
Justin Leonard membawa Busur Kawat di punggungnya, dan melaju menuju Gunung Raja dengan menaiki kuda bertanduk. Gunung Raja adalah tempat berburu bagi Keluarga Kerajaan.
Gunung itu tinggi dan curam, dengan beberapa air terjun, tebing-tebing, lembah-lembah dan hutan-hutan yang menutupinya. Hampir semua binatang buas yang berada di sana berada pada level satu, hanya beberapa saja yang level dua.
Seperti butiran pasir yang tersapu ombak lautan, 43 ksatria lesap dan menghilang di kedalaman hutan sesaat setelah dikirim ke Gunung Raja.
"Wuuuzzzzz!!!"
Sebuah bayangan kabut setinggi satu meter melintas menembus semak-semak. Bayangan putih itu berlari melewati daratan terbuka untuk kemudian menghilang di balik hutan.
Bayangan putih itu sangat cepat hingga seseorang yang tidak memiliki kekuatan Seni Bela Diri tidak akan mampu mengidentifikasinya.
Dengan kemampuannya, Justin Leonard melihat bahwa itu adalah binatang buas berbentuk seperti kelinci.
Binatang buas itu berada pada level satu, seekor Kelinci Kilat. Ia dapat berlari super cepat dan memiliki kuku serta gigi yang tajam, tetapi ia memiliki banyak kelemahan. Terlebih saat mempertahankan diri.
Kekuatan dan kecepatan mereka setara dengan ksatria di Tingkatan Pertama dari Alam Kuning, kurang lebih.
"Itu hanyalah Kelinci Kilat, tidak cukup ideal untuk membuang- buang Anak Panah Petir." Justin Leonard yang tadinya sedang membidik kelinci itu lalu mengendurkan tangannya, la menggeleng dan memasukkan kembali anak panahnya di kantong belakang punggung.
Seperti yang sudah dijelaskan bahwa semakin tinggi level dari binatang buas yang berhasil dibunuh maka semakin tinggi pula ksatria itu mendapatkan hasil penilaian.
Kelinci Kilat berasal dari tingkatan pertama dari binatang buas level satu. Bagi Justin Leonard, membuang-buang Anak Panah Petir untuk binatang buas seperti itu tidak ada untungnya.
"Whoopssss!"
Terdengar suara benda yang menembus angin dari arah lain.
Sebuah Anak Panah Petir dilepaskan dan memercikkan kilatan- kilatan petir lalu mengenai kepala Kelinci Kilat.
"Bzzzzzzzzzz!"
Kepala Kelinci Kilat terkena Anak Panah Petir. Anak Panah Petir itu seketika membentuk gumpalan petir seukuran kepalan tangan, lalu tiba-tiba meledak. Bola-bola petir itu meledak ke segala penjuru.
Seekor Kelinci Kilat mati seketika dan tertimpa pohon.
Pangeran Keenam mengarahkan kuda bertanduk miliknya ke arah sasaran. Tanpa harus turun dari kuda, tangannya meraih anak panah yang menancap di kepala kelinci buas itu lalu menaikkan kelinci di tunggangannya.
"Saudara kesembilan, ini waktumu untuk berburu di Gunung Raja dan kau tidak berani membunuh binatang buas? Kau butuh sedikit keberanian untuk menjadi seorang lelaki." Pangeran Keenam mengejek Justin Leonard sambil membawa Kelinci Kilat di tangannya.
Menurutnya, Justin Leonard memang adalah seorang jenius di Seni Bela Diri. Namun, ini adalah pertama kali baginya berburu secara langsung di hutan. Ia menganggap bahwa menjadi takut adalah sesuatu yang wajar.
Lagipula, bertarung dan membunuh adalah dua hal yang sangat berbeda.
Berburu di Gunung Raja bukan hanya untuk menguji kemampuan seorang ksatria, melainkan juga keberanian mereka.
Jika seorang ksatria memiliki rasa belas kasihan yang tinggi sehingga itu membuatnya tidak sanggup untuk membunuh seekor binatang buang. Maka, ksatria itu tidak berguna, tidak peduli seberapa tinggi tingkatan pengolahan yang la kuasal.
Pangeran Keenam mencapai puncak dari Alam Kuning ketika ia berusia 18.
__ADS_1
Justin Leonard berkata, "aku hanya tidak ingin membuang-buang Anak Panah Petir."
Pangeran Keenam tertawa sebentar dan menjawab, "Kau benar- benar salah. Di sini tidak banyak binatang buas, dan tidak semua dari kita dapat berburu lima binatang buas dengan lima Anak Panah Petir.
Pangeran Keenam melaju dan menuju ke jantung hutan, meninggalkan Justin Leonard dengan pesan yang baru saja ia sampaikan.
"Gunung Raja memang tidak terlalu besar. Itu berarti aku harus menambah kecepatanku karena tidak banyak binatang buas yang dapat diburu!"
Justin Leonard melaju ke arah yang berbeda.
Justin Leonard bertemu dengan tiga Kelinci Kilat sejam yang lalu. Namun, lagi-lagi, ia tidak membunuh mereka. Sebaliknya, ia tetap mencari binatang buas dengan level yang lebih tinggi.
"Mooooooo!"
Suara dari binatang buas terdengar di telinga kiri Justin Leonard.
Justin Leonard menjadi senang. Ia segera beranjak dan mencari letak sumber suara. Di sana, ia menemukan tiga Banteng Buas yang berada di pinggir sungai.
Banteng Buas, adalah kelas rendah level satu dari binatang buas, ia memiliki kekuatan bertahan sama seperti seorang ksatria di Tingkatan Lanjutan atau Tingkatan Fajar dari Alam Kuning, kurang lebih.
