REMINDER [ CERITA HARIAN ]

REMINDER [ CERITA HARIAN ]
REMINDER [ CERITA HARIAN ]


__ADS_3

Tak terasa, kini hari pertama puasa. Untuk yang ikut ajaran Muhammadiyah memang sehari lebih cepat daripada NU yang sehari lebih lambat. Disini, hanya Mas Wahyu yang masih belum ikut berpuasa.


Sudah terhitung sejak orderan membludak dan membutuhkan freelance. Kini satu ruangan terisi 8 orang. Meski sebenarnya sudah sangat sempit. Mengingat, di dalam satu ruangan ini juga menyimpan bahan produksi dan jadilah semakin pas. Oh iya, di ruangan ini sudah bertambah 3 orang lelaki. Duanya baru, dan satunya ambil yang bantuin buat wadah di ruangan sebelah. Dan Aku, masih tetap perempuan sendiri.


Seperti biasa, waktu mixing ada saja hal yang membuat Mas Jefri dan Mas Wahyu yang diperdebatkan.


"Bang," Mas Jefri memanggil Mas Wahyu,


"Apa toh Jef, nanti tanganya walwil malah kamu menikmati lho."


"Enak e Pak." Balas Mas Jefri tertawa diikuti Pak Danang yang semakin ngakak. Ku lihat air muka Mas Wahyu sudah ingin menghujat, namun segera ku peringatkan.


"Hayo Mas, ingat ingat ini puasee." Jelasku.


"Aku ikut besok Ndro. Ayo Jef, nanti makan siang dimana.", Ajak Mas Wahyu.


"Ah Aku puasa Bang."


"Alah yakin puasa? Makan aja lho sama Aku, bawa bekal lagi. Uw mantap." Mas Wahyu tertawa diikuti Mas Jefri yang semakin tertawa dengan ekspresi Mas Wahyu yang malah jadinya lucu.


"Mukamu Bang."


"Lucu to Jef." Pak Danang menimpali dengan tertawa.


"Astaghfirullah, Aku disini semakin laknat. Maafkan hamba ya Allah."  Kami semua tertawa.


"Ini mau buat seribu lagi Mas?" Tanyaku,


"Iya Ndro, ingat target lho ya. Lagi pula pulang jam empat kan sekarang."


"Weh iya ya, baru inget Aku malahan. "


"Oh iya, Mas Vian. Itu yang disana pada berangkat kan anak anaknya?" Tanya Mas Wahyu pada Vian, freelance baru itu.


"Berangkat Mas, tapi tadi katanya yang satu berangkat telat karena mau cap 3 jari dulu." Jelas Vian,


"Oh gitu, berarti yang empat berangkat semua kan,?"


"Hoo Mas,"

__ADS_1


"Oke baiklah,"


Mas Wahyu melihat ke arah kardus yang sudah terisi oleh barang setengah jadi. Baru ada dua kardus sih.


"Ayo Jef, apa Mas Vian? Yang mau anterin ke sana duluan,? Biar ada kerjaan,"


"Aku aja ngga papa Mas." Vian dan juga Mas Jefri segera mengambil barang tersebut yang akan dipacking, guna diberikan yang membantu kami di ruangan yang memang terpisah.


Sedang enak enaknya menimbang, ku lihat stok wadahnya menipis. Ku tanya Mas Didi, freelance yang sebelumnya membuat wadah.


"Mas Didi, disana ada berapa orang yang membuat wadah,,? Tanyaku padanya.


"Sekarang tinggal empat orang termasuk Mbak Nani. Kan Akunya tinggal disini." Jawab Mas Didi.


"Sebelum kamu kesini, sudah kamu ajarin kan Mas,?" Tanyaku lagi.


",Iya Mbak, sudah. Tenang aja, nanti juga kalau belum pada bisa, ada Rizal kok yang mau ngajarin.", Aku melongo mendengar ceritanya.


"Rizal itu yang mana Mas?"


"Halah, itu lho Mbak. Yang rumahnya satu arah dengan kamu Mbak."


"Ngga tau ah Mas, kalau ngga ngerti mukanya" jawabku terkekeh.


"Ndro, coba sana ambil wadahnya di lantai atas. Ini kayanya mau abis deh." Seru Mas Wahyu padaku. Segera saja ku jawab,


"Oke Mas, tapi Aku ajak Mas Didi boleh ya,? Biar Mas Didi temu kangen sama Mbak Nani," seruku


"Paan sih Mbak" mas Didi memutar mata malas.


"Iya Ndro, boleh. Mas Didi sana temani Yuna duluan. Kan kamu juga yang kenal mereka hehe." Seru Mas Wahyu. Mas Didi langsung beranjak dan segera ku ikuti.


"Mbak, rumahnya dimana?" Tanya Mas Didi padaku.


"Aku desa Y Mas."


"Oalah, yang satu desa sama Mas Putra itu ya?"


"Heh kok tau Mas?"

__ADS_1


"Hehe tau, Mas Putra bilang soalnya."


"Heem, pantes saja."


Akhirnya Aku dan Mas Didi sampai dimana salah satu ruangan. Aku menyuruh Mas Didi yang masuk, karena Aku malu. Hehe.


"Mas, kamu aja yang masuk ya? Aku malu ini, ngga kenal sama mereka juga." Ujarku.


"Iya ngga papa Mbak, biar Aku aja. Tapi kalau mau masuk ngga papa, itu ada cewenya kok."


"Iya Mas, sante aja."


Akhirnya Aku ikut masuk meski hanya melihat lihat. Kalau dilihat ruangan ini memang cukup jika hanya menampung lima orang.


"Mas, Aku nungguin di luar aja ya?" Ujarku pada Mas Didi


"Iya Mbak." Setelah mendapat jawaban, Aku keluar menunggu ditangga. Ku kira sebelumya tadi hanya sebentar, ternyata yang ku dengar mereka tengah mengobrol. Ku coba menunggu sebentar lagi. Kira kira 10 menit belum keluar, Aku memanggil Mas Didi agar cepat kembali. Sebenarnya itu tidak enak, tapi sudah agak lama takut ditungguin. Hehe. Maaf ya Mas Didi, nanti istirahat bisa disambung kok ngobrolnya.


"Maaf ya Mas mengganggu ngobrolnya." Ucapku setelah dirinya keluar. Mas Didi tersenyum menatapku.


"Iya Mbak, santai aja. Gara gara keasyikan ngobrol sama Rizal ini tuh."


"Yang mana itu Rizal?" Tanyaku yang memang belum tau namanya, sedangkan mukanya aku sering menghafal. Hehe, begitulah Aku.


"Itu lho, yang kecil."


"Astaga, kan mereka emang kecil semua Mas."


"Eh iya ya, yang rambutnya sedikit keriting.",


"Oh yang itu,"


"Emang tau?" Aku tertawa, sebenarnya emang belum yakin sih yang itu.


"Hehe belum yakin sih sama bayanganku." Mas Didi tertawa mendengarnya.


"Hayoooo, pada ngapain tuh ketawa ketawa dijalan gitu?" Tanya Mas Wahyu yang melihatku tertawa sampai di ujung pintu masuk.


"Ngga papa Mas, ini tadi lucu soalnya."

__ADS_1


Kami tertawa lalu melanjutkan pekerjaan, meski diselingi hujatan yang sebenarnya bercanda.


__ADS_2