
Sepulang berkuliah seperti biasa aku harus bekerja. Hari ini dimulai dengan membersihkan meja-meja, karena aku datang agak cepat. Aku masih penasaran apakah benar Ariana pacarnya kakak ini, dan kenapa kakak ini selalu di sini? Sedangkan kami bekerja per-shift, apakah dia pemilik kedai ini? Haruskah aku tanyakan? Pikirku sambil membersihkan meja-meja. "Ehm.. Kak, kakak benaran pacarnya aku?" tanyaku memulai mengulik informasi lagi, "Ya Ampun... Kamu percaya?" jawabnya yang malah bertanya balik, "Ya kalau kamu mau sih gak apa-apa" sambungnya, "Aku serius loh kak. Aku kan gak inget apa-apa!" balasku agak kesal, senyuman kak Fitza tersungging, sepertinya dia iseng sekali, aku tidak percaya gadis ini pacarnya. Aku mulai ke meja kasir dan mulai melayani pelanggang pertama setelah aku datang ke sini sore hari ini.
Pikiranku sedang terfokus pada gadis ini, tiba-tiba seorang pelanggang pria yang tidak asing datang dan memesan Americano dingin. Aku seperti mengenalinya. Aku pernah melihatnya, tapi dimana ya? Aku ingat, Jeremy Tan? Aku pernah melihatnya di stagram, di pencarian Ariana, dia adalah nama teratas di pencariannya!
__ADS_1
Aku terbelalak, ternyata Jeremy Tan lebih tampan daripada di fotonya, sayangnya dia bukan seleraku, seleraku masih Miko, pria tinggi dan berwajah lokal. Jeremy juga tinggi hanya saja wajahnya oriental, aku sudah sering melihat laki-laki berwajah Asia Timur, bahkan bosku sangat-sangat oriental.
Aku pulang ke kost dengan pikiran yang masih berfokus pada gadis ini, dan menyusun setiap informasi yang aku dengar dari dua narasumber, Kak Fitza dan Miko. Aku kaget saat hendak memasuki kost, melihat Ela menggunakan masker wajah membuatku menjerit "Hahh...!!" jeritku dengan lantang yang membuat seisi kost menghampiri kami. "Ada apa?" tanya Salsa, "Nggak Sal, ini bocah ngapain dah teriak-teriak" jawab Ela tidak merasa bersalah, "Gimana gak histeris, kamu kayak hantu gini" balasku membela diri, "Udah-udah, ribut, malu sama tetangga" kata Siti yang menengahi kami semua.
__ADS_1
'Untuk sahabatku, selamat ulang tahun! Aku bangga menjadi sahabatmu, kamu teman terbaik yang pernah ku miliki, kamu baik hati dan gigih, aku tahu suatu saat nanti kamu pasti bisa melalui semuanya, kamu akan sukses, aku yakin itu! Kamu gadis hebat yang sangat gigih dan tak kenal menyerah. Kamu selalu berjuang, jadi aku yakin suatu saat nanti perjuanganmu tidak akan sia-sia! Good Luck!!! I Love You My Buddy!! ♡' Begitu isi halaman pertama yang ku baca. Sepertinya ini buku dari sahabatnya pikirku.
Aku pun menutupi buku ini, karena aku harus menggunakan pakaian dan segera tidur. Aku sangat lelah, rasanya mataku tak sanggup lagi membaca. Buku ini seperti buku persahabatan? Tapi bentuknya kecil, seperti buku diary. Bolehkah aku membacanya? Aku masih mempertimbangkannya, karena aku selalu menghormati privasi orang lain. Tapi kalau benar ini buku harian, mungkin saja aku lebih banyak tahu tentang gadis ini. Mungkin besok akan ku lanjutkan.
__ADS_1