
Aku penasaran dengan kecelakaan gadis ini. Kenapa dia bisa tercebur, apakah dia benar-benar ingin mengakhiri hidupnya? Aku memikirkan itu sepanjang perjalanan ke kampus. Semua tentang gadis ini masih membuatku penasaran. Aku memang telah membaca buku hariannya, tapi gadis ini sebenarnya tidak punya masalah apapun selain kondisi ekonominya. Dia hanya mengisolasi dirinya sendiri dari pergaulan, sehingga dia tidak mempunyai teman. Mungkin kepribadiaannya yang seperti itu. Sangat berbeda denganku yang super cruncy. Aku tidak bisa hidup seperti gadis ini.
Aku mulai melangkah dengan riang, sambil bernyanyi-nyanyi kecil. Dan menyapa semua orang yang ada di kampus. Tukang kebun, ibu yang sedang membersihkan selokan, yang sedang membersihkan lantai. Aku hanya senang sekali menghirup udara pagi.
Aku tidak salah lihat kan? Aku melihat Jeremy. Hatiku senang rasanya. Aku menghampirinya.
Aku: Haiiii
Jeremy kaget, dan memegang dadanya. Aku juga ikut membelalakkan mataku.
Aku : Hai Jerr
Jeremy: Apa?
Aku : Nyapa aja sih! Gitu aja nge gas!
Jeremy diam, dia mengedip-ngedipkan matanya, aku tidak tahu apa yang dipikirkannya. Aku hanya terdiam.
Aku langsung pergi, rasanya sedih. Aku seperti dibentak rasanya. Aku berlari sampai ke kelas perkuliahan. Di kelas aku duduk di samping Miko. Miko yang melihatku langsung bertanya keadaanku.
Miko: Kamu kenapa?
Aku : Gak apa-apa
Miko: Tapi kayak sedih?
Aku : Nggak..
Miko: Ayo... Ngaku...
Aku : Sedikit sedih saja tadi
Miko: Sedih kenapa?
Aku : Kamu kalau dibentak sedih gak?
__ADS_1
Miko: Siapa yang bentak kamu?
Aku : Nggak, nggak ada
Miko: Ngaku deh
Aku : Nggak...
Miko: Aku serius (Miko menatapku)
Aku hanya terdiam. Dia terlihat sangat serius, kenapa dia terlihat marah? Aku langsung mengalih topik pembicaraan.
Aku : Gimana tugasnya?
Miko: Tugas yang mana?
Aku langsung mengeluarkan tugas yang telah ku kerjakaan dan memperlihatkannya pada Miko.
Miko: Aku gak percaya ini dibuat oleh anak kuliahan.
Miko: Kamu joki?
Aku : Joki apaan...
Miko: Terus?
Aku : Ada yang bantuin sih
Miko: Siapa?
Aku : Rachel
Miko: Rachel?
Aku : Iya... Dia datang dari masa depan
__ADS_1
Miko: Bohong banget
Aku : Beneran
Miko: Ada-ada aja kamu.
Aku : ya diriku sendirilah bantuin.
Miko terdiam, lalu dia mencubit pipiku. Aku mengeluh kesakitan. Sakit sekali dia mencubitku. Aku yang kesal. Balik mencekiknya, tentunya candaan. Tidak mungkin aku mencekiknya sungguhan. Dia yang merasa geli balik menggelitikku. Aku yang merasa geli juga langsung menghindar. Tentu saja ini bahaya. Kamu terdiam.
Aku hampir lupa dengan kejadian Miko yang mendiamiku dengan alasan sakit. Aku penasaran apakah dia benar-benar sakit, atau memang menghindariku.
Aku : Mik, kamu waktu sakit itu benaran sakit?
Miko terdiam sesaat kemudian dia menjawab
Miko: Sejujurnya, aku memang menghindarimu, seperti dugaanmu
Aku : Aku kan gak bilang begitu.
Miko: Tapi aku tahu kamu pasti merasakannya.
Aku : Iya... Kerasa banget.
Miko: Maaf ya, tapi kayaknya aku memang gak bisa.
Aku : Kenapa?
Miko: Aku ngerasa ada yang hilang aja.
Aku : Maksud?
Miko: Begitulah.
Aku : Iya deh.
__ADS_1
Sehabis mata kuliah. Seperti biasa, Miko mengajakku makan siang bersama. Aku merasa baik-baik saja, saat dia bersikap seperti biasanya. Kami bercanda, bergurau. Selalu seperti itu dan memang seharusnya seperti ini. Aku senang di dekat Miko, mungkin karena aku menyukainya dari awal.