
Sore ini aku berangkat ke coffe shop, tempat gadis ini biasanya bekerja. Ternyata gadis ini punya motor matic, jadi aku menggunakannya sore ini. Tempat ini terlihat sepi pikirku. Aku masuk dan tidak menemukan siapa-siapa, tiba-tiba ada seorang pria yang ku tebak berusia lebih tua dari gadis ini, mungkin 2 tahun lebih tua? Apakah dia rekan kerja shift sebelumnya. Tanpa banyak basa-basi aku langsung saja berbicara ke intinya, "Maaf kak, karena insiden kemarin aku kehilangan ingatanku" ucapku, tapi sepertinya dia tidak kaget sama sekali, "Tentu saja, kau terluka parah" ucapnya, "Tapi gak apa-apa, kemampuanmu belum hilangkan?" tanyanya, "Soal itu, aku juga harus belajar dari awal kak" jawabku kaku, "Separah itu kah?" ucapnya memastikan, "Kakak kalau waktu kerjanya sudah habis, nggak apa-apa kak, kakak bisa pulang sekarang" kataku dengan tersenyum yakin, dia tertawa, aku semakin bingung, ini lucunya dimana? "Aku pulang?" tanyanya sembari tertawa lagi, "Kamu kok beda sih, auranya juga beda, lucu banget" sambungnya, aku hanya bisa nyengir, "Aku gak pulang sampai kedai ini tutup, kecuali aku ada kerjaan lain" jelasnya, "Kakak kerja full-time?" tanyaku, "Iya, betul, dan harus" jawabnya tersenyum. Aku tidak bertanya lagi dan langsung ke meja kasir.
__ADS_1
Pelanggan berdatangan, aku mulai sibuk di meja kasir. Kakak yang bersamaku juga sibuk meracik minuman, aku hanya melihat sesekali, tanpa banyak bertanya, mungkin nanti aku akan bantu-bantu meracik minumannya, tentu saja saat aku sudah mulai hapal semua prosedur dan metodenya, untuk saat ini aku masih di bagian kasir dan membersihkan meja-meja.
__ADS_1
Nama kakak ini ternyata Fitza, nama yang bagus pikirku. Aku mencoba mengobrol dengannya saat sepi. "Kak, aku kan hilang ingatan ini" kataku memulai obrolan, "Kamu serius gak ingat apa-apa?" tanyanya yang ternyata kaget juga, "Iya... Benar-benar gak ada memori gadis ini sejak aku bangun" jawabku, "Gadis ini?" tanyanya, "Maksudku aku" jawabku yang masih belum terbiasa dengan tubuh Ariana, "Namaku Ariana, aku berkuliah di Universitas Srikandi, aku mempunyai teman-teman kostan bernama Ela, Salsa, dan Siti, dan aku bekerja di sini. Selebihnya, aku tidak tahu apa-apa" ucapku panjang lebar, "Baik.. Kamu juga gak inget kenapa kamu bisa nyemplung di danau kampus?" tanyanya serius, "Iya.. Aku benar-benar gak ingat apapun" jawabku, "Keluargamu? Pacarmu?" tanyanya "Aku punya pacar?" tanyaku balik, "Pacarmu kan aku" jawabnya, "Hah!?!" aku kaget bukan kepalang, "Iya... Makanya aku heran, kenapa kamu sangat berbeda" ucapnya, "Kenapa gak bilang dari tadi!" kataku yang agak ngegas, "Kamu juga bukan tipe orang yang berbicara keras" jelasnya, "Terus?" tanyaku yang juga penasaran dengan kepribadian gadis ini, karena di kampus tadi seperti tidak ada teman, tidak ada yang menyapanya atau sekedar kenal dengan dia. Kakak terlihat kebingungan, "Ternyata kamu-benar amnesia" katanya, "Tapi bukan hanya amnesia, kempribadianmu juga berbeda" lanjutnya, "Kamu dulu pribadi yang tidak banyak bicara, mukamu juga selalu pucat, seperti orang tertekan" tuturnya, "Lalu?" tanyaku antusias, "Kamu juga berperawakan serius. Aku ingat waktu kamu melamar pekerjaan di sini, alasan kamu ingin bekerja adalah ingin memenuhi biaya hidup" jawabnya, "Aku tidak tahu masalah apa yang telah kau alami atau beban seperti apa yang kau pikul, tapi aku sangat tersentuh saat itu" sambungnya, "Aku seperti itu?" tanyaku tak percaya, "Kamu sering ditelfon ibumu, aku pikir ibumu sangat perhatian, itu saja yang aku tahu." jelasnya lagi. "Baik.. Terima kasih informasinya" balasku sambil memberikan senyuman termanisku, "Ini juga sangat berbeda dari Ana yang dulu" ucap Kak Fitza setelah melihat senyumku yang memang selalu sumringah.
__ADS_1