![REMINDER [ CERITA HARIAN ]](https://asset.asean.biz.id/reminder---cerita-harian--.webp)
Aku pulang dengan santai. Sendiri sih soalnya. Apalagi Aku lebih suka menjelajah dulu jika pulang. Seperti saat ini, Aku jalan dengan arah yang berbeda dari arah berangkat tadi.
"Ndro, kamu pulang lewat mana?" Tanya Mas Wahyu sebelum Aku keluar dari parkiran.
"Aku lewat arah berbeda Mas. Mau lihat lihat, mumpung ngga lembur kali ini. Jadi bisa santai."
"Lha Ningrum?"
"Dia duluan, mungkin ngira Aku lembur. Tapi ngga papa, kan biasanya kita juga keluar paling akhir."
"Iya sih,"
"Lha kamu mau mampir kemana dulu Mas? Ayo mau jajan apa" Aku tertawa, semakin suka lagi jika orang orang di sekitarku jadi suka jajan sepertiku. Boros sih, tapi Aku suka ngeracuni seperti itu. Hehe.
"Ih dasar ratu jajan."
"Heleh kamu aja mau tuh Mas diracuni olehku." Kataku mencibir, namun tak urung diiyakan oleh Mas Wahyu.
"Udah ah, mau pulang mau jalan jalan sambil nunggu buka "
"Ikut."
"Ya Ayooo." Aku segera menstarter sepeda motor. Dan diikuti Mas Wahyu dibelakangku.
"Emang mau jajan apa sih Mas?" Tanyaku lagi sebelum benar benar berjalan.
"Pengen lotek sih, hehe "
Aku memutar mata malas, ujung ujungnya memang itu yang diinginkan. Tapi kayanya enak juga, hehe. Ah Aku jadi membayangkan.
"Yee kirain paan. Dah lah, yuk pulang." Ku nikmati perjalanan ini dengan santai.
Jalan yang semakin sore semakin ramai, membuatku berfikir jika akan sangat sulit ketika ada jajanan yang diseberang jalan. Ramainya itu masyaallah. Namun semua jajanan itu hampir menggoda imanku. Kalau saja semua yang segar segar Aku berhenti dan membeli, mungkin Aku sedang kalap hehe.
__ADS_1
Akhirnya aku hanya membeli es campur. Sudah biasa sih sebenarnya. Namun Vibes puasa cari es campur rasanya akan berbeda. Karena setelah berpuasa, dan hampir buka itu godaanya banyak banget.
Sesampainya dirumah, ku lihat jam sudah menunjukkan pukul lima lebih 15. Waw, ini waktu terlama yang Aku jalani selama ini. Satu jam seperempat ku habiskan dengan menikmati jalanan yang ramai. Anggap saja itu ngabuburit hehe.
Lagi lagi hanya ada Ayah dan Adikku yang dirumah. Kakakku dan keponakanku mungkin sudah ke masjid. Sementara Ibu palingan juga sudah ke musholla.
Aku masuk dengan membawa jajanan yang kubeli tadi.
"Dek, ini ada es. Pilih aja mau yang mana, beda rasa semua itu. Ayah juga pilih aja, nanti Aku sisanya." Ucapku pada Adikku, dan juga Ayah.
"Aku es cincau ya Mbak?" Tanya Adikku. Aku mengangguk mengiyakan.
"Iya Ambil aja. Ayah mau yang mana? Es Oreo apa es buah?"
"Buah aja to nduk, Ayah mana tau minuman Oreo kaya gitu." Aku tertawa. Memang sih, minuman seperti ini hanya kaum milenial yang tau.
"Iya Yah, Yuna tau. Yaudah ini ambil aja." Ujarku, lalu Aku berjalan ke kamarku. Guna berganti baju sebentar. Karena waktu magrib hanya tinggal beberapa menit lagi, dan Aku akan menyiapkan makanan untuk berbuka dan ke masjid. Karena keponakanku sering bilang, jika Aku pulang agar ke masjid sekalian jemput. Dan permintaan itu ku turuti.
