![REMINDER [ CERITA HARIAN ]](https://asset.asean.biz.id/reminder---cerita-harian--.webp)
Sekitar pukul 03.00 WIB, Aku terbangun. Sebenarnya memang sudah ku alarm sih, dan ku paksakan bangun meski kantuk masih saja menyerang dan semalam juga tidur jam dua belas, demi target. Akan tetapi, tetap saja belum mencapai target meski sudah sampai tengah malam seperti itu, dan mau tak mau harus bangun lebih awal juga.
Dengan menahan kantuk yang teramat sangat, ku buat segelas teh hangat guna menemaniku bekerja.
Ku putar beberapa musik sholawat, agar tak terlalu mengantuk. Hingga menit demi menit terlewati begitu saja, dan adzan subuh mulai terdengar.
"Cepet banget sih subuhnya." Gumamku dengan meregangkan kedua tanganku yang memang pegal.
Aku masih asyik bergelung dengan pekerjaanku, saat suara mengagetkanku baru aku tersadar.
"Lho Yun, kamu bangun dari jam berapa?" Ibu nongol di pintu kamarku, mungkin karena mendengar suara musiknyang ku putar, jadinya tau.
"Astaghfirullah Bu, Ngagetin Yuna banget." Kataku yang masih terkaget.
"Hehe, habisnya kamu terlalu fokus sih. Itu kamu mulai jam berapa? Perasaan tadi malem juga hampir tengah malam kamu selesainya?"
"Hweee belum target Bu, kurang banyak. Tadi malem itu Yuna keburu beneran ngantuk."
"Yaudah, kalau gitu mendingan subuh dulu nanti baru dilanjutin." Pinta Ibu padaku.
"Iya Bu, tadi sih niatnya Yuna juga gitu. Tapi nungguin adzan dulu biar selesai." Ibu mengangguk.
"Kalau gitu, Ibu tinggal ya. Kamu jangan lupa subuh dulu baru dilanjutin." Seru Ibu lagi,
Aku bergegas meninggalkan pekerjaanku sebentar guna melaksanakan sholat subuh. Ku tengok di dapur yang ternyata Ibu belum ada disana,
'Mungkin masih sholat' pikirku, yang langsung ku tinggalkan lagi menuju kamar. Aku memang lebih suka sholat di kamar, karena biar sekalian ngga Wira Wiri kalau memang lagi nugas.
Hanya cukup beberapa menit Aku melaksanakan sholat, laku setelahnya Aku kembali bergelut dengan pekerjaanku lagi.
Tak terasa, dari genteng kaca yang ada, sudah terlihat sangat cerah. Ku tengok jam di meja sebelahku. Sudah menunjukkan 05.30.
"Baru jam setengah enam tapi udah siang banget gini. Apa Aku ya yang jarang keluar rumah kalau angun" gumamku.
Ku tinggal pekerjaan tadi, yang kebetulan memang sudah selesai. Hampir tiga jam Aku gelut dengan itu dan hanya demi cuan hehe.
Aku berjalan keluar rumah, terlihat langit sudah cerah dan matahari juga belum tinggi. Pemandangan langka bagiku, yang jarang sekali dan hampir tidak pernah keluar ketika bangun dan hanya keluar ketika sedang menjemur pakaian.
"Eh Ayah, tumben belum ke pasar,?"
__ADS_1
"Lha, kamu tumben keluar,?" Aku tertawa, sebenarnya sangat malu jika hal ini diketahui banyak orang, jika pun tahu pasti akan berfikir jika Aku tidak ngapa ngapain.
"Hehe, Ayah mah suka gitu. Ini juga karena Yuna kepo Yah. Baru jam segini udah kaya jam delapan aja."
"Iya Yun, kalau subuhnya itu lebih awal pasti paginya juga lebih awal ", Aku hanya meng oh kan tetapi paham apa yang dikatakan.
"Gitu ya Yah, tapi emang bener sih. Apalagi kalau cuaca lagi cerah cerahnya gini pasti bakal kaya lebih siang "
"Pinter." Balas Ayah padaku.
", Yaudah Ayah ambil sepeda dulu ya. Mau ke pasar soalnya, mumpung yang Deket sini lagi pasaran."
"Iya Yah, hati hati jangan ngebut ngebut di jalan.", Pesanku pada Ayah yang langsung diiyakan olehnya.
Ayahku memang lebih suka bersepeda, selain karena memang tidak bisa memakai sepeda motor, tentunya juga karena bisa menikmati udara pagi yang benar benar masih segar.
Setelah ku rasa sudah cukup lama menikmati suasana segarnya pagi, Aku kembali ke kamar, membereskan peralatan yang tercecer dimana mana setelah ku gunakan tadi. Lalu Aku bergegas ke dapur, agar kalau bisa ada yang di bantu.
