REMINDER [ CERITA HARIAN ]

REMINDER [ CERITA HARIAN ]
REMINDER [ CERITA HARIAN ]


__ADS_3

Malam hari, ketika Aku selesai tarawih ku buka handphone. Ada satu pesan dari Farel. Sejauh ini kami dekat, dia masih fast respon. Aku sih tidak masalah ya,


Farel


- Cieee yang besok Minggu lembur -


Begitulah isi pesan yang dikirimkan padaku. Ku balas saja dirinya,


Yuna


- Kan wajib -


Memang sih, lembur kali ini memang wajib. Jika tidak ada pesanan yang membludak seperti ini mungkin tidak sampai lembur. Apalagi juga urgent, dan sampai ditunggu para distributor selesai produksi. Farel membalas lagi.


Farel


- Mau kesana ah, lihat kamu -


Yuna


- Boleh, sini aja. Toh Ibu kamu juga ikut tuh lembur. -


Farel


- Mau tak cegat kamu di kantor pos -


Yuna


- Kaya berani aja kamu -


Farel


- Berani lah, gitu aja masa ga berani -


Aku semakin tertawa melihat isi chat ini, sebenarnya Aku ingin menantang hal itu. Toh, sekalipun dilakuin beneran jika ketahuan juga resikonya anak anak perusahaan semua.


Ku taruh handphoneku kembali ke meja yang ada di kamar, seketika rasa malas kembali menyerang. Ingin melanjutkan pekerjaan, tetapi kantuk mulai hinggap. Hari cepat sekali rasanya berlalu, iya sih karena hari libur saja bahkan tidak ada. Hari pun menjadi seperti biasa.


Aku keluar kamar, berusaha mencari cara agar tidak mengantuk dan juga malas. Tetapi sampai di meja ruang tamu sama saja yang ada kerjaan yang belum di selesaikan. Aku mendengus kesal,


"Huwaaaaa kenapa masih banyak." Aku menggerutu pelan, untung saja dirumah tidak ada suaminya kakakku. Mungkin belum pulang sih. Tujuanku akhirnya mencari Ibu yang ku lihat sedari tadi pulang tarawih sudah berkutat di dapur. Mungkin menyicil buat sahur besok.


"Bu, Yuna bantuin deh." Ujarku tiba tiba. Ibu terlihat menoleh kepadaku lalu membalas ucapanku.


"Emang kamu ga lanjutin kerjaan kamu?"


"Aaaahhh ibuuu, males Bu. Mana besok lembur lagi,"


"Minggu itu lembur?" Tanya Ibu lagi,


"Kapan lembuarnya?" Ayah tiba tiba ikut nimbrung, yang sukses membuatku terkejut.

__ADS_1


"Astaghfirullah Ayah, ngagetin Yuna tau." Ayah hanya tertawa diikuti oleh Ibu.


"Siapa yang lembur Yun? Kamu?" Tanya Ayah lagi.


"Iya yah, orderan semakin tinggi. Ayah udah lihat sendiri kan bawaan Yuna tiap hari seberapa."


"Iya Yun, ngga apa apa. Toh yang menikmati hasilnya kan juga kamu."


"Iya Yun, bener apa kata Ayah kamu." Ayah dan Ibu menasihatiku, akan tetapi meskipun sudah dinasihati, rasa malas ini masih saja ada. Apa karena besok hari libur tetapi harus masuk ya? Sepertinya sih memang Iya.


"Tapi Bu, malas banget. Mana puasa puasa gini lagi." Aku bergumam pelan.


"Jam berapa emang?"


"Besok itu mau cobain jam tujuh dulu. Mas Wahyu juga setuju sih Bu, tinggal mas Jefri besok bisa bangun pagi apa engga."


"Jefri? Itu masuk sana lagi?" Ibu berkata dengan heran.


"Iya Bu, atas rekomendasi dari Mas Wahyu. Secara kan, dia udah berpengalaman lebih dulu dari Mas Wahyu atau kita kita. Tetapi sebagai karyawan freelance, bukan tetap."


"Jadi gitu ya."


"Iya Bu, oh iya kalau besok misalkan Yuna udah berangkat duluan dan Mas Jefri belum kesini, nanti Yuna siapin barangnya dulu ya Bu?"


