REMINDER [ CERITA HARIAN ]

REMINDER [ CERITA HARIAN ]
REMINDER [ CERITA HARIAN ]


__ADS_3

Beberapa hari kedepan tidak ada yang spesial. Seperti biasa, hanya candaan dan obrolan ringan seputar pekerjaan. Dan juga terkadang tentang makanan yang akan dibeli sore nanti, ataupun hari esok.


Aku baru ingat, hari ini adalah hari lahirku. Aku baru ingat ketika Ningrum membuat status watsap, seketika Aku langsung teringat.


'Oh iya, sekarang kan hari lahirku. Kenapa kebetulan banget pas Aku ngungsi lagi, ah alamat dimintain makan makan ini mah,' batinku.


Untung saja, orang orang di ruanganku tidak ada yang tahu hal ini. Aku sangat bersyukur sekali. Sebenarnya Aku bukan tipe orang yang suka merayakan ulang tahun, ataupun sekedar ucapan.


Bagiku, dengan berkurangnya umurku dan juga bertambah umurku membuatku waspada. Umur tidak ada yang tahu kan,? Sedangkan Aku masih belum menjadi manusia yang baik.


Seperti biasa, dengan diiringi candaan ringan sebelum beraktivitas, Aku dan Juga Mas Wahyu saling mengolok olok.


"Idih Pak, masa tadi Aku lihat seseorang yang matanya melihatku tapi dia ngga tahu kalau itu Aku coba." Cibirku pada Pak Danang. Pak Danang tertawa kecil, tentu saja dirinya sudah tau siapa yang ku maksut, meskipun tanpa di beri tahu.


"Halah, itu to Yun." Balas Pak Danang menoleh ke arah Mas Wahyu. Sedangkan yang dilirik hanya kebingungan, dan itu sukses membuatku tertawa.


"Siapa Ndro,? Aku? Emang kamu lihat Aku dimana.? Mas Wahyu malah kebingungan.


"Halah Mas, kamu mah biasa kalau jalan ngga ngeliatin kanan kiri. Lurus terus tanpa menoleh haha." Kataku.


"Ih seriusan Ndro, kamu melihat Aku dimana,?"


"Depan kecamatan itu, kamu pas mau belok. Mata kamu aja tadi kaya ngeliatin Aku, masa kamu ga tau?" Tanyaku tidak percaya.


"Ooohh berarti yang pakai jaket pink dan yang masih kaya orang gila itu kamu ga Ndro? Hahahaha" Nah kan, Mas Wahyu malah baru sadar jika itu adalah diriku.


Ah, ingin ku geplak rasanya kepalanya. Tapi nanti ngga sopan, secara dia lebih tua banyak dariku.


"Ya ngga orang gila juga Massss." Kataku dengan teriak.


"Yunaaaa, Kamu kurang sajen ala gimana." Pak Danang nyeletuk dengan tertawa melihatku yang terus berdebat dengan Mas Wahyu. Meski tetap saja Aku kalah dengannya.


"Ndro, kamu nggga kesana,? Aku baru ngeh kalau udah jam sembilan lewat ini."


"Seriusan?" Seruku dengan kaget.


"Serius lah, mana ada Aku bohong tentang hal gitu. "


"Ah Aku mau kesana Mas, nanti kamu ndak di telfon sama kepala produksi hehe." Ujarku santai, yang dihadiahi tatapan tajam Mas Wahyu.


Aku berjalan santai, selain menikmati jalan Aku pun bisa cuci matadi jalan hihi. Di sekitar sini banyakk cowo ganteng meskipun masih bocil bocil.


Ku buka perlahan pintu ruangan packing, lalu ku tutup lagi.


"Wih, pada kemana nih Bu?" Tanyaku pada salah satu Ibu yang ada disitu.

__ADS_1


"Eh Mbak Yuna, udah sampai sini aja. Sana ada kerjaan ngga Mbak?" Tanya Ibu itu, sebut saja namanya Bu Anjar.


"Kalau kerjaan sana ya banyak Bu, tapi kan orangnya terbatas. Jadi ya gitu.," Jelasku pada intinya.


"Gitu ya Mbak."


"Iyaa Bu, ini pada kemana Bu oranganya?"


"Itu Mbak, kalau Mbak Lina sama Mbak Reni masih di ruang ganti. Ngga tau pada ngapain."


"Kalau Ningrum?" Tanyaku lagi,


"Kalau Mbak Ningrum, dia di belakang mbak. Kan sekarang jatahnya Ningrum."


"Ohiya ya Bu, ya abis Yuna lupaa kalau beberapa kali Jumat disini pas jatahnya Ningrum di belakang bersama para suaminya sih."


"Haha, Mbak Yuna mah ada ada saja. Nanti kalau Mbak ningrum denger ngambek lho dia." Kata Bu Anjar lagi disertai dengan tertawa.


"Hehe engga Bu, bercanda kok." Aku ikut tertawa lalu kembali ke pekerjaan seraya mengobrol ringan dengan Bu Anjar.


Ku lihat pintu ruangan ada yang membuka, ternyata Mbak Lina dibarengi dengan Mbak Reni di belakangnya.


