
Aku terbaring di kamar rumah sakit. Aku membuka mata dengan pelan, silau, perlahan aku membuka mata dan melihat sekelilingku. Ada teman-teman kost ku, dan ada kak Fitza? Dia menanyakan kondisiku.
Kak Fitza: Gimana kamu sekarang? Ada yang sakit?
Aku diam, aku bahkan tidak bisa memikirkan apa yang terjadi sebelumnya, apalagi untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan. Tidak hanya kak Fitza yang bertanya tentang kondisi ku, mereka semua di ruangan ini, mengerumuniku dan menghujaniku dengan pertanyaan-pertanyaan, hingga membuatku pusing. Ela kemudian mendiamkan semua orang, mungkin karena dia juga melihat aku yang semakin pusing.
Aku perlahan bangkit untuk duduk, aku melihat ke arah jam di dinding, jam menunjukkan pukul 3 sore. Aku penasaran hari ini tanggal berapa. Aku juga penasaran siapa yang membawa ku ke sini, ke rumah sakit ini, mengingat hanya ada aku dan Cindy di kedai kopi. Lalu dari mana mereka tahu aku di sini, kalau kak Fitza mungkin saja, karena dia kakaknya Cindy sudah pasti Cindy yang memberitahunya sejak awal, tapi teman kost ku? Terlebih setelah ku lihat ada Miko yang terlihat cemas di belakang mereka. Miko menjengukku? Dia tahu dari mana? Karena tidak ada orang-orang di sekitarku berhubungan langsung dengan teman kampusku.
Aku mulai bangkit perlahan dari posisi terbaring menjadi sedikit duduk. Aku mulai bertanya kepada Cindy.
Aku : Bagaimana aku bisa di sini Cin?
Cindy: aku tadi langsung menghubungi kak Fitza, aku panik melihat kakak pingsan.
Aku : Lalu Miko? Bagaimana ia tahu aku di sini?
Cindy: Dia ke kedai tadi, terus nanya kok kakak gak ada. Soalnya tadi aku sempet buka kedai kak.
Aku : Emangnya aku udah berapa lama di sini Cin?
Cindy: kakak udah di sini 2 hari
__ADS_1
Pantesan Miko tahu, aku juga gak masuk kelas dong kemarin. Kenapa aku pingsan ya? Apa karena aku cape?
Kak Fitza mendekatiku, dia terlihat paling panik selain Miko.
Kak Fitza: Kamu udah enakan?
Aku : iya kak, udah gak pusing lagi.
Kak Fitza: Kamu mau makan apa? Udah dua hari kamu gak makan
Aku : Hmm... Apa ya? Aku mau pizza aja kak.
Kak Fitza: Jangan, saya saja.
Miko : Gak apa-apa kak aku aja.
Kak Fitza: Gak, aku aja.
Mereka berdua berhadap-hadapan dan bertatap-tatapan di depanku yang masih diinfus. Aku pun sedikit bingung dengan situasi ini, mengapa mereka berebutan untuk membeli pizza. Sungguh tidak masuk akal dan kekanak-kanakan. Karena aku tidak ingin mereka berujung dengan pertengkaran, aku akhirnya menengahi dengan meminta salah satu diantara mereka untuk membeli ice cream, karena aku ingin makan ice cream.
Aku : Aku mau ice cream
__ADS_1
Mereka berdua diam dan langsung melihat ke arahku.
Aku : Bagaimana kalau salah satu diantara kalian membeliku ice cream dan yang lain membeliku pizza?
Kak Fitza: Baik, aku akan beli ice cream, mau ice cream rasa apa?
Aku : Coklat, segera ya gak mau meleleh soalnya. ucapku sumringah
Kak Fitza: Siap, laksanakan
Miko : Baik, aku akan beli pizza nya.
Aku : Kalian hati-hati ya.
Semua orang di dalam ruangan semakin heran, apalagi Ela.
Ela: Apa kamu gak se-peka itu? Terlihat sekali mereka berdua menyukaimu.
Aku: Gak mungkin lah, mereka hanya menganggapku teman dan rekan.
Ela pun menjelaskan semua tentang ciri-ciri pria yang mencintai wanita. Aku hanya mendengarkan, aku juga sempat berpikir seperti itu, tapi aku tahu sekalipun itu benar, itu hanya perasaan, dimana perasaan itu dapat berubah, untuk menjalin hubungan lebih lanjut sepertinya gadis ini belum siap, dia harus menyelesaikan studinya dan mencari pekerjaan yang layak.
__ADS_1