Reborn Poor

Reborn Poor
Miko Baik-Baik Saja


__ADS_3

Aku penasaran dengan kecelakaan gadis ini. Kenapa dia bisa tercebur, apakah dia benar-benar ingin mengakhiri hidupnya? Aku memikirkan itu sepanjang perjalanan ke kampus. Semua tentang gadis ini masih membuatku penasaran. Aku memang telah membaca buku hariannya, tapi gadis ini sebenarnya tidak punya masalah apapun selain kondisi ekonominya. Dia hanya mengisolasi dirinya sendiri dari pergaulan, sehingga dia tidak mempunyai teman. Mungkin kepribadiaannya yang seperti itu. Sangat berbeda denganku yang super cruncy. Aku tidak bisa hidup seperti gadis ini.


Aku mulai melangkah dengan riang, sambil bernyanyi-nyanyi kecil. Dan menyapa semua orang yang ada di kampus. Tukang kebun, ibu yang sedang membersihkan selokan, yang sedang membersihkan lantai. Aku hanya senang sekali menghirup udara pagi.


Aku tidak salah lihat kan? Aku melihat Jeremy. Hatiku senang rasanya. Aku menghampirinya.


Aku: Haiiii


Jeremy kaget, dan memegang dadanya. Aku juga ikut membelalakkan mataku.


Aku : Hai Jerr


Jeremy: Apa?


Aku : Nyapa aja sih! Gitu aja nge gas!


Jeremy diam, dia mengedip-ngedipkan matanya, aku tidak tahu apa yang dipikirkannya. Aku hanya terdiam.


Aku langsung pergi, rasanya sedih. Aku seperti dibentak rasanya. Aku berlari sampai ke kelas perkuliahan. Di kelas aku duduk di samping Miko. Miko yang melihatku langsung bertanya keadaanku.


Miko: Kamu kenapa?


Aku : Gak apa-apa


Miko: Tapi kayak sedih?


Aku : Nggak..


Miko: Ayo... Ngaku...


Aku : Sedikit sedih saja tadi


Miko: Sedih kenapa?


Aku : Kamu kalau dibentak sedih gak?

__ADS_1


Miko: Siapa yang bentak kamu?


Aku : Nggak, nggak ada


Miko: Ngaku deh


Aku : Nggak...


Miko: Aku serius (Miko menatapku)


Aku hanya terdiam. Dia terlihat sangat serius, kenapa dia terlihat marah? Aku langsung mengalih topik pembicaraan.


Aku : Gimana tugasnya?


Miko: Tugas yang mana?


Aku langsung mengeluarkan tugas yang telah ku kerjakaan dan memperlihatkannya pada Miko.


Miko: Aku gak percaya ini dibuat oleh anak kuliahan.


Miko: Kamu joki?


Aku : Joki apaan...


Miko: Terus?


Aku : Ada yang bantuin sih


Miko: Siapa?


Aku : Rachel


Miko: Rachel?


Aku : Iya... Dia datang dari masa depan

__ADS_1


Miko: Bohong banget


Aku : Beneran


Miko: Ada-ada aja kamu.


Aku : ya diriku sendirilah bantuin.


Miko terdiam, lalu dia mencubit pipiku. Aku mengeluh kesakitan. Sakit sekali dia mencubitku. Aku yang kesal. Balik mencekiknya, tentunya candaan. Tidak mungkin aku mencekiknya sungguhan. Dia yang merasa geli balik menggelitikku. Aku yang merasa geli juga langsung menghindar. Tentu saja ini bahaya. Kamu terdiam.


Aku hampir lupa dengan kejadian Miko yang mendiamiku dengan alasan sakit. Aku penasaran apakah dia benar-benar sakit, atau memang menghindariku.


Aku : Mik, kamu waktu sakit itu benaran sakit?


Miko terdiam sesaat kemudian dia menjawab


Miko: Sejujurnya, aku memang menghindarimu, seperti dugaanmu


Aku : Aku kan gak bilang begitu.


Miko: Tapi aku tahu kamu pasti merasakannya.


Aku : Iya... Kerasa banget.


Miko: Maaf ya, tapi kayaknya aku memang gak bisa.


Aku : Kenapa?


Miko: Aku ngerasa ada yang hilang aja.


Aku : Maksud?


Miko: Begitulah.


Aku : Iya deh.

__ADS_1


Sehabis mata kuliah. Seperti biasa, Miko mengajakku makan siang bersama. Aku merasa baik-baik saja, saat dia bersikap seperti biasanya. Kami bercanda, bergurau. Selalu seperti itu dan memang seharusnya seperti ini. Aku senang di dekat Miko, mungkin karena aku menyukainya dari awal.


__ADS_2