
Kakak menjemputku. Aku masih tidak menyangka akan melakukan dating! Aku benar-benar tidak pernah melakukan ini di kehidupanku sebelumnya. Aku menaiki motornya. Hari ini kak Fitza sangat keren, dengan kemeja hitamnya, baunya juga harum, maskulin sekali, senang sekali rasanya.
Aku : Mau kemana ini?
Kak Fitza: ke mall aja
Aku : Ngapain?
Kak Fitza: Kenapa? Gak mau?
Aku : Bukannya gak mau sih, tapi mau ngapain ke mall?
Kak Fitza: Jajan, belanja, hangout.
Aku : Kalau sekedar jalan-jalan, pasar malem aja deh
Kak Fitza: Tumben ini ada cewe yang justru nyaranin.
Aku : Iya.. Biasanya kan bilang 'terserah' gitukan?
Kak Fitza: Nah iya.
Aku : Ya kalau bisa milih ngapain bilang terserah, kalau aku mah, sesukaku.
Kak Fitza menuruti kemauanku yang ingin berjalan-jalan di pasar malam. Sebenarnya sih aku ingin ke mall membeli baju, tapi kan aku bukan Rachel, aku Ariana, untuk sehari-hari saja susah, apalagi beli baju? Mungkin lain waktu, saat aku sudah mengumpulkan uang yang cukup untuk membeli setelan baju yang bagus.
__ADS_1
Kami mulai berjalan-jalan menelusuri seluk beluk pasar malam ini. Banyak pemuda-pemudi yang aku kira sama seperti kami, sedang berkencan. Banyak juga keluarga-keluarga yang membawa anak-anaknya, atau pasangan suami-istri muda yang baru mempunyai momongan.
Kami berhenti di salah satu warung nasi goreng, aku sangat ingin makan nasi goreng. Tidak banyak basa-basi aku langsung memesan dua porsi nasi goreng. Kak Fitza yang melihatku hanya membuka mulut seolah kaget. Ku balas dengan tatapan penuh tanda tanya.
Aku : Kak, emang benar kita pacaran?
Kakak: Menurut kamu?
Aku : Enggak mungkin.
Kakak: Kenapa?
Aku : Karena Ariana suka sama Jeremy Tan.
Bisikku. Kak Fitza terdiam. Nasi goreng datang. Aku melihat Kak Fitza, ada yang aneh setelah aku mengatakan itu.
Aku: Kak, kakak suka Ariana?
Kak Fitza langsung tersedak. Aku pikir pertanyaan itu akan membuat suasana yang hening menjadi percakapan ringan. Aku segera menuangkan air ke dalam cangkir dan memberinya kepada kak Fitza.
Aku: Maaf kak, ini
Kak Fitza meminum air yang aku berikan. Dia kemudian menatapku.
Kak Fitza: Kamu benar-benar gak tahu?
__ADS_1
Aku : Gak tahu apa?
Kak Fitza: Ah... Sudahlah.
Aku : Aku gak tahu kak, kalau kakak gak jelasin, apalagi aku amnesia.
Kak Fitza: Bukan itu, dari sebelum kamu siuman, jauh dari sebelum kamu berubah kayak sekarang, kamu gak ngerasain?
Rasanya jantungku berdebar dengan kencang, kak Fitza menatapku dengan serius. Aku tidak tahu harus menjawab apa. Aku benar-benar tidak tahu, karena aku tidak punya memori apapun tentang Ariana.
Aku : Iya kak, aku gak ingat.
Aku mulai tertawa kecil untuk menceriakan suasana, namun kak Fitza benar-benar tidak ikut tertawa, bahkan tersenyum sama sekali. Aku diam seketika dan melanjutkan makanku.
Aku duduk di belakangnya dengan perasaan tidak enak. Aku diam sepanjang perjalanan, entah mengapa aku ingin menangis. Rasanya aku baru saja dibentak pria. Tiba-tiba aku terisak, aku sadar aku sedang tidak berada di tubuhku yang dulu, aku rindu semua yang di sana, aku rindu keluargaku. Aku menangis.
Kak Fitza: Kamu kenapa?
Aku masih menangis. Dia menghentikan motornya dipinggir danau dekat jembatan.
Aku masih menangis. Kami turun dari motor.
Kak Fitza: Maafin aku ya, aku gak bermaksud ngediemin kamu.
Aku tidak menjawab pertanyaan kak Fitza, aku hanya menatapnya dengan sisa air mata yang masih membasahi pipiku. Dia memelukku.
__ADS_1
Kak Fitza: Sudah-sudah jangan nangis...
Aku malah makin menangis sejadi-jadinya, ada beberapa orang yang lewat. Mereka memperhatikan kami. Kak Fitza hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dan melambaikan tangannya kepada mereka, tanda bahwa dia tidak melakukan hal jahat.