Reborn Poor

Reborn Poor
Jeremy Tersenyum


__ADS_3

Awalnya aku ingin menghindari Jeremy di sini. Tapi ternyata aku malah menyapanya. "Hai" sapaku. Jeremy hanya melihat ke arahku, dia bahkan tidak tersenyum. Dia kembali mencari buku-buku lagi. Aku benar-benar sebal, tapi berusaha tersenyum. Aku langsung duduk di depan Jeremy, hanya meja yang memisahkan kami. Dia melihatku dengan tatapan datar. Aku tersenyum manis dan membaca buku yang telah aku pilih. Dia juga kembali membaca bukunya. Kami diam. Aku akan mencoba bicara.


Aku : Jeremy


Jeremy: He? (Dia hanya menatapku)


Aku : Kamu kuliah di sini?


Jeremy : Iya.


Aku : Jurusan?


Jeremy: Bukannya kamu sudah tahu?


Aku : Ah.. Iya... Aku kan kehilangan ingatan..

__ADS_1


Jeremy: Sepertinya lebih dari itu


Aku : Apa?


Jeremy: Kamu berbeda. (Dia mendekatkan wajahnya, kemudian tersenyum dan meninggalkanku)


Seketika nafasku terhenti. Jatungku berdegup. Aku menyadarkan diriku. Ternyata Jeremy sangat tampan ketika tersenyum. Ada apa denganku? Tidak, aku tidak boleh lengah.


Aku mencoba menenangkan diri. Aku melanjutkan bacaanku sebelum akhirnya aku harus kembali ke coffe shop dan bekerja. Bertemu kak Fitza yang entah mengapa terlihat marah.


Aku : Selamat sore~


Aku lega, ternyata benar dia pria dewasa, walaupun tentu jauh lebih dewasa aku. Seperti biasa aku menjaga kasir. Aku ini sangat profesional dan kak Fitza ternyata juga sangat profesional. Mengingat usianya yang lebih tua dari Ariana, tentu saja dia bisa menyikapi persoalan dan mengambil sikap yang baik, apalagi dia pemilik usaha.


Aku selalu melihat ke arah datangnya pengunjung, di pintu. Ternyata Jeremy datang sore ini. Aku masih ingat dengan senyumannya di perpustakaan tadi. Aku menggelengkan kepalaku.

__ADS_1


Aku : Selamat datang~


Jeremy: Americano dingin


Aku : Baiklah~


Jeremy duduk di tempat biasa dia duduk, dekat jendela dan terkena matahari sore. Aku menyerahkan catatan pesanannya kepada kak Fitza. Kemudian kak Fitza meracik minumannya dan Cindy yang mengantarkan pesanan ke meja pelanggan. Selalu seperti itu. Aku kembali melihat Jeremy, dia berkepribadian tenang. Aku meyakinkan diriku, bahwa dia sebenarnya cuek bukan tenang. Dia tidak menarik sama sekali.


Beberapa saat dia menetap, dia beranjak, sepertinya dia akan pulang. Aku melihatnya sampai dia membuka pintu dan pergi meninggalkan tempat ini. Aku lanjut fokus pada pekerjaanku. Aku harus fokus.


Aku mulai membersihkan meja-meja. Aku melihat buku di meja yang ditempati Jeremy tadi. Aku mengambilnya. Dia gemar sekali membaca. Aku menghadap jendela di depanku. Bagus sekali pemandangannya. Cahaya matahari masuk dengan indahnya dan di sini sangat menenangkan untuk menikmati secangkir kopi sambil membaca buku dan mendengarkan musik. Pantas saja dia senang di bagian sini, di coffe shop ini.


Aku menyimpan bukunya di dalam totebagku. Besok aku akan mengembalikannya. Aku tidak tahu dimana kediamannya. Tapi aku akan mengunjungi setiap tempat aku dia bertemu. Misalnya kampus, perpustakaan kampus, dan tempat kami bertemu saat berlari pagi.


Aku melanjutkan pekerjaanku membersihkan coffe shop ini. Kemudian kami menutup kedai ini. Pulang ke kediaman masing-masing. Aku bergegas pulang.

__ADS_1


Aku tidak boleh memikirkan Jeremy. Lagian bukannya aku sudah tidak respect lagi dengannya. Kepribadiannya yang tidak bisa menghargai orang, sangat buruk.


Pulang ini aku harus mengerjakan tugas perkuliahanku. Aku harus mengejar ketertinggalan gadis ini. Agar dia bisa wisuda tepat waktu dan mendapatkan nilai akhir yang bagus. Dia harus mendapatkan pekerjaan yang bagus dan gaji yang cukup.


__ADS_2