REMINDER [ CERITA HARIAN ]

REMINDER [ CERITA HARIAN ]
REMINDER [ CERITA HARIAN ]


__ADS_3

Dari obrolan ringan, sampai obrolan berat selalu kami bahas. Tergantung situasi dan kondisi.


"Ndro, besok Minggu lembur mau ngga?" Tanya Mas Wahyu padaku, yang membuatku menoleh menatap ke arahnya.


"Minggu Mas? Siapa aja,?" Jawabku lagi.


"Pak Danang bisa ngga,? Kamu Jef? Mas Defri? Mas Fani sama Mas Vian,? Mas Wahyu malah mengabsen semua yang ada di sini.


"Jam berapa Mas?" Pak Danang nyeletuk.


"Menyesuaikan aja Pak Saya." Jawab Mas Wahyu.


"Kaya lembur biasanya apa gimana to Bang?"


"Kaya biasanya Jef, ini juga lembur karena orderan semakin banyak. Dan kata Mbak Sekar itu mau ditungguin sama yang pesen sampai selesai.", Ucapan Mas Wahyu membuatku menganga tak percaya.


"Eh buset Mas, seriusan mau ditungguin?"


"Seriusan Ndro, jadi ini siapa yang bisa? Paling ngga, buat 500 pcs deh sampai selesai."


"Aku bisa Bang." Vian nyeletuk.


"Oke, mas Vian bisa. Fani? Mas Defri?"


"Mmm jam berapa Mas?" Tanya Mas Defri yang setelah sekian lama diam.


"Kalau jam, nanti menyesuaikan yang lainya Mas, maunya jam berapa gitu." Ku lihat Mas Defri mengangguk.


"Boleh Mas," Fani akhirnya angkat suara.


"Oke, Mas Didi?"


"Waduh Mas, kalau Minggu itu Aku ngga bisa."


"Mas Didi mau buka bersama Mas." Ujar Pak Danang sambil tertawa diikuti kami semua.


"Yaudah ngga papa, Mas Didi mau buka bersama sama doi. Kamu Jef? Pak? Ndro?" Mas Wahyu kembali mengabsen.


"Bisa Mas, tapi kalau pagi aja gimana? Jam tujuh apa jam delapan?" Saranku. Ku lihat Mas Wahyu menimbang ucapanku.


"Bole deh, kamu bisa bangun pagi kan Jef? Kalau Pak Danang mah ngga usah diragukan lagi, soalnya Deket plus kalau berangkat mepet ngga masalah."

__ADS_1


"Oke deh bang, jadi mau jam berapa?"


"Ndro?"


"Coba yang jam tujuh dulu gimana? Kan yang absen finger cuma kita bertiga. Jadi kalau mereka sedikit telat sih ngga papa. Kan manual "


"Oke deh, jam tujuh. Ada yang keberatan ngga ini? Sebelum Aku bilang sama Mbak Sekar sama Mas Putra?" Mereka menjawab tidak ada. Fix, hari Minggu lembur. Dan itu pun wajib, plus perintah dari Mbak Sekar sendiri selaku kepala produksi.


"Terus untuk packing, kamu kalau bawa 600 an ngga bisa ga Ndro?"


"Ya ngga bisa Mas. Kalau pun bisa, palingan kurang lebih 500 an itu."


"Kalau kamu bantuin bawa gimana Jef? Tenang aja, nanti tiap seminggu sekali Aku kasih ongkos bensin." Mas Jefri berfikir sebentar lalu mengiyakan.


"Boleh deh Bang,"


"Eh seriusan?" Mas Wahyu tertawa.


"Iya Bang, kalau gitu minta nomer kamu Yun. Biar nanti Aku bisa konfirmasi dulu ke kamu." Balas Mas Jefri yang langsung ku beri.


"Oke Mas, boleh " selanjutnya ku tulis pada layar handphone Mas Jefri.


Sore menjelang, selama waktu puasa ini jam kerja di kurangi satu jam. Lumayan sih, setidaknya sampai rumah masih ada waktu buat berbenah guna berbuka.


Jam menunjukkan pukul 15.00 . Waktu Ashar tiba, Pak Danang ijin sebentar guna ke Masjid terdekat. Memang sih, Pak Danang terbiasa di Masjid. Sedangkan Aku, keluar sebentar untuk mengambil air wudhu setelah Mas Defri selesai melaksanakan sholat. Memang bergantian sih, tapi tidak apa apa.