"Lho, masih disuruh bantuin bawa juga?"


"Masih Bu, kalau Yuna sendiri yang bawa kesana ya ngga bisa. Paling banyak aja Yuna hanya bisa bawa empat ratusan. Ini yang diminta soalnya enak ratus pcs.," Ibu mengangguk paham lalu melanjutkan memotong tempe dan juga tahu.


"Oh Iya, Ibu aja malah lupa ini."


"Pantesan Ibu sering lupa, nurun ke Aku" cibirku pada Ibu,


"Hehe, Ibu kan udha tua ya maklum Yun. Ini kamu bantuin ngupas bawang aja." Ibu menyerahkan beberapa bawang merah dan bawang putih kepadaku, yang langsung ku terima.


"Oke Bu, mau diiris biasa apa dicincang?"


"Iris biasa aja, mau digoreng soalnya. Biar besok pagi tinggal masaknya aja." Aku mengangguk paham. Lalu Aku segera melaksanakan apa yang diperintahkan.


"Ini Bu, udah selesai." Ujarku pada Ibu setelah beberapa menit berlalu. Ibu menerimanya lalu memasukkan ke dalam piring kecil.


"Apa lagi Bu yang bisa Yuna bantuin.?"


"Kayanya engga ada deh, mendingan kamu tidur aja kalau ngga ngerjain kerjaan kamu. Atau mau dikerjakan besok? Mau Ibu bangunin?" Tawar Ibu padaku.


"Iya Bu, besok pagi aja. Kalau Yuna belum bangun boleh deh dibangunin."


"Baiklah, udah sana tidur."


"Yee Ibu ngusir " Aku berkata dengan sedikit sewot namun hanya bercanda.


"Iya Ibu ngusir," Aku tertawa mendengar jawaban Ibu. Akhirnya aku kembali ke kamar setelah sebelumnya mencuci tanganku.

__ADS_1


Ku rebahkan tubuhku di kasur, enak sekali rasanya. Seketika Aku teringat dengan ponselku.


"Oh iya, hapeku." Aku meraba meja, setelah dapat langsung ku buka layar kunci. Ada beberapa pesan masuk. Salah satunya dari farel. Aku agak malas membalas, akhirnya ku putuskan untuk membalas besok saja.


Pandanganku beralih pada salah satu pesan dari Tri. Dia kenalanku dari sebuah Facebook, yang Aku baru sadar ternyata dia kakak kelasku sewaktu smp.


Tri


- Dek, besok jadi lembur? - begitulah isi pesannya.


Setelah ku balas, langsung ada notifikasi pesan dari dirinya lagi. Yang sering membuatku merasa kalau membalas lama tidak enak ya seperti itu, ketika terlalu fast respon, padahal handphone juga baru saja ku letakkan.


Yuna


- Iya Mas, jadi. Kenapa? -


Tri


- Butuh tumpangan ngga? Ini Mas nganggur lho besok -


Yuna


- Kayanya engga dulu Mas, ini bawaan Yuna terlaku banyak. Ribet nanti.-


Tri


- Yakin nih ngga mau? -


Aku menimbang nimbang permintaan darinya, sebenarnya Aku oke aja sih di antar. Tetapi yang jadi masalah itu bawaanya.


Yuna


- Ngga deh, besok aja kalau pas tanggal merah selain Minggu -


Tri


- Emang masih sering lembur? -


Yuna


- Kalau menurut prediksi Yuna sih, sampai dua bulan ke depan bakal tetep lembur -


Memang benar sih, menurut prediksiku memang seperti itu. Ingat cuma prediksi lho ya.


Tri


- Ya udah ngga papa, besok kalau berubah pikiran tinggal bilang sama Mas aja ya? -


Yuna


- Oke Mas, siap -

__ADS_1


Setelah itu, ku letakkan kembali handphoneku. Aku ingin segera tidur. Sebenarnya Aku tidak mau, jika sikapku yang seperti ini, malah seakan akan memberikan sebuah harapan bagi seorang lelaki. Tapi tidak tau juga, lihat saja besok. Mataku yang sudah benar mengantuk, langsung tertidur begitu saja.


__ADS_2