
"Baik.. Karena aku di sini, kita langsung saja ke intinya" ucapku memulai percakapan di ruang tengah. Mereka yg mendengar aku bicara pun terlihat kebingungan, "Kenapa?" tanyaku, "Nggak... Ini kayak bukan kamu" jawab Ela, "Bukan aku gimana?" tanyaku balik, "Iya.. Kamu itu gak biasanya ngomong lantang dan jelas gini" jawab si jangkung, "Kamu pemalu. Atau jangan-jangan kamu gegar otak?" ucap yang berhijab, "Nah.. Itulah yang mau aku jelasin sekaligus minta penjelasan" ucapku sambil tersenyum penuh arti dan memandangi satu persatu teman kostan gadis ini, "Kamu Salsa, Ela, dan Siti" ucapku lagi menunjukkan mereka satu persatu. Mereka saling pandang, kemudian tertawa, "Aduh kamu ini lucu banget, kayak baru kenal aja" ucap Ela. Aku tahu kalau aku menjelaskan yang sesungguhnya pasti mereka tidak akan percaya dan malah tertawa terbahak-bahak. "Begini.. Aku sebenarnya agak lupa ingatan" ucapku dengan memandangi mereka, mereka malah tertawa lagi, "Okey.. Ini bukan hal yang lucu" lanjutku, mereka diam, "Aku gak tahu siapa aku yang sebenarnya, aku tidak ingat, tidak ada memoriku sebelum aku bangun hari ini" jelasku, mereka pun diam dan tiba-tiba Siti memegang kepalaku, "Iya sih... Kan kepalamu juga luka, jangan-jangan kamu benar-benar gegar otak" ucap Siti yang disahut isak tangis dari mereka semua, "Udah-udah.. Ini bukan waktunya nangis-nangis, aku masih hidup, lebih baik kalian jelasin kenapa aku bisa gini" kataku yang tidak sabar mendengar penjelasan mereka, "Kamu beneran gak inget?" tanya Siti, "Iya..." jawabku, "Masalahnya kita juga gak tau kenapa kamu nyemplung ke danau Universitas" jawab Ela, "Aku nyemplung?" tanyaku balik, "Gak tau, pokoknya kamu itu udah gak bernyawa lagi waktu ditemuin tim SAR" jelas Salsa, "Gak bernyawa?" tanyaku makin penasaran, "Iya.. Tapi anehnya saat kamu dibawa ke rumah sakit, tiba-tiba kamu bernafas lagi" jelas Siti. Ini sama dengan kondisiku saat itu, sebelum masuk ke tubuh ini. Apakah aku dalam tubuh gadis ini saat itu? Atau masih di dalam tubuhku? Pikiranku tidak beraturan, aku menghela nafas panjang.
"Kamu beneran gak inget apa-apa?" tanya Ela memecahkan keheningan dan membuyarkan pikiran-pikiranku yang berkecamuk, "Gadis ini, ah.. Maksudnya aku, aku kerja dimana?" tanyaku, "Ah.. Iya kamu kerja di coffe shop" jawab Salsa, "Biasanya dari sore sampai malam" lanjut Ela, "Hari ini berarti shift ku sore?" tanyaku memastikan "Iya.. biasanya kamu berangkat pukul 4" jawab Siti penuh perhatian. Berarti sebentar lagi batinku, satu jam lagi. Aku memang harus kerja, gadis ini sepertinya tidak selalu mendapat uang bulanan dari orang tuanya. Tunggu, aku belum tahu pekerjaannya apa, waitress? Barista? Aku tidak pernah bekerja di bagian ini sebelumnya, apa aku harus meng-apply pekerjaan freelencer saja? Aku bisa pembukuan, desain grafis, aku sudah bekerja 10 tahun untuk Bong Group, jadi aku tentu saja mahir pekerjaan kantor. Tapi sekarang aku harus bekerja dulu di coffe shop ini, tidak mungkin aku resign, tunggu... Resign? Harus kah aku resign agar kembali ke tubuhku? Seketika aku dapat ide. Kalau aku resign, apakah gadis ini juga ditahan oleh atasannya? Sama sepertiku, lalu kami akan berkelahi dan aku akan kembali ke tubuhku? Apakah ide ini patut aku coba? Tapi mungkin nanti, aku masih menikmati kehidupanku di sini. Aku ingin membuat gadis ini mencapai kesuksesan, sejujurnya aku sedikit kasihan dengannya, dan membuatku lebih mensyukuri kehidupanku.