![REMINDER [ CERITA HARIAN ]](https://asset.asean.biz.id/reminder---cerita-harian--.webp)
Aku terbangun ketika suara alarm berdering dua kali. Sejenak ingin melanjutkan tidur, namun tidak jadi.
Dengan mata yang masih sedikit terpejam, Aku berjalan menuju kamar mandi guna mencuci muka. Sudah tercium aroma bumbu yang wangi, itu berarti Ibu sudah memasak.
Benar saja, Ibu sedang berkutat dengan wajan hitamnya.
"Bu, Kakak belum bangun?" Tanyaku pada Ibu.
"Ngga tau Yun, paling belum."
"Atau suaminya ngga puasa?" Tanyaku lagi.
"Ibu mana tahu Yun, mau puasa apa engga itu urusan mereka." Aku tergelak.
"Hehe iya sih Bu,"
"Kamu mau ngapain?" Ibu kembali bertanya ketika melihatku yang masih berdiri di pintu.
"Mau ke kamar mandi sih Bu."
"Yaudah sana."
"Ibu mau buat sayur apaan?"
"Goreng tempe ini, sama sayur pepaya."
"Oh iya ya Bu, kan tadi malam udah di cacah. Yuna lupa." Aku menepuk kepalaku, sungguh lupa itu sangat menyebalkan.
"Dasar kamu mah."
"Yaudah ya Bu, Yuna mau ke kamar mandi dulu. Terus nanti sekalian mau lanjutin kerjaan." Pamitku pada Ibu.
"Iya sana, nanti kalau udah matang Ibu panggil. nanti juga mau ke masjid ngga?"
" Iya Bu, nanti panggil aja Yuna di kamar ya. Maaf Yuna ngga bantu."
" Ngga papa, kan biasanya juga ngga bantu." Ujar Ibu yang membuatku langsung tertawa.
"Ah Ibu suka bisa aja." Lalu Aku melangkah menuju kamar mandi. Hanya sebentar, karena yang penting rasa kantuk sedikit memudar.
Ku ambil handphoneku, ku buka youtube dan menyambungkan ke bluetooth. Pilihanku jatuh pada sholawat, enak di dengarkan ketika dini hari seperti ini dan pas juga seperempat malam yang waktu sholat tahajud masih bisa. Langsung masuk ke hati dan pikiran menjadi tenang.
"Yah, kok acak sih. Masa harus buat playlist dulu " aku menggerutu. Namun akhirnya ku buat playlist agar tak memindah mindah terus. Kala musik yang ku tahu, Aku ikut bersenandung pelan.
__ADS_1
Beberapa saat, Aku melihat jam di ponsel. Waw, tak terasa sudah 45 menit berlalu. Pantas saja, karena Aku sudah mendengar suara Kakakku yang berbicara dengan keras.
"Yun, udah mau jam empat. Sahur dulu." Seru Ibu mengagetkanku,
"Duh, Yuna kaget Bu. Iya Bu, Yuna juga mau keluar kok." Aku segera merapikan kembali pekerjaan lalu setelahnya ku tinggal sahur.
Setelah selesai, Aku mengambil air wudhu dan kembali ke kamar. Setelah sebelumnya bilang pada Ibu,
"Bu, nanti panggil Yuna ya kalau mau ke musholla." Seru ku pada Ibu, yang dibalas anggukan kepala dari Ibu.
Menunggu waktu subuh tiba, Aku membuka Instagram. Sekedar melihat lihat saja sih. Dari waktu sahur ke subuh, rasanya cepat sekali. Iya sih karena sahurnya mepet waktu juga. Ketika adzan mulai berkumandang, Ibu memanggilku untuk segera berangkat ke Musholla.
Aku dan Ibu sedari tahun lalu memang lebih sering ke musholla. Pasca pandemi semakin merebak, di masjid dilarang untuk melaksanakan sholat tarawih. Padahal itu ada kewajiban seorang muslim. Ketika hari pertama tarawih, ada pengumuman jika tidak boleh melaksanakan di masjid. Maka dari itu Aku dan Ibu pindah ke musholla yang dekat dengan rumah.
Sepulang dari musholla, Aku bergegas mandi. Jam menunjukkan pukul lima lebih sepuluh menit. Baru saja masuk kamar mandi, aku teringat jika belum menyetrika baju. Alhasil, Aku memutuskan untuk mandi dulu lalu setelahnya baru menyetrika. Walaupun kesanya seperti buru buru.
Pukul enam lebih sepuluh, Aku sudah siap. Tinggal menunggu Mas Jefri untuk mengambil barang. Aku berangkat sendiri, karena Ningrum tidak ikut lembur. Hanya devisiku yang diwajibkan lembur. Yang mau tak mau membuatku berangkat.
"Nungguin Jefri Yun?" Tanya Ibu yang melihatku masih di depan rumah, padahal tinggal gas berangkat.