"Eh dek Yuna, udah sampai sini aja. Emang jam berapa sih ini?" Sapa Mbak Reni.


"Eh hoo e Ren, udah siang banget ternyata. Jam berapa sih Yun,?"


"Itu, dari bantuin Mbak Eka." Jawab Mbak Lina.


"Dek Yuna, sekarang ulang tahun ya?" Tanya Mbak Reni tiba tiba. Seketika beberapa yang ada disitu menoleh ke arahku.


Aku menatap Mbak Reni dengan santai, lalu kutanya dirinya,


"Tau dari siapa Mbak?"


"Lha itu, status si Ningrum lah. Siapa lagi coba."


"Mbak Yuna ulang tahun?" Tanya Bu Anjar padaku juga,


"Engga ulang tahun Bu, tapi yang bener umur Yuna udah berkurang satu tahun di dunia ini.", Jawabku santai,


"Wishh, mamamu kasih kado apa nih Yun?" Tanya Mbak Reni.


"Mama siapa ini? Aku suka salah paham soalnya kalau disini, bisa mama Ningsih sih haha."


"Ada ada aja, emang kamu mau jadi anaknya Ningsih beneran?" Tanya Mbak Lina.

__ADS_1


"Engga dung, kan cuma bercandaan." Jawabku santai.


Semakin siang, semakin pada sibuk dengan pekerjaan masing masing. Tiap kali Aku meminta tanda tangan pasti selalu ditanya,


"Farel kasih kado apa Yun?" Tanya Mas Putra ketika Aku meminta tanda tangannya.


"Kado apa mas?" Tanyaku bingung, Kulihat kepala produksi yang juga tanda tangan tersenyum senyum menatapku.


"Mbak Yuna, Farel kasih kado apa?" Tanya Mbak Sekar as kepala produksi disini.


"Waaaaaa Mbak Sekar mah malah di perjelas." Aku menggerutu, namun Mas Putra dan juga Mbak Sekar hanya tertawa melihatku. Aku tak terlalu ambil pusing dengan apa yang mereka tanyakan, toh itu semua tak mengganggu diriku sendiri.


Semakin siang, semakin banyak yang tau. Resiko punya teman yang beda devisi, namun menyimpan hampir semua yang dikenal, itulah Ningrum. Tapi Aku juga tidak bisa menyalahkan


Tiba tiba terlihat Farel membuka pintu dengan santai. Tanpa membawa barang masuk. Jika tidak membawa barang, itu artinya dia sedang santai. Begitu pikirku.


Semua yang ada di ruangan menoleh ke arah Farel. Dengan senyum menggoda, namun menyebalkan buatku, Mbak Lina dan juga Mbak Reni menggoda Farel.


"Dek Yuna bantuin dong Rel. Kasian lho itu banyak banget yang belum." Ucap Mbak Lina disambut tertawaan Mbak Reni.


"Hoo Rek, kamu tega melihat pacar kamu kaya gini? Tak bilangin Ibu kamu lho." Balas Mbak Reni. Aku masih diam mendengar beberapa pertanyaan kedua orang perempuan itu. Sebelum Aku memutar mataku dengan malas.


"Kalau mau bantuin Aku, ngga usah dengerin mereka. Bantu ya bantu engga ya engga, jangn plin plan gitu." Kataku pada Farel dengan lirih dan tanpa ekspresi. Aku tidak mau menimbulkan gosip semakin hot jika diteruskan.


Ku lihat dengan ujung mataku, Farel ternyata menyanggupi ucapanku. Namun bayangan yang kulihat di matanya, adalah ketika Farel bilang iya namun matanya masih menatap ke arah dimana Mbak Lina dan juga Mbak Reni.


"Kamu kasih kado apa rel buat Dek Yuna?" Tanya Mbak Reni pada Farel. Keningnya mengerut, mungkin dalam hati bertanya.


"Ha? Kado apaan Mbak Ren?" Balas Farel yang malah membuat bingung.


"Itu lho, ulang tahun. Kan Yuna sekarang ulang tahun.


Aku menghela nafas sabar.


"Duh Mbak Reni, mana Aku tahu kalau ulang tahun," celetuk Farel lagi.


"Kamu ini, pacar macam apa coba." Sambut Mbak Lina


"Mbak Lina, Mbak Reni. Kan udah aku bilang kalau itu semua tidak ada hubungannya." Celetukku kesal.


Hingga sampai jam pulang, topik yang sedang trending kali ini adalah Aku yang sedang ulang tahunku. Tapi ku biarkan saja hal itu, nanti kalau lelah juga bakal lelah sendiri.


"Eh emang kamu ulangtahun?" Tanya Farel sekali lagi namun dengan lirih.


"Iya nak, kenapa?" Tanyaku kenapa kembali.

__ADS_1


Ngga papa sih, cuma nanya aja. Ya abis Aku bingung masuk tiba tiba disuguhi kaya gitu kan Aku jadi bingung." Balas Farel.


Sedari tadi yang aku belum lihat sama sekali adalah Mbak Ningsih. Mungkin Aku akan bertanya pada temannya yang satu ruangan. Karena biasanya dirinya akan langsung nongol tanpa diminta.


__ADS_2