![REMINDER [ CERITA HARIAN ]](https://asset.asean.biz.id/reminder---cerita-harian--.webp)
Setelah kurang lebih dua mingguan, Farel sudah tak mengajakku keluar lagi. Namun bukan berarti tetap tak gencar mendekatiku lagi. Setiap dirinya sedang senggang, ataupun sedang ingin jalan jalan, dia pasti datang ke ruangan, meski dengan alasan utama ke wc.
"Besok buat ngga bang?", Tanya Farel pada Mas Wahyu. Ku lirik sekilas Mas Wahyu yang menatap Farel dengan tatapan yang kira kira kalau di ekspresikan seperti ini 'apaan sih ni orang', seperti itu.
"Emang kenapa rel? Kamu mau bantuin?" Balas Mas Wahyu.
"Aku sih oke aja Bang, besok kalau habis selesai mixing tak bantuin."
"Emang Pendingan ngga banyak?" Tanya Mas Wahyu lagi.
"Engga Bang, mixing aja dikit dikit dan itu pun ngga langsung dihabisin kaya biasanya."
"Sabar, gantian dulu yang rame haha."
"Berapa banyak sih bang emangnya?"
"Lima ribu rel, kamu kalau mau bantuin ya sini aja. Temenin tuh si Yuna." Celetuk Pak Danang menggantikan Mas Wahyu. Ku lihat Mas Wahyu tetawa mendengar ucapan Pak Danang, lalu setelahnya menatapku dengan mengejek.
"Tuh Ndro."
"Paan sih mas."
"Kamu ngga dicariin rel? Udah bilang belum tadi kalau mau kesini?"
"Udah bang." Balas Farel singkat.
"Yakin udah pamit? Terus ini kenapa Ibu kamu nanyain?" Ujar Mas Wahyu yang bergelut dengan pesannya. Ku lihat Farel sedikit panik mendengar nama Ibunya disebut.
"Seriusan bang? Yaudah Aku balik ya, makasih." Ujar Farel lalu berlari kecil guna kembali ke tempat asalnya.
"Emang dicariin Mas?" Tanyaku penasaran. Mas Wahyu tertawa mendengar pertanyaanku.
"Hehe engga to, habis Aku sebel. Jam kerja kok main main. Mending kalau bantuin, cuma ngobrol aja mana mau Aku tempat sini jadi persinggahan."
"Sudah kuduga" Balasku singkat.
"Ya gimana ya Ndro, Aku kalau sama dia itu agak kurang sreg. Lagian Aku juga ngga tau sikap dia di lain tempat gimana. Takutnya kalau kita bicara hal serius, terus tidak sengaja ngomong sama orang sana. Bahaya. Tapi bukan berarti Aku nuduh lho ya, hanya antisipasi."
"Iya Mas, Aku paham sama yang kamu bilang."
"Kalau Farel itu Mas, menurutku masih manut manut aja sama apa yang dibicarakan. Tapi kalau aslinya juga Aku ngga tau lho ya, dia juga masih anak kecil soalnya. Selisih berapa tahun sama kamu Yun?" Ujar Pak Danang kepadaku,
"Cuma satu tahun sih, tapi lulusnya dua tahun di bawahku. Kayanya Aku yang terlalu cepat sekolah dulu " jawabku tertawa.
__ADS_1
"Nah, tuh Mas. Dia aja tetap dibawah Yuna satu tahun. Tetapi, kalau dia bisa mikir dewasa sih ngga masalah. Cuman, orang orang sana kan banyak yang kaya bocah." Sambung Pak Danang lagi.
"Iya Pak, bener. Kamu udah diajak ngapain sama Farel Ndro?" Kata Mas Wahyu kepadaku. Aku hanya melirik sinis ke arah Mas Wahyu namun tak dipedulikan.
"Emang Aku apaan diajak langsung mau."
"Inget Ndro, kamu perempuan. Jangan jadi murah hanya karena seorang lelaki yang merayumu. Jual mahal malah bagus."
"Tuh Yun, kalau suhu udah berkata emang bener. Aku sebagai lelaki juga mengakui kok." Sambung Pak Danang lagi.
Jujur, disini Aku berasa seperti punya Ayah dan juga Kakak lagi. Begitu banyak wejangan yang diberikan padaku, agar nanti kalau sudah keluar dari perusahaan ini, bisa jadi pelajaran yang entah dengan siapapun.
"Iya Massa, Pakkk. Makasih atas sarannya. Jangan bosan bosan memberiku wejangan."
"Wani piro?"
"La maunya apa?"
"Maunya tetep jajan yang enak enak Yun, iya kan Mas?" Mas Wahyu tertawa mendengar ucapan Pak Danang yang memang benar adanya.
"Weh jam berapa ini mas?"
