![REMINDER [ CERITA HARIAN ]](https://asset.asean.biz.id/reminder---cerita-harian--.webp)
"Mbak Ningsih ngga berangkat sel?" tanyaku pada salah seorang perempuan yang satu ruangan dengan Mbak Ningsih.
"Berangkat tuh, sembunyi lho dia." balas Selin.
"Walah gitu, la soalnya tumbenan banget ngga nongol. padahal biasanya mah udah kesana kemari."
"Samperin aja sana,"
"Males banget, nanti kalau minta tanda tangan juga lihat kok." balasku singkat lalu kembali melanjutkan pekerjaanku.
"Lho Farel. Tumben banget kesini." seru Selin lagi.
"Gimana to sel, kan sekarang Jumat berkah." Seru Mbak Lina mendahului.
"Ohiya ya, Jumat ding ya sekarang. Lupa aku," Sedangkan Aku hanya diam mendengarkan mereka berbicara, meskipun ujungnya Aku juga bakal kena.
Hal seperti ini sudah biasa sih bagiku, kalau ngga dijawab mereka akan tanya terus. Sedangkan kalau dijawab, akan semakin menjadi jadi
"Dedekkkkkk." Sapa Mbak Ningsih dengan keras, yang lalu di pelototi oleh beberapa orang disitu. Aku tertawa melihatnya.
"Berisik Mbak Ning."
"Iya itu dateng dateng teriak ngga jelas." sembur Mbak Reni dan Mbak Lina. Namun hanya dibalas cengiran oleh Mbak Ningsih. Dan untungnya Aku sudah paham akan hal itu.
"Kenapa Mbak?" tanyaku ketika dirinya sudah duduk didepanku. Kemudian dia dengan senyum menggoda, berkata pada diriku,
"Cieeee yang ulang tahun cieee."
"Astaghfirullah, cuma mau godain selamat ulang tahun aja harus senyum menggoda kaya gitu. Untungnya Aku masih normal." ujarku
"Yeee Aku normal kali dek."
__ADS_1
"Iya iya tau hehe."
"Ayo makan makan dek."
"Yuk, atur aja temlatnya." ujarku sembari tertawa.
"Ih seriusan, Ayooo."
"Iya ayoo"
"Ini tuh masih jam kerja Mbak Ningsih, kamu jangan Ngadi Ngadi " seru Mbak Lina.
"Embuh ini Mbak Lina. Ini Mbak Ningsih kayanya kura sekilo "
"We asem." Kami semua tertawa. Lalu kami melanjutkan pekerjaan kami masing masing sampai saatnya waktu pulang telah tiba.
...****************...
Aku menghela nafas kasar jika mengingat hal itu.
"Sshh cepet banget perasaan. Udah mau malam aja." desis ku pelan seraya beranjak dari tempat ternyaman ku itu. Ingin segera mandi meski malas benar benar menyerang.
"Yun, kamu udah pulang?" tanya Ibu. Aku tersentak kaget mendengar suara Ibu yang tiba tiba.
"Astaghfirullah Ibu, Yuna kaget Bu."
"Hehe habisnya Ibu lihat kamu kaya bengong gitu. kenapa sih?"
"Hah, ngga papa kok Bu."
"Yakin ngga papa?" selidik Ibu dengan menatapku.
__ADS_1
"Iyaa Ibuku sayang, Ayah mana Bu? kok ngga keliatan?" tanyaku mengalihkan pembicaraan.
"Ayahmu ketiduran itu sama radionya " jawab Ibu singkat. Aku tertawa mendengar jawaban Ibu, Memang sih Ayah suka sekali mendengarkan radio sampai ketiduran. Dan hal itu menurun kepada Adekku.
"Gitu ya Bu, ya udah Yuna mandi dulu ya Bu "
"Ya udah sana, nanti gantian sama Ibu. oh iya kalau nanti mau makan, itu lauknya udah Ibu sisain di biasanya. Soalnya nanti ndak ngga kebagian."
"Iya Bu, makasih ya." Ibu mengangguk lalu setelahnya Aku bergegas ke kamar mandi.
Selepas mandi, dan juga dilanjut makan. Aku kembali ke kamar.
Kuambil laptop yang ada di meja dan ku hidupkan. Hasrat ingin menulis puisi, tetapi pikiran berkelana kesana kemari. Alhasil Aku hanya mengetik sesuatu yang ada di otakku, meskipun itu tak jelas.
"Ish apaan sih ini otak. Ayo dong, jangan gini." Gerutuku pada diriku sendiri.
Kesal, hasrat ingin teriak. Banyak yang ingin ku ungkapkan namun semua terasa sulit. Apalagi Aku bukan tipe orang yang bisa langsung mengungkapkan perasaan.
Paling mentok, kalau sudah benar benar bingung bisa saja tiba tiba teriak tidsk jelas. Bagi yang sudah mengenalku mungkin itu hal biasa, tapi kali belum mengenal, pasti saja tanggapan akan lebih mengarah ke orang yang suka marah, atau bisa saja orang gila.
"Ah, pengen teriak kalau gini. Ayolah jangan gini," jeritku lada hatiku sendiri. Ku ambil pknselku yang sedari tadi ku biarkan. Ku lirik aplikasi berwarna hijau itu, ada sebuah pesan dari Farel.
Seperti biasa, dia mengajakku main. Jujur, Aku masih terlalu takut jika pergi berdua dengan lawan jenis. Yahh, Aku mengakui jika Aku terlalu cupu untuk hal seperti ini. Ketakutan itu selalu datang jika Aku bersama lelaki yang bahkan orang tuaku saja belum tau.
Aku menelan ludah dengan susah payah, melihat pesan itu. Aku takut menyesal untuk kemudian hari. Apakah Aku egois jika Aku tidak ingin keluar? Apakah Aku hanya memikirkan diriku sendiri? Atau, apakah Aku tidak menghargai ajakan lawan jenis?
Aku hanya ingin, suatu saat bisa menikmati senja bersama orang yang ku sayang. Dan tentunya sudah mendapat ijin orang tua. Untuk saat ini pun, bepergian lama pasti pikiranku akan tertuju ke rumah terus.
Ataukah seperti ini karena tidak pernah keluar lama?
Terkadang Aku merasa Iri, kepada mereka semua yang bisa bebas tanpa memikirkan yang dirumah, ataupun yang main tanpa ada rasa takut. Sempat Aku berfikir, apakah jika Aku seoerti itu orang tuaku akan diam saja,? sepertinya mustahil, karena bisa saja Aku kena bulan bulanan Ayah dan bisa didiamkan yang tidak tau akan berakhir kapan.
__ADS_1
Dalam hati sering berjanji 'Janji ngga akan iri lagi',, namun terkadang pikiran seperti itu juga karena persepsi ku sendiri