![REMINDER [ CERITA HARIAN ]](https://asset.asean.biz.id/reminder---cerita-harian--.webp)
Setiap satu minggu sekali, Akan ada rollingan tiap devisi. Yaitu, akan dapat jatah dimana harinya bisa memilih sendiri, atau jika tidak bisa harus bertukar hari dengan temannya yang lain. Dan untuk jatahku adalah hari Jumat.
Suka aja sih hari Jumat, karena jika ditinggal jumatan tidak akan sendiri meskipun berani.
Seperti hari ini. Rasanya Aku malas jika bekerja bersama mereka, yang mulutnya busuk semua. Tapi, apalah daya kalau memilih milih pekerjaan.
Jam 08.45 Aku sudah sampai di ruangan. Seperti biasa, baru ada Mas Wahyu sendirian disitu.
"Lho Mas, kamu nerusin yang kemarin toh?" Tanyaku.
"Hoo Ndro, sama aja nanti hitungnya per Minggu kaya biasanya. Cuma beda yang dikerjain aja. Lagian ini banyak banget gini" ujar Mas Wahyu.
Iya sih, memang banyak banget yang dikerjain kemarin. Secara, disini cuma ada empat orang. Sementara produksi kemarin banyak banget buatnya, jadi tidak mungkin cukup waktunya.
"Iya sih Mas" Aku mengangguk.
"Kamu ngga jajan Ndro?"
"Ini Aku tadi beli sayur hehe. Eh bukan sayur sih, tapi sambal teri. Habis pengen sih."
"Hahahahaha sudah kuduga kamu bakalan jajan."
"Ya habis gimana ya Mas. Emang jajanannya melambai sih. Kan Aku jadi tergoda."
"Wkwk bener banget, akhirnya kamu juga mengakui hal itu "
Kami berdua sama sama tertawa mendengar ucapan kami berdua yang tidak bermutu itu.
"Oh iya, sekarang Jumat e ya."
"Aaaahhh kok kamu malah ngingetin Aku sih Mas." Gerutuku.
"Ngingetin apaan?"* Tanya Mas Wahyu.
"Hari lah, apalagi."
"Hahaha iya ding, Aku juga baru sadar kalau kamu hari ini akan mengungsi disana."
"Ih ngeceee,"
"Selamat bersenang senang ria Yunaaa."
"Paan sih Mas,biasa aja ah. Yang ada Aku bakal dicengcengi seperti biasa."
"Makanya jadi orang itu yang tegas, kalau kamunya masih suka ngga enakan ya jangan ngeluh dibelakang dong." Tegur Mas Wahyu padaku.
Memang sih, Aku kerap kali kena tegur akan sikapku yang terkadang masih tidak enakan. Aku sendiri pun mengakui, jika punya sikap seperti itu tidak enak pada diri sendiri.
Kulihat jam di pergelangan tanganku, sudah pukul 09.00 tetapi tubuhku masih alot untuk berjalan. Aaaahh males sekali rasanya.
__ADS_1
"Lho, Yun kamu belum mengungsi?" Seru Pak Danang kaget melihatku masih duduk ditempat yang sama.
"Duh Pak, mager banget ini." Seru ku malas.
"Mager apa mager, nanti ketemu Farel lho disana." Aku memutar bola mataku dengan malas.
"Yang ada pada godain Yuna mulu Pak. Kaya ngga tau orang orang sana aja, umur doang yang banyak tapi pikiranya nol." Kataku,
"Eh ngomong apa sih Aku, malah ngaco." Aku menepuk bibirku yang terkadang suka asal ngomong. Pak Danang dan Mas Wahyu tertawa.
"Ngga papa Ndro, kaya sama siapa aja. Cuma kita kita ini yang tau. Udah sana ngungsi, udah mau lewat sepuluh ini. Nanti kamu dicariin."
"Iyadeh iya, Aku kesana sekarang." Aku berjalan dengan malas. Mau tak mau, suka ngga suka harus kesana. Padahal dulu Aku sempat ngambek ngga mau rollingan gitu, tapi akhirnya Aku mau lagi itu pun dipaksa hehe.
Ku lihat diruangan itu sudah banyak orang. Aku mengedarkan pandanganku melihat ke penjuru ruangan.
"Mbak Lina ngga berangkat mbak ren,?" Tanyaku kala tak melihat Mbak Lina disitu.
"Dia di belakang sekarang." Aku mengangguk paham.
"Pantesan kok ngga keliatan matanya." Ujarku lagi lalu duduk di kursi.
Ini yang Aku malas kalau terlalu tepat waktu. Bahkan sampai lewat lima belas menit pun masih ada yang Wira Wiri ngga jelas. Bukan malah melakukan apa tugasnya. Begini lah, kalau terlalu dienak malah berujung tidak tahu diri. Ups, sudahlah itu bukan urusanku. Toh terkadang Aku sendiri juga seperti itu hehe.
