Reborn Poor

Reborn Poor
Kencan?


__ADS_3

Sabtu dan minggu adalah hari liburan, tapi tidak bagiku, aku harus bekerja. Justru hari weekend adalah hari di mana banyak pengunjung berdatangan hanya untuk sekedar berkumpul dengan orang terkasih, entah pacar, teman, atau keluarga.


Di sini aku sekarang, di coffe shop, bersama dengan kakak, tentu aku masih di bagian kasir, itu keahlianku.


Aku : Americano satu, cappucino Latte satu.


Kakak: Oke.


Kami kembali bekerja dengan fokus pada pekerjaan masing-masing. Sedangkan tugas mengantarkan ke meja adalah adik kak Fitza, Cindy. Dia masih Sekolah Menengah Atas.


Aku masih penasaran, apakah aku pacar kak Fitza, atau dia hanya bercanda waktu itu? Sepertinya bercanda, kalau pacaran pasti dia akan mengajakku berpergian malam ini, ini kan malam minggu, malamnya para pemuda pemudi untuk berkencan, malam yang tidak pernah aku lakukan bersama pasangan di kehidupanku sebelumnya.


Ternyata hari ini pulang cepat, coffe shop ini tutup sore hari. Apakah kak Fitza ingin berkencan? berarti dia punya pacar dong? Berarti aku bukan pacarnya? Dia bohong?


Tiba-tiba kak Fitza mengajakku untuk keluar malam ini, sontak membuatku kaget.


Kak Fitza: Ayo keluar malam ini


Aku : Kemana?


Kak Fitza : Jalan-jalan, makan, kemana aja deh, kita kan pacaran.

__ADS_1


Aku tidak bisa berkata-kata lagi saat kak Fitza mengedipkan matanya setelah mengajakku. Tidak ada yang bisa ku katakan selain mengiyakan, lagian kalau keluar malam ini, aku akan bertemu banyak anak muda yang tampan, sekalian membeli pakaian untuk gadis ini. Dia harus cantik demi memikat Jeremy Tan. Mengingatnya saja aku muak, tapi demi gadis ini, aku harus sedikit berambisi dan memutar otakku untuk memikatnya. Tentunya dengan cara berkelas.


***


Aku mulai memilih baju untuk berkencan dengan orang yang mengaku-ngaku pacarku. Seperti yang aku duga, dia tidak punya baju feminim, apalagi untuk berkencan! Apakah aku harus meminjam ke Salsa? Karena dia yang sering menggunakan dress. Aku segera bergegas ke kamarnya dan mulai merayunya.


Aku : Salsa...


Salsa: Apa?!


Aku : Bolehkah aku meminjam pakaianmu?


Salsa: Tumben banget ni anak


Salsa: Kemana tuch?


Aku : Kepo banget sih


Salsa: Eits.. Katanya mau minjem..


Aku : Iya sayang..

__ADS_1


Salsa: iya udah.. Mau kemana and sama siapa?


Aku : Sama kakak yang kerja di coffe shop tempat aku kerja.


Salsa: Kerja? perasaan kamu sama pemiliknya saja yang kerja di situ. Ada pegawai baru?


Aku : Pemilik? Siapa?


Salsa: Lawak ni anak.. Lu beneran amnesia?


Aku : Maksud kamu kak Fitza?


Salsa: Iya si Fitza, dia pemilik. Gimana sih ni anak sama bos sendiri lupa.


Aku hanya terdiam seketika. 'Kak Fitza pemilik? Fakta apalagi ini ya Tuhan...' Batinku. Aku selama ini berlaku layaknya seumuran dengan dia, untung saja dia orangnya santai. Kenapa aku jadi risau begini? Pantas saja dia selalu mengulum senyum saat bersamaku, saat mengobrol, dan saat kami bersama. Pasti tingkah laku ku sangat berbeda sekali, dari yang sebelumnya kaku dan sangat menghormati seorang bos, menjadi rekan yang sangat lugas dan memperlakukannya layaknya teman sebaya. Apa aku harus bertingkah seperti biasa, atau aku tiba-tiba berubah menjadi pegawai yang sedikit menghormati bos nya? Tidak mungkin kan? Aneh sekali, karena aku sama sekali tidak memperilakukan dia dengan hormat, walau usianya di atas ku. Lebih baik aku pura-pura tidak tahu saja dan bertingkah seperti biasanya.


Aku masih memilih-milih baju di kamar Salsa. Mataku tertuju pada baju berwana biru muda polos selutut. Sempurna!


Aku : Sal, ini aja.


Salsa: ya udah, ambil...

__ADS_1


Aku : Thank you Salsa sayang!


Aku yang langsung bergegas ke kamar, tidak lupa mencium pipi Salsa sebelumnya. Dia kaget bukan kepalang. Aku tahu.. gadis ini memang berbeda dengan Ariana, aku Rachel, yang berasal dari masa depan dan mungkin dunia lain, entahlah aku pun masih bingung.


__ADS_2