"Ibu, Yuna bantuin apa nih?" Tanyaku pada Ibu
"Emang kamu udah selesai?" Ibu balik bertanya padaku.
"Udah target juga?"
"Udah Ibu udah, tenang saja Ibu ngga usah khawatir. Kalau Yuna udah bertekat target tentu saja bisa dong." Kataku menyombongkan diri hehe.
"Iya iya Ibu percaya."
"Jadi Yuna harus bantuin apa nih Bu?" Tanyaku lagi.
"Ngga ada yang perlu dibantuin sih sebenarnya. Udah kamu ke depan aja, nyapu atau apa gitu. Lagian masih jam segini kok. Kamu berangkat juga nanti jam delapan," ujar Ibu, memang sih belum ada jam tujuh. Lebih baik Aku menyetrika daripada cuma dudukan.
Jam hampir menunjukkan pukul delapan pagi, Aku cukup bersiap tinggal menunggu jam saja. Memang sih, dari pada Aku menunggu Ningrum yang lama lebih baik mepet saja waktu berangkatnya. Hehe, malas jika harus menunggu soalnya.
Sampai pada waktunya akan berangkat, Aku segera berangkat dengan menghampiri Ningrum dulu.
"Wah Mbak Yuna bawaanya banyak, kalau ngga banyak berdua aja lagi." Seru Tante Cia yang melihatku membawa bawaan banyak. Aku tertawa tidak nyaman mendengar ucapan itu.
"Iya Tante, santai aja."
__ADS_1
"Lho, kata Yuna aja santai itu Bu." Seru Ningrum dari dalam. Lalu kami berdua berangkat. Memang sih, untuk saat ini kami sendiri sendiri dulu. Mengingat bawaan yang banyak, ataupun jika bawaan Ningrum sedikit pun kalau tidak Aku yang memulai dulu untuk berboncengan, Ningrum sendiri tidak mau memulai.
Jujur, terkadang Aku kesal jika seperti itu. Tapi ya sudah lah, toh itu keinginan dia sendiri.
Setelah sampai, Aku bergegas ke ruangan dengan sebelumnya mengambil baju ganti lebih dulu.
"Duh mass, ini laundry kemarin perasaan banyak banget deh " ujarku setibanya di ruangan itu.
Mas Wahyu yang sedang mengerjakan laporan tertawa ngakak melihatku,
"Hoo Ndro, Aku tadi pas berangkat belum ada sih. Jadi kamu deh yang bawa" Balasnya
"Ngga papa Mas, santai aja. Toh Aku juga dari parkiran kok."
Aku kembali diam, lalu fokus pada ponselku. Mas Defri sendiri sebenarnya sudah berangkat, bahkan lebih awal dari diriku. Tetapi, mengingat jika dirinya kemarin saja kalau tidak diajak ngomong duluan ngga bakal ngomong, dan Aku bukan tipe yang ngajak ngobrol duluan jika tak terlalu kenal pun cuek saja.
Karena kalau urusan pekerjaan, mau kenal ataupun tidak jika itu bekerja dalam tim juga akan berinteraksi.
"Ndro, kamu ambil kantung dulu ya dikantor atas? Ini mau di pake soalnya " seru Mas Wahyu padaku.
Aku yang memang tidak masalah jika disuruh kemanapun, oke saja dan langsung gass.
"Okee mass, yang diruangan biasanya kan?"
"Hoo Ndro." Aku berjalan santai. Ku lihat di koridor ataupun lorong masih banyak orang yang wira wiri, bahkan di jam sekarang yang sudah lewat dari jam kerja. Memang sih, terkadang orang kalau sudah dienakkan jadinya tidak tahu diri. Tetapi itu juga tergantung atasannya juga sih.
Mas Putra yang kebetulan melihatku melintas, memanggilku.
"Eh Yun Yun, sini bentar." Seru Mas Putra. Aku yang bingung, menghampiri saja.
"Kenapa mas?"
"Gini Yun, tadi ada dua orang freelance baru. Kemarin Mas Wahyu minta kan? Kebetulan aja kamu disini, jadi kalau kamu yang ngajarin mereka dulu bentar gimana? Daripada manggil mas Wahyu dan itu harus nunggu?"
Aku menimbang sebentar, sebenarnya Aku itu kalau disuruh mengajari dan ditatap dengan fokus itu malah akan berujung gugup. Ini saja jantungku sudah berdebar meski belum sampai di ruangan itu.
Ku lihat diruangan itu, ada dua orang lelaki dan satu perempuan. Yang ku tahu, perempuan itu adalah kakak dari Farel.
"Jadi gitu mukanya kakaknya Farel" gumamku dalam hati
__ADS_1