Ku lihat sekitar, ada produk yang lumayan masih banyak sisa kemarin. Hmm, setidaknya pagi pagi seperti ini ada kerjaan lah. Daripada tidak ada dan Aku malas jika harus jalan cari kerjaan pada devisi lain.
Akhirnya, kuambil satu persatu produk yang belum diberi kode. Ku kerjakan dengan santai.
"Yun, kamu bawa hape ngga?" Tanya Mbak Reni tiba tiba.
"Apa Mbak? Hape?" Tanyaku memastikan.
"Iya Yun, hape."
"Bawa ini Mbak, kalau ngga bawa nanti ngga bisa liat hitungan per menit nanti " jawabku.
"Setel musik Yun, atau cerita horor gitu."
"Nih mbak, ambil aja hapeku. Manut mau dengerin apa,." Kataku dengan menyodorkan handphoneku padanya, yang langsung diterima oleh Mbak Reni.
"Ini seriusan? Kalau ada chat dan Aku lihat gimana Yun?" Tanya Mbak Reni, tatapanya menggodaku.
"Apaan, chat dari siapa coba."
"Itu, Abang Farel misalnya."
"Eleh," balasku singkat. Ku kira Mbak Reni mau dengerin cerita horor, atau musik pop Indonesia atau manca negara. Pilihan Mbak Reni tak lain juga dangdut. Masih pagi gini dangdutan, Aku pasrah mendengar itu.
Aku tidak terlalu suka dangdut yang sekarang, terkadang liriknya tidak mendidik. Namun balik lagi, selera orang itu berbeda beda. Meski Aku sendiri terkadang sampai pusing mendengar nya jika sehari berulang ulang diputar.
__ADS_1
Ku abaikan musik itu sampai pada waktu Mbak Ningsih datang.
"Dek, tolong kasih kode ini duluan dong. Darurat ini, soalnya mau dikirim, orangnya udah nunggu tuh disana."
"Iya iya bentar. Tak habisin ini dulu, nanggung banget soalnya kalau mau langsung diganti." Ucapku seraya mempercepat yang kubawa.
"Ayo Dek, tak bantuin." Aku mengangguk saja mendengar hal itu.
"Mbak tau ngga? Masa junghwan makin gede seksrang," kataku memancing obrolan.
"Hoo dek, dia itu kecil kecil tapi tubuhnya kaya sapi, gede dan kekar.",
"Apa kabar sama hyunsuk coba." Aku tertawa membayangkan hyunsuk. Ohiya mereka adalah member boyband korea yang baru saja debut. Nah, dari Mbak Ningsih juga lah, yang membuatku keracunan oleh salah satu pesona dari ke dua belas member itu. Yaitu jihoon. Aku suka karena dia julit banget sama siapapun. Hehe.
"Gemes banget Aku tuh hei." Ujarku,
"Cakep lagi Doy." Kata Mbak Ningsih bangga. Aku tiba tiba mendengar Mbak Ningsih bilang Doy, seketika Aku teringat dengan konten mereka.
"Hahahaha astaga, doyoung yang malang. Aku tiba tiba ke imget sama konten yang jadi pohon itu. Mukanya lucu banget gila." Aku semakin tertawa.
"Ih tapi dia ganteng plus pinter." Belanya
"Iya memang, tapi dia kalau hal seperti ini susah."
"Daripada uncuk semakin gede malah semakin kecil." Ujar Mbak Ningsih lagi.
"Heh gimana konsepnya gede kecil gitu " seru ku seraya menyingkirkan barang yang sudah selesai.
"Bentar bentar, kamu tadi mau minga diduluksn yang mana?" Lanjutku bertanya.
"Ini," jawab Mbak Ningsih dengan memberiku barang.
"Biarin aja, penting Doy cakep." Bela Mbak Ningsih pada adiknya, hehe.
"Pokoknya jihoon aja," balasku semakin tertawa.
"Udah ah blackpink aja yang udah real cantik."
"Ish, kan pilihannya cuma treasure hehe."
"Dua duanya boleh sih sebenarnya."
Kami berdua terus berdebat, hingga beberapa orang yang diruangan ini menggelengkan kepalanya melihatku dan juga Mbak Ningsih sering adu oendapat tentang mahkluk asal Korea itu.
Aku sih tidak fanatik terhadap mereka, hanya sekedar kagum atas kejulitan park jihoon hehe. Itu benar benar menghiburku. Apalagi jika di setiap konten ada aja kelakuan mereka.
Namun bukan berarti Aku benci terhadap boygrup atau girl grup lainya. Jika menurutku lagu itu bagus, tetap akan ku dengarkan, namun jika tidak masuk ditelingaku, ya tidak akan ku dengarkan.
Cukup sekian dulu cerita hari ini, terimakasih:)
__ADS_1