Kekuatan Satu Banteng adalah mengacu pada kekuatan Banteng Buas ini.
Tetapi seseorang telah datang ke sana lebih dahulu, dan sekarang ia sedang berdiri di depan ketiga Banteng Buas itu.
Putri Pangeran Kesembilan,Yuxi, duduk di atad kuda bertanduk milikinya dan mengenakan jubah burung kerajaan. Rambut hitamnya bergerai sampai bahu. Ia tersenyum ceria dan berkata, "saudara kesembilan, kau terlambat. Ketiga banteng ini adalah milikku!"
"Moooooo!!!"
"Duaarrrrrr!!!"
Sebongkah batu mereka pecahkan dan terus berlari menuju Putri Kesembilan Komandan. Putri Kesembilan Komandan mengeluarkan tiga Anak Panah Petir dan meletakannya di senar panah, ia bersiap membidik dan menampilkan postur sempurna. Panah miliknya terlihat seperti bulan sabit.
"Splaassshhhhh!!!"
Ketiga Anak Panah Petir terlepas bersamaan dan mengenai kepala Banteng Buas. Anak Panah itu menancap sedalam tujuh inchi.
Kilatan-kilatan petir mulai muncul di kepala banteng, Lalu ketiga Banteng Buas itu seketika mati dan terlempar menuju sungai. Mereka mencetak kecipak air yang besar.
Putri Kesembilan Komandan meletakkan busur panah miliknya, ia menatap Justin Leonard dari kejauhan dan tersenyum ramah. "Teknik memanahku berada pada Kelas Rendah Tingkatan Manusia, dan aku bermaksud untuk memaksimalkan teknik ini. Bagaimana menurutmu, saudara kesembilanku?"
Justin Leonard menatap permukaan air yang berada di belakangnya,
lalu berteriak "Awas!!!"
Putri Kesembilan Komandan juga dapat membaca bahaya. Maka ia membalikkan badannya mencari letak binatang buas. Binatang itu dua kali lipat lebih besar daripada seekor Banteng Buas. Binatang itu keluar dari permukaan air.
Ia memiliki kulit setebal besi dan dua tanduk yang tajam. Binatang buas itu berlari menuju Putri Kesembilan Komandan.
"Bruukkk!"
__ADS_1
Kuda bertanduk Putri Kesembilan Komandan meringis kesakitan. Tulang-tulangnya terlihat retak, lubang sebesar mangkok tercetak ditubuhnya. Kuda bertanduk itu tumbang dan ambruk.
Apa yang terjadi adalah sesuatu yang terlampau cepat sehingga Putri Kesembilan Komandan tidak dapat menghindari dan akhirnya terjungkal ke tanah.
Putri Kesembilan Komandan berada dalam bahaya. Ia menggelinding ke samping dan mencoba untuk berdiri.
Namun tiba-tiba, bayangan besar menutupi kepalanya. Binatang buas yang sangat besar itu mendekat dan ingin menginjaknya.
Jika saja sampai terinjak oleh binatang buas ini. Tidak bisa tidak,
tubuhnya akan hancur berkeping-keping.
"Bzzzzzzz!"
Sebuah Anak Panah Petir dilepaskan dari kejauhan dan mengenai leher dari binatang buas, panah itu membuatnya mundur beberapal langkah.
Kaki besinya luput menginjak Putri Kesembilan Komandan dan binatang buas itu mengangkat kaki besinya ke udara. Lalu mencetak lubang setengah inchi di permukaan tanah.
"Ini adalah kelas medium level satu binatang buas! Banteng Besi! Tetapi kekuatan bertahannya tidak diragukan lagi, bahkan Anak Panah Petir tidak akan mampu menembus kulitnya!"
Itu bukan karena betapa kuatnya ketahanan fisik binatang buas, tetapi juga jarak antara Justin Leonard dan binatang buas yang sekarang menjadi sedikit lemah karena pengaruh Anak Panah Petir.
Justin Leonard naik kembali ke kuda bertanduknya. la dengan cepat melompat dan berlari menyeberangi sungai.
Kekuatan seekor Banteng Besi adalah sama dengan ksatria di Tingkatan Medium dari Alam Kuning, sedangkan kekuatan bertahannya adalah setara dengan ksatria di Tingkatan Akhir dari Alam Kuning, dimana kekuatan yang ia memiliki lebih tangguh daripada jenis binatang buas lain di kelas medium tingkat satu.
"Mooooooo!!!"
Banteng Besi menjadi sangat marah dengan ulah panah Justin Leonard. la mengangkat lagi kaki besinya dan mencoba menginjak Putri Kesembilan Komandan.
"Boomm!!!"
Mencapai tinggi empat meter, Justin Leonard mengambil Anak Panah Petir miliknya. Ia membidik, untuk kemudian memberi tembakan.
"Bzzzzzzz!"
Anak Panah Petir secara akurat mengenai tenggorokan dari Banteng Besi. Lalu Kristal Kilatan Petir muncul dan membentuk bola-bola petir, hingga akhirnya meledak sempurna di tenggorokan Banteng Besi.
"Splasshhhh!!!"
Banteng Besi itu mundur lagi oleh karena kesakitan yang ia derita di dalam mulut.
"Bruukkk!!!"
Akhirnya, Banteng Besi itu tumbang dan mengeluarkan suara yang dahsyat ketika tubuhnya bertemu dengan tanah.
Dengan hembusan nafas panjang, Putri Kesembilan Komandan berdiri dengan kaki gemetar. Itu tadi sangat berbahaya! Ia bisa saja mati terinjak oleh kaki-kaki besi jika Justin Leonard tidak membunuh Banteng buas itu.
Justin Leonard berjalan ke arahnya dan memastikan, "apa kau terluka?"
__ADS_1
Bersambung......