Ku dengar suara adzan magrib mulai berkumandang. Alhamdulillah waktu berbuka sudah datang. Seperti biasa, ketika sudah jam buka rasa lapar akan hilang dengan sendirinya. Aku memutuskan untuk meminum yang ku beli tadi. Tanpa makan pun, rasanya sudah sangat kenyang.
"Mbak, kamu ngga makan?" Tanyanya.
"Nanti aja Yah, mau kemasjid dulu sekalian jemput Lisa."
"Oh yaudah sana," aku kembali jalan dan segera ke masjid. Ku lihat Adikku sudah kembali ke kamar.
*****
Tarawih tinggal dua kali. Hari ini dan juga besok. Aku berusaha berangkat, karena jika Aku sekali malas, itu akan ke terusan. Dan Aku sangat sebal ketika diriku seperti itu.
Untung saja pekerjaan lemburan sudah sedikit ada cicilan. Dan juga jadi tidak terburu buru. Sebenarnya jika banyak lemburan yang dikerjakan di rumah. Hasil per minggunya lumayan buat jajan. Yang ku ingat, stok masih ada beberapa yang sudah siap packing.
Selepas dari tarawih, ku rebahkan tubuhku di atas kasur. Aku menatap langit langit kamarku. Pikiranku mulai bercabang. Tiba tiba Aku teringat, jika Aku masih mempunyai camilan.
__ADS_1
Aku bergegas beranjak dan segera mengambil. Ku lihat masih ada satu bungkus minuman coklat. 'Ku buat aja kali ya, buat temen bengong hehe.' batinku. Akhirnya aku membuat minuman hangat disertai camilan. Sungguh nikmat.
Ku lihat keponakanku dan juga Kakakku sudah mantengi televisi. Entah menonton apa, karena Aku tidak pernah ikut campur jika dalam hal tonton menonton. Kurang tertarik pada televisi lebih tepatnya.
"Tante, mau buat apa?" Tanya keponakanku.
"Mau buat minum dek, kenapa?"
"Mmm minuman apa?"
"Coklat, Adek mau?" Ku lihat keponakanku mengangguk mau.
"Ya udah, Tante kasih uang ya. Nanti biar dibeliin sama Mas Budi?", Tanyaku.
"Iya Tante." Adikku, yang kemungkinan mendengar ucapanku langsung saja menjawab.
"Ngga mau Mbak, aaku males."
"Ngga boleh gitu dek. Sana itu keponakannya dibeliin dulu. Kalau kamu mau jajan, sekalian aja ngga papa " ujarku, Aku memang tidak tegaan jika menyangkut dalam hal perut. Mendengar ucapanku, sepertinya Adikku itu tertarik.
"Seriusan?" Tanya Budi, Adikku.
"Ya serius lah, sejak kapan mbak bohong?" Adikku cengengesan lalu menggeleng. Aku menggelengkan kepala melihat kebiasaanya itu. Lalu setelahnya ku berikan uang padanya agar segera membelikan yang dimau.
Setelah adikku pergi, Aku kembali ke kamar dengan membawa coklat hangat. Suasana malam ini cukup cerah, di sisa ramadhan yang tinggal menuju halal. Terlalu cepat ramadhan berlalu. Semoga tahun depan bisa merasakan ramadhan lagi. Aamiin kata batinku.
"Mbak, ini kembaliannya.", Ujar Adikku tiba tiba. Sontak saja hal itu membuatku benar benar terkejut.
"Duh dek, ngagetin deh kamu itu." Sentakku padanya, namun hanya dibalas tawaran darinya.
"Udah jajan? Lisa udah dibeliin juga?" Kataku memastikan lagi.
"Iya Mbak, udah. Tuh dia milih sendiri jajajanya." Kata Adikku dengan menunjukkan jajanan. Aku mengiyakan lalu setelah itu adikku pamit kembali ke kamar. Dan Aku juga tak bertanya lagi.
__ADS_1
Semakin malam, kantukku semakin menyerang. Ku lihat jam di ponselku yang sedari tadi tak kusentuh. Baru jam sepuluh malam sih. Tetapi mata ini terasa sangat berat. Aku memutuskan untuk tidur, karena masih harus menyambut besok hari, yang tidak ada kata libur meski ku tahu perusahaan lainya pasti libur.