka semua setuju dan langsung menandatanganinya. "Terakhir 1 hektar kebun ini punya saya, saya sendiri yang mengolahnya, setuju", sahut Ardi, merekapun setuju. "Maryana sudah Mak beri warisan, jangan minta lagi" Ardi mengatakan lembut dengan Maryana, kini tinggal Tiwi yang hanya mendapatkan setengah dari rumah jadi bingung, "kok aku cuman mendapatkan setengah rumah?, harta mak banyak?" Tiwi bergumam agak kecewa. semua terdiam dan Maryana mulai mengeluarkan surat rahasia ibunya. "mungkin ini harta sebagian Mak yang lain" sambil menunjukkan surat-surat hutang tiaksuh. Tak di sangka surat-surat hutang tiaksuh yang di rahasiakan ibunya itu di temukan Maryana. Berbahaya sekali, selama ini maryatul hanya menyimpan api untuk anak-anaknya. kini api itu mulai menyala kembali. " apa"? Ardi kaget kemudian menjadikannya alasan yang tepat untuk menjelaskan hak waris yang di jualnya selama ini tanpa sepengetahuan adik-adiknya. "Jadi harta mak selama ini di pinjam tiaksuh?" Ardi geram, "sebenarnya itu mau saya bagikan sama tiwi" Ardi meyakin kan Tiwi agar tidak curiga dengan harta yang banyak di jual olehnya.

__ADS_1


"saya rasa sudah cukup, semua sudah selesai baik maupun buruk itu terserah kalian menyikapi, saya mau pulang banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan", Ardi berdiri dan langsung keluar, kemudian Maryana menyusul, "saya akan pulang juga, ngak bisa lama-lama nanti keponakan kalian menangis" Maryana langsung bergegas. tinggal Ujang sama Tiwi yang masih merasa belum selesai, " Jang, kakak masih tinggal disawah tempat hak warisanmu, apa kakak masih boleh untuk tinggal beberapa waktu sampai kakak sudah memiliki tempat tinggal", ngak apa-apa, kakak boleh tinggal selama kakak mau.., dan juga kakak kan juga punya sebagian hak di rumah ini" sahut Ujang. Tiwi menjadi senang mendengar ucapan Ujang, lagian di sawah tempat tinggal Tiwi ternak itik, ikan dan kambing sudah berkembang, kalau Ujang tidak menyuruh tinggal ia bingung usahanya mau di bawa kemana.


sudah sepuluh tahun berlalu, Tiwi sudah di karuniai enam orang anak, Ujang empat orang anak, Maryana lima orang anak dan Ardi enam orang anak. mereka semua memiliki banyak momongan tapi sayang sulit di perekonomian. Ardi kakak tertua mereka yang paling suli ekonominya lantaran anak-anaknya sudah pada dewasa dan kebutuhan sehari-hari semakin membengkak. ia sudah menjual semua hak warisnya dulu dan kini ia tak memiliki apa-apa. Ia berhutang sama ke empat adik-adiknya dan belum mengembalikannya, untuk meminjam lagi ia malu. Akan tetapi adik-adiknya tak menganggap kakaknya berhutang dan ikhlas memberikannya secara percuma lantaran kasian melihat kakaknya itu. Kini Ardi semakin sulit tak memiliki pekerjaan dan harta sudah habis, terpaksa pergi ke tempat Tiwi untuk ngutang lagi.

__ADS_1


"assalamualaikum", "wa'alaikumsalam" jawab Tiwi dari dalam pondoknya dan membuka pintu, "masuk kak" Tiwi menyuruh kakaknya masuk," ada perlu apa kak?" tanya Tiwi, "dik, keponakanmu butuh uang sekolah, saya mau meminjam lagi sama adik, kakak sangat butuh", melihat itu, Tiwi jadi geram dan emosi, perasaannya dulu tentang hak waris yang tak adil baginya membuat dia benar-benar ingin mengeluarkannya semua dari dalam hatinya, "kakak ini bodoh!!!!!....kau kira saya tidak tau apa Tentang hak waris yang kau dapatkan!!!, di mana kau Tarok hak waris itu,,, kau jual kan??? bentak Tiwi dengan amarah yang terpendam."kemarin kau ngutang, ngak apa-apa saya ikhlasin tapi kali ini kau benar-benar goblok, harta sebanyak itu kau jual....!!! kualat hidup kamu!!!, bentak Tiwi sama kakaknya, ia tidak lagi memikirkan dengan siapa ia bicara, nada bicaranya seolah-olah dia bukan saudara lagi. "kau tidak lihat bertahun-tahun saya tinggal di pondok sawah ini, memulai usaha sendiri hidup susah, apa kau tidak kasihan sama sekali sama saya" Tiwi menyambungkan kemarahannya. "tak punya otak kamu, sebaiknya kau pergi dari sini" Tiwi mengusir kakaknya yang benar-benar susah dan lagi membutuhkan itu.


__ADS_2