![REMINDER [ CERITA HARIAN ]](https://asset.asean.biz.id/reminder---cerita-harian--.webp)
Pagi menyongsong, matahari mulai menampakkan sinarnya yang menyengat. Padahal waktu baru menunjukkan pukul 6 lebih sedikit. Untung saja masuk kerja jam delapan. Jadi, aku masih punya waktu satu jam untuk bersiap. Sehabis sahur tadi, Aku memang melanjutkan tidur lagi. Memang sih, seharusnya tidak boleh. Tetapi tubuhku benar benar lelah. Satu bulan lebih libur tidak menentu, membuat tubuh benar benar remuk.
Sebenarnya Aku tidak berpuasa, karena berhalangan. Tetapi jika siang Aku makan, tidak enak sama yang puasa. Yah, walaupun memang bisa sembunyi di kamar. Tetapi Aku lebih memilih ikut makan pas sahur. Toh nanti di luar jika lapar bisa jajan.
Aku berjalan ke kamar mandi dengan wajah masih mengantuk. Ku lihat Ibu juga sedikit terkantuk-kantuk ketika membuat besek. Hehe, jika melihat itu
Aku sedikit tertawa.
"Bu, kalau ngantuk itu tidur." Sapaku, yang membuat Ibu langsung membuka matanya dan melihat ke arahku.
"Ngantuk Yun, semalam tidurnya cuma bentar. Tau sendiri keponakan kamu itu kalau ngga sama neneknya rewel."
"Iya Bu, tau."
Setelah itu Aku kembali ke kamar mandi, hanya sebentar karena memang Aku kalau memang tidak hari libur, mandi singkat alias bisa dikatakan mandi bebek. Yaaa paling cepat 10 menit lah, dan waktu 15 menit untuk mengaplikan sunscreen, pelembab, dan serum. Maka dari itu, jika diberi waktu setengah jam untuk siap siap dari mandi sampai siap, waktu segitu lebih dari cukup.
Ku lihat jam di ponselku, sudah jam tujuh lebih lima. Hmm, udah segini aja. Cepet banget perasaan. Aku beranjak dari tempat dudukku, mengambil helm dan berangkat. Sebelumnya Aku berpesan pada Ibu,
"Bu, nanti kalau Mas Jefri kesini. Itu ya yang dibawa." Kataku sambil menunjukkan barang yang sebelumnya sudah ku persiapkan.
"Iya Yun, emang telat lagi Jefri?"
"Kurang tau Bu, palingan juga kesiangan." Ibu menganggukkan kepalanya paham.
"Yuna berangkat dulu ya Bu, udah jam segini." Kataku berpamitan.
"Iyaa, hati hati. Ngga usah ngebut, ingat bawaanya " Aku mengangguk paham lalu segera berangkat. Jika ditanya Ningrum, dia sepertinya libur. Mungkin besok dia baru berangkat, karena memang yang devisi lain libur berangkatnya ganti gantian.
Udara yang masih dingin menambah kemalasan ku untuk berangkat. Namun segera ku tepis. Matahari sudah memancarkan sinar panasnya, tetapi karena masih pagi dan udara pedesaan yang cenderung masih segar.
Ku nikmati perjalanan kali ini. Kapan lagi bisa bebas pulang pergi sendirian? Jalanan yang masih sepi dan lancar membuatku cepat sampai di perusahaan. Ku lihat baru ada dua sepeda motor. Yang ku taksir itu adalah Mbak Devi, dan Mbak Della dari devisi packing.
Ku raih ponsel yang ada di dashboard, ku lihat jam yang ternyata masih jam setengah delapan lebih sepuluh menit. Pantas saja, ternyata Aku yang terlalu cepat. Padahal juga sudah mampir ke jajan pasar juga.
__ADS_1
Akhirnya Aku memilih masuk kedalam. Sembari menunggu orang pada datang, Aku memilih untuk ganti baju.
"Lho, Mas. Tumben kamu siang banget berangkatnya." Tanyaku, yang kaget saat hendak menabrak Mas Wahyu.
"Kaget Aku Ndro, hoo ini. Sesekali berangkat mepet. Lagian ini harusnya libur juga." Balas Mas Wahyu.
Aku mengangguk paham, lalu kembali berjalan ke kamar mandi. Setelahnya kembali masuk ke ruangan. Ku lihat sudah ada Mas Jefri disana, padahal tadi ku lihat belum kelihatan matanya.
"Masih pagi Mas, kamu ngapain senyum senyum sendirian kaya orang gila gitu?" Tanyaku pada Mas Jefri.
"Tau ngga Yun?"
"Engga Mas, kan belum bilang." Balasku yang hanya disambut kekehan olehnya.
"Kamu tau kan? Kalau Helm ku itu terkadang kuberi bando ini?" Mas Jefri berkata sambil memperlihatkan bando yang biasanya ada disitu.
"Hoo, terus?"
"Ternyata Aku itu ngga sadar, pas helmnya udah ku pakai. Dan ternyata bandonya belum ku lepas." Astaghfirullah, Aku ngakak. Bahkan Mas Wahyu yang di dalam ruangan pun ikut tertawa.
"Astaghfirullah Mas, kok bisa? Yakin nih mesti pada mikir kok ada lelaki unyu kaya gitu hehe "
"Unyu pala kau, malu Aku yang ada." Gerutu Mas Jefri.
"Terus lanjutannya gimana? Kamu balik kesini balikin ini terusan?" Kataku memperlihatkan bando itu. Emang unyu sih, bando kelinci gitu.
"Ya Aku terus balik kesini, masa ku bawa pulang. Untung aja packing belum pada pulang."
"Cakep Mas, ku sarankan mendingan besok kalau kelupaan gitu lagi sekalian aja dipake hehe." Aku ngakak membayangkan hal itu.
"Ah apaan, malu Yunnn."
"Udah Mas, sana ganti. Hampir jam delapan lebih ini. Vian Fani juga udah di dalem tuh." ujarku mengingatkan.
__ADS_1
"Terus Mas Defri?" Mas Jefri berkata berbisik.
"Ngga ada Mas, kan kemarin katanya mau ke rumah temennya."
"Oh iya Ding."
"Kamu kangen dia mas?" Mas Jefri bergidik ngeri mendengar hal itu, aku tertawa kerasa melihatnya yang lucu.
"Males banget Yun." Balasnya yang lalu masuk guna berganti, yang ku ikutin untuk segera bersiap bekerja.
"Gimana Jef? Nanti ulangi lagi ya." Mas Wahyu berkata pada Mas Jefri.
"Apanya Bang?"
"Itu, pake bando."
"Astaghfirullah Bang, itu adalah suatu kelupaan yang menyebalkan."
"Udah sana, kamu nimbang bahannya dulu."
"Oke Bang, siap."
"Ini kita cuma ber lima beneran toh,"kata Mas Wahyu.
"Ya gimana lagi Mas, Mas Didi kan libur. Pak Danang pulang kampung. Kasihan istrinya dua kali lebaran ngga bisa pulang, mungkin kangen keluarganya juga."
"Tapi kok aku ngga ada yang merindukan ya?" Tanya Mas Wahyu padaku. Ku lirik dia dengan malas.
"Makanya kamu kalau sama saudara kamu yang pulang jangan galak galak." Kataku tertawa.
"Hoo tuh bang, kamu itu kan bar bar."
"Aku shlayyyyy gini kok bar bar." Aku dan Mas Jefri bertatapan lalu memutar mata malas.
__ADS_1