
Pagi ini aku terbangun dengan rasa penasaran. Tapi aku tidak langsung membuka buku yang aku duga buku harian Ariana. Aku langsung mandi dan memilih pakaian, sepertinya aku akan menggunakan kemeja kotak-kotak lagi, bedanya ini berwarna hitam putih, seperti kotak catur pikirku, ditambah desain yang formal dan kuno, aku juga memadu padankannya dengan celana jeans botol, sungguh ini bukanlah gayaku. Aku mencoba menyesuaikan diri, sedikit sulit dengan kepribadiannya yang pendiam yang sesuai dengan gaya busananya yang kuno.
__ADS_1
Aku memasukkan dan menyusun buku yang harus ku bawa ke dalam tas. Aku memandangi diriku di kaca, tidak begitu buruk pikirku, karena aku menggunakan jepit merah yang kutemui di kamar ini, sedikit menambah kesan feminim. Aku juga menggunakan peralatan make-up Ela dan Salsa, mereka sekarang tidak terlihat kebingungan lagi. Hanya saja mereka menyuruhku untuk membeli peralatan make-up sendiri, "Beli dong" ucap Salsa, "Minjem mulu" lanjut Ela, "Minta itu, bukan minjem" sambung Siti, aku hanya tersenyum sambil mengucapkan "Thanks guys" lalu berlalu begitu saja keluar, mengambil motor dan tancap gas ke kampus. Buku harian Ariana tidak lupa ku bawa, karena kalau malam mungkin aku tidak akan sempat membacanya. Sebisa mungkin aku akan membacanya siang ini, setelah mata kuliah berakhir. Berarti aku harus menolak ajakan Miko kalau saja dia mengajakku makan siang.
__ADS_1
Ditaman yang biasa jadi tempat istirahat aku dan Miko, aku mulai mencari tempat duduk kosong yang nyaman dan teduh. Setelah mendapatkan tempat duduk aku mulai membuka buku harian itu. Halaman kedua, terlihat berisi biodata Ariana. Dari tanggal lahir yang ternyata 2 Desember 2001, harapan dan cita-cita, harapan: bisa menabung banyak uang untuk keluarga dan menyekolahkan adik-adik, cita-cita: pramugari. Bahkan makanan favorit dan minuman favorit, tahu isi dan air kelapa. Aneh sekali pikirku, halaman kedua ini tidak berfaedah. Aku melanjutkan ke halaman ketiga. "Ibu, Bapak, aku bukan anak yang mampu untuk menyenangkan kalian. Maafkan aku jika suatu saat nanti aku tidak seperti yang kalian harapkan. Tapi aku akan melakukan yang terbaik demi kalian, demi keluarga kita. Aku sama sekali tidak menyesal dilahirkan dari orang tua yang kurang mampu, aku sangat bersyukur sudah diberikan kehidupan yang cukup dan mampu membuatku tumbuh selama ini. Aku sangat berterima kasih kepada kalian dan berharap bisa membalas jasa-jasa kalian." bacaku di buku harian itu. Anak ini sangat baik begitulah penilaianku, hatinya baik sekali, sangat baik. Aku agak terharu. Mungkin kalau aku di posisi gadis ini, aku tidak akan mampu mengucapkan terima kasih. Dia kesulitan dalam ekonomi begitulah yang aku simpulkan. Bagaimana mungkin dia memutuskan berkuliah? Aku pikir tidak akan cukup untuk membayar uang kuliah dari gaji yang hanya cukup untuk membiayai kebutuhan sehari-hari. Itupun aku pikir tidak akan cukup jika dibandingkan dengan gaya hidupku. Pantas saja, baju-bajunya seperti model baju lama dan kuno. Pasti dia sangat berhemat dan tidak pernah belanja seperti gadis-gadis sebayanya.
__ADS_1