"Pulangnya jajan ngga Ndro?"


"Pengen es sih Mas, kayanya nanti Aku pulang lewat ringroad. Biar cuci mata sama kalau tiba tiba pengen jajan kan tinggal berhenti hehe." Aku terkekeh kecil.


"Aku juga udah kama ngga lewat situ sih "


"Sana ii rame terus, emang kamu mau jajan apa Mas?" Tanyaku lagi.


",Pengen dawet hehe, sama lotek apa bakwan Kawi juga enaks."


"Ah kamu mah Mas, kalau kamu mah perut aman bisa nampung banyak. Lha Aku keinginan jajan banyak tapi perutnya yg ngga muat."


"Beliin buat Aku aja gimana Ndro?" Mas Wahyu ngakak.


"Suruh ngintil kamu aja Yun itu, kan cocok sama sama suka jajan." Mas Jefri memberi sebuah saran yang langsung dibalas Mas Wahyu dengan sebuah tampolan.

__ADS_1


"Duh Bang, sakit."


"Lha elu suka Ngadi ngadi. Dia kan suka memprovokasi, nanti Aku tambah jajan gimana."


"Astaghfirullah," Aku mengelus dada, namun tak urung juga mengiyakan dan membenarkan.


"Bener kan Ndro." Aku tak menjawab namun hanya menganggukkan kepalaku.


"Udah Yun, itu Mas Defri udah selesai sholat. Kamu tadi mau sholat kan?" Mas Jefri mengingatkanku yang hampir lupa.


"Ohiya Mas, untung kamu mengingatkanku." Aku beranjak dari tempat dudukku, guna menunaikan ibadah meski hanya sebentar.


Setelahnya, ku tinggal sholat dan hanya butuh beberapa saat. Karena mengingat ini masih di jam kerja.


Jam kini sudah menunjukkan pukul 16.00. Kami bergegas membereskan barang barang yang sedari tadi digunakan. Aku sih santai saja, toh Aku juga sedang memakai kendaraan sendiri.


Di parkiran, ku lihat Ningrum sudah ada disana. Ku minta saja dia duluan. Karena memang Aku sebelumnya juga ada keperluan.


"Eh Bu Maryani, belum pulang Bu?" Ku dengar suara Mas Wahyu berkata demikian. We, kenapa Aku tidak sadar jika Bu Maryani masih disitu? Apakah dia masih menunggu Farel? Kalau iya, terus dimana orangnya? Secara ditunggu orang tua gitu.


"Belum Bang, ini nungguin Farel. Ngga tau, tadi nyariin kunci yang lupa ditaruh dimana."


"Kok bisa toh Bu,"


"Embuh Bang. Farel emang suka gitu." Untung Bu Maryani sabar menunggu.


Lalu, Mas Wahyu diikuti Aku di belakangnya beranjak pergi dari perusahaan.


"Duluan ya Bu?" Sapa Mas Wahyu


"Mari Bu." Sapaku juga yang diiyakan olehnya.


"Iya Yun, Bang." Akhirnya tinggal Bu Maryani dan juga Farel yang masih menghilang.


Seperti biasa, di jalan mataku tidak bisa melihat lurus ke depan. Ada saja di pinggiran jalan yang membuatku ingin berhenti saat itu juga. Jiwa jajanku meronta ronta. Akhirnya Aku berhenti di salah satu penjual es buah. Tidak tau kenapa, sering saja Aku berhenti tiba tiba jika ada yang menarik perhatianku. Tapi bukan berarti berhenti di tengah jalan lho ya, hehe.


Setelah santai dalam perjalanan, Akhirnya jam lima Sampai juga dirumah. Aku berjalan ke kamar, kurebahkan badan sebentar sambil membuka laptop dan memanaskan lem agar sedikit tidak sampai terlalu malam.


Hanya ada Ayah dan Adikku dirumah. Ibu dan kakakku di masjid buka bersama. Sebenarnya juga lelah, sampai dirumah bukannya istirahat tetapi sama saja melanjutkan pekerjaan yang sama, dengan diperusahaan.


Anggap saja Aku sedang gila uang, hehe. Begitu saja.

__ADS_1


__ADS_2