"Setengah tiga ini pak,"
"Boleh Pak." Pak Danang lalu berlari kerumah. Untung saja rumahnya hanya belakang perusahaan, jadi tidak terlalu memusingkan jika keadaan darurat seperti ini masih harus berjalan jauh dan sebagainya.
"Pendingan hari ini masuk berapa Mas?" Tanyaku seusai Pak Danang keluar lagi.
"Bentar, Aku dari tadi belum ngecek." Mas Wahyu mengambil handphonenya, lalu bergelut dengan ponselnya.
"Eh Gilak, ini kenapa jadi banyak banget pendinganya."
"Berapa sih Mas?" Tanyaku penasaran
"Delapan ribu Ndro. Ini kepala produksi tanya kalau sehari produksi sekitar 750 pcs kita bisa ngga?" Tanya Mas Wahyu padaku. Aku menganga tak percaya mendengar ucapannya itu.
"Delapan ribu Mas? Waw mantap. Terus sehari minta 759 pcs? Itu distributor apa gimana? Pesenya banyak banget perasaan."
"Distributor palingan Ndro."
"Tapi Mas, ini aja kita bertiga buat 500 pcs sampai sore aja lelahnya minta ampun, udah gitu mana ngga selesai, kalau ditambah target segitu ya pingsan Aku." Protesku pada Mas Wahyu.
"Terus buat wadahnya juga belum mas, kenapa kamu ngga minta orang aja sama Mba Sekar?"
__ADS_1
"Hoo ya Ndro, bentar coba tak tanyain lagi sama Mbak Sekar."
"Nah, gitu kek." Aku tersenyum puas mendengar Mas Wahyu yang mau mendengarkan saranku. Seperti itulah yang ku harapkan dari sebuah pertemanan, saling menghargai kalau pun diminta pendapat.
"Kira kira mau minta berapa orang Ndro menurutmu?" Tanya Mas Wahyu lagi.
"Secukupnya Mas, tergantung target yang diberikan mereka kan kalau itu? Kalau misal target 750, berarti dikali dua kan? Khusus yang buat wadahnya, palingan 4 apa 5 orang, jadi sehari itu satu orang kira kira harus bisa membuat 300 an, eh iya ngga sih Mas menurutmu?"ujarku yang langsung tersadar, kenapa malah Aku yang repot.
"Hoo Ndro, ummm berarti kalau sekiranya sama minta yang bantuin khusus untuk produksi sendiri 4 juga, menurutmu sini terlalu penuh ngga ndro?"
Aku melihat sekeliling sebelum menjawab pertanyaan Mas Wahyu.
"Berarti jadinya kita nanti 7 orang gitu? Iya ngga? Kalau iya, menurutku sih ruangan ini bakalan pas Mas, selain barang juga lho ya."
"Aku harus minta delapan orang ya kira kira? Kamu mau minta dicariin temen cewe ngga?" Tanya Mas Wahyu padaku, Aku pribadi tertawa mendengar hal itu.
"Masss, kamu tau sendiri kan? Aku itu mau disini laki semua, atau ada temennya perempuan juga ngga masalah Mas. Asal orang itu bisa bekerja sama dalam hal kaya ginian aja."
"Cakep Ndro. Aku setuju banget kalo kaya gini." Mas Wahyu tertawa puas lalu kembali bergelut dengan ponselnya lagi.
"Ini juga perasaan dari pagi belum selesai selesai deh Mas." Aku tertawa sendiri dengan ucapanku.
"Ya karena kita cuma bertiga Ndro." Aku menghela nafas panjang, mengiyakan karena memang benar iya.
"Ini kata Mbak Sekar mau dicariin freelance Ndro, sesuai pesanan. Delapan orang,"
"Terus ditanyain kriteria juga ngga Mas?"
"Engga Ndro, cuma Aku sendiri udah berpesan sama Mbak Sekar, cariin yang bener bener mau kerja, kalau ngga gitu nanti kita juga yang repot soalnya."
"Hooh Mas, terus kapan itu?"
"Sabar Ndro, baru juga dicariin sekarang. Palingan juga kalau besok udah ada dipakai dulu untuk buat wadahnya. Secara kalau produksi tanpa wadahnya ngga ada, tentu saja ngga bisa kan ya"
'Benar juga' pikirku.
"Ya udah Mas, manut aja sedikasihnya sama mereka."
"Besok kalau udah ada, kamu jadi mentor ya buat ngajarin yang baru.", Mas Wahyu tertawa dengan bicara kepadaku.
"Ih kok Aku Mas, Aku itu kalau disuruh ngajarin terus diperhatiin lekat gitu yang ada malah gugup Mas.",
Mas Wahyu semakin tertawa mendengar penjelasanku yang sebenarnya dirinya sendiri juga sudah tahu.
__ADS_1