"Iya Bu, tumben banget soalnya bekum kesini. Apa kesiangan ya dia?"
"Bisa jadi gitu, secara laki laki. Kamu berangkat aja sana, nanti kalau kesini barangnya biar Ibu yang ambilin."
"Baiklah Bu, udah lewat seperempat juga sih ini. Takut telat. Nanti kalau Mas Jefri kesini suruh bawa yang gede sama yang kecil ini ya Bu." Kataku seraya menunjukkan.
"Yaudah, kalau begitu Yuna pamit berangkat dulu Bu. " Kataku berpamitan, lalu setelahnya Aku berangkat. Berhubung jam sudah semakin siang.
Ku lihat jalanan masih terlihat sedikit sepi. Jika keadaan seperti ini, Aku akan lebih cepat sampai di perusahaan. Meski sudah memakai jaket tebal, rasa dingin pagi ini rasanya sampai menusuk tulang.
"Kayanya emang lebih baik masuk jam delapan. Dinginnya ga nahan banget." Aku bergumam sendiri di jalan.
Benar saja, hanya cukup 25 menit sudah sampai di perusahaan. Ku lihat di parkiran sudah ada sepeda motor punya Mas Defri. Sepagi ini dia sudah ada disini, apakah gabut? Aku terkekeh dengan bayanganku sendiri.
Lalu setelah Aku datang, Vian dan juga Fani datang bersamaan. Diikuti Mas Wahyu di belakangnya. Lho, kemarin katanya Mas Wahyu mau masuk jam delapan. Apakah berubah pikiran,? Jika Iya, terus dari rumah jam setengah enam? Atau jam enam kurang,? Mengingat jarak antara rumah Mas Wahyu dan perusahaan membutuhkan waktu satu jam lebih sedikit.
"Ayo Mas, masuk. Udah tak bukain kok itu." Ajak ku pada Mas Defri,
"Iya Mbak." Jawabnya singkat padat dan jelas namun tak urung juga ikut masuk.
"Lho Mas, kamu ngga jadi jam delapan?" Tanyaku.
"Ngga jadi Yun, Aku mikirnya lebih baik coba lebih pagi sekalian, kan enak tuh pulang jam dua belas." Aku tertawa. Memang sih, tujuan ku masuk pagi memang agar pulang pas waktu Dzuhur, dan bisa menikmati waktu libur meski hanya beberapa jam.
__ADS_1
"Nah kan."
Ku ambil baju dan segera mengganti dengan baju kerja. Ku dengar dari pintu wc, Pak Danang juga menanyakan hal yang sama denganku pada Mas Wahyu.
"Lha Mas, ngga jadi jam delapan toh." Seru Pak Danang.
"Hehe, Tadi Yuna juga bilang gitu Pak. Engga Pak, Aku mikir, kayanya lebih enak pulang lebih awal, waktu Dzuhur itu. Biar bisa ngabuburit."
"Emang bener sih Mas. Mas Didi seriusan ngga ikut lembur to dia?"
"Engga, nyatanya ngga ada." Pak Danang mengangguk paham.
"Jefri mana ini?" Tanya Pak Danang lagi.
"Belum kelihatan kepalanya ini Pak dia. Coba tanya Yuna dulu."
Aku yang mendengar namaku disebut ikut nimbrung. Untung saja sudah selesai ganti baju.
"Tuh Pak, Yuna."
"Eitt, kenapa Mas?" Tanyaku.
"Jefri belum berangkat Yun,?"
" Tadi tuh jam enam lewat seperempat dia belum ke rumah. Kesiangan palingan."
"Woalah gitu. Tunggu aja kalau gitu."
Setelah Pak Danang berkata begitu, muncul Mas Jefri dari pintu dengan tergesa gesa. Aku tertawa melihat mukanya. Dengan wajah yang seperti masih bangun tidur, mata sedikit menyipit. Dan membawa barang yang sama denganku.
"Itu orangnya.", Tunjukku pada Mas Jefri.
"Kesiangan ya Mas?" Tanya Vian, mewakili isi hatiku.
"Hooh, Aku lupa kalau masuk pagi gini. Tau tau jam setengah tujuh." Mas Jefri tertawa di selingi rinhisan sedikit malu.
"Ngga papa Jef, lagian Kamu absen manual kok. Jadi aman."
"Hoo e bang, tadi dirumah Yuna juga di tumbenkan sama ibunya. Kok siang banget gitu. Kan katanya jam tujuh masuk.",
"Seriusan Mas? Ibu bilang gitu?" Tanyaku penasaran.
"Hoo Yun."
__ADS_1
"Udah ngga papa, sana Jef kamu cepet ganti. Semua pada posisinya masing masing ya? Sambil nungguin Jefri ganti." Seru Mas Wahyu.
"Okee Masss/Bang." Kami semua serentak menjawab lalu tertawa bersama.