![REMINDER [ CERITA HARIAN ]](https://asset.asean.biz.id/reminder---cerita-harian--.webp)
Satu bulan penuh hampir tidak ada kata libur. Bahkan hari minggu pun masuk guna lembur. Sebagai karyawan, mau tak mau harus wajib lembur. Apalagi di perusahaan ini yang dicari adalah orang yang mau dipaksa lembur.
Hari ini adalah hari terakhir sebelum lebaran tiba. Untuk karyawan normal tetapi. Bahkan di pengumuman, tertera tulisan '' jika ada karyawan yang diminta untuk masuk lembur, diharuskan lembur."
Dalam kata kata itu, aku sudah merasakan sepertinya akan tetap lembur meski seharusnya sudah hari libur.
"Yeayyy, besok udah libur Ndro." Seru mas Wahyu padaku. Aku menoleh ke arahnya, yang sebelumnya sedang menimbangi produk.
"Aku ngga yakin besok bakal libur Mas. Coba lihat dulu nanti bakal ada info apa ngga.", Sahutku santai.
"Freelance liburnya sama kaya yang normal kan Bang?", Tanya Vian nyeletuk.
"Hoo dek, tapi kalau semisal ada yang di minta buat lembur. Apakah kalian ada yang mau.?" Tanya Mas Wahyu.
"Aku sih oke aja Mas.", Jawab Vian.
"Aku ngga bisa Mas." Ujar Mas Didi.
"Mas Didi mau kencan ya?"
"Engga kok mbak, mau ke saudara soalnya.",
"Yaudah ngga papa Mas." Aku menenangkan Mas Didi.
Ku lihat Mas Wahyu berkutat dengan handphonenya. Mungkin sedang berbalas pesan dengan para atasan. Oh iya, Aku lupa memberi tahu ya. Perusahaan disini boleh menggunakan handphone. Karena jarak antar ruangan sedikit jauh. Jadi memutuskan menggunakan handphone sebagai komunikasi jika diperlukan. Namun yang boleh menggunakan hanya yang berkepentingan. Seperti penanggung jawab, QC, SPV, dan sebagainya.
Aku kembali diam, dan fokus ke pada kerjaanku dan Mas Didi yang didepanku. Tetapi, Aku merasakan seperti ada yang melihatku.
"Ndro, sesuai prediksi." Ujar Mas Wahyu tiba tiba. Aku sedikit terhenyak, belum paham apa yang dimaksud olehnya.
"Ha? Apaan Mas?" Tanyaku pada Mas Wahyu dengan melongo.
"Lembur Yun." Mas Jefri mewakili menjawab Mas Wahyu.
"Hoo Ndro, lembur." Aku sedikit melemas mendengar perkataan mereka. Pupus sudah rencana rencana yang sudah ku susun.
"Yahhh." Sungguh Aku benar benar kecewa.
"Aku tetep ngga bisa ikut lho Mas." Pak Danang berbicara setelah mendengarkan dari kita.
__ADS_1
"Iya Pak, ngga papa. Kan Pak Danang mau mudik."
"Iya e Mas, tahun kemarin soalnya udah ngga pulang. Kasihan istriku yang kangen sama saudara saudaranya."
"Iya sih Pak, ini aja kakak kakakku juga udah pada pulang. Tinggal Aku sendiri yang belum libur."
"Tapi ini tuh keterlaluan banget masuknya Mas. Masa h-2 hari raya malah masih kerja." Gerutuku.
"Udah Ndro, ngga apa apa. Kaya Jefri itu lho, santai. Iya kan Jef?"
"Haha netral kok Bang Aku mah. Cari saku aja gitu,."
Hanya Devisi kami yang sampai h-2 lebaran belum libur. Akan tetapi, sepertinya dari Devisi lain juga akan diambil satu atau dua orang guna membantu. Tak adil emang, tapi jika tidak terima takutnya akan ada yang lapor dan sampai ke telinga HRD ataupun boss. Yang bakal berakhir dikeluarkan. Yang punya sih santai aja, mau ya berangkat tidak mau ya keluar.
"Lemes banget Mbak." Vian membuyarkan lamunanku.
"Ya gimana ya Dek, rencana ku hancur gara gara besok harus masuk." Aku mendengkus sebal. Meskipun sedikit masih tidak rela.
"Halah ngga papa, besok kan masih banyak yang berangkat."
"Iya dek tau, tapiiiiiiiiiiiiiiiiii ih gemes aku tuh." Balasku dengan melemparkan sebuah wadah yang tak terisi produk.
"Mbak, kamu bar bar banget deh haha." Mas Didi ikut menimpali namun seperti meledekku.
"Aku kalem ya Mas Didi.", Sahutku tak mau kalah.
"Kalem kalau ada maunya ding Mas." pak Danang ikut terkekeh.
"Santai Yun, Aku masih satu jalur kok sama kamu." Seru mas Jefri.
"Ya iya lah Jef, satu desa gitu mana ada ngga sejalur." Mas Wahyu menimpali dengan akhir sedikit mendorong tubuh Mas Jefri. Aku tertawa tak tertahankan kala Mas Jefri sedikit oleng. Memang karena perbedaan tubuh keduanya membuat oleng. Dengan Mas Wahyu yang bisa dikatakan berisi. Dan Mas Jefri kutilang, alias kurus tinggi langsing. Terlalu langsing sampai kalau berjalan seperti hanya tulang. Padahal makannya banyak.
"Astaghfirullah Bang, untung ngga kejedot pintu nih Aku. Aku kamu senggol ya oleng to. Inget badan" ujar Mas Jefri dengan tertawa. Diikuti Mas Wahyu yang semakin tertawa. Cara bercanda kami memang anti mainstream, namun ingat ya hanya bercanda.
"Aku itu kurus lho Jef."
"Kurus dari Hongkong." Gerutu Mas Jefri.
"Btw Mas, anak Devisi lain yang ikut besok siapa?" Tanyaku menyela.
__ADS_1
"Oh itu, si paijem pacarnya Ono noh. Sama kakaknya juga." Kata Mas Wahyu dengan mengerling matanya ke arah Mas Jefri.
"Mbak Reni sama Mbak Yanti?"
"Hoo to, siapa lagi coba." Aku mengangguk paham. Lalu setelahnya aku diam, dan kembali ke pekerjaan. Aku ingin menjadi pendengar dulu untuk Mas Wahyu dan juga Mas Jefri yang sering gelut. Pak Danang dan juga Mas Didi yang sharing tentang apapun yang ada disini. Mas Defri, Fani dan Juga Vian yang sedikit terdiam. Jika Mas Defri memang dari sananya cuek. Hanya Fani dan juga Vian yang terkadang masih mengobrol.
"Mas Defri beneran besok ngga bisa?" Tanya Mas Wahyu tiba tiba. Ku alihkan pandanganku ke arah Mas Defri sekilas. Hanya tatapan datar yang tersimpan meski sedang ditanya.
"Engga Mas, mau ke rumah temen soalnya."
"Dimana itu?"
"Surabaya Mas."
"Lho, emang Ayah sama Ibu kamu ngga pulang kesini?"
"Pulang kok."
"Terus gimana? Masa orangtuanya pulang Masnya malah mau ke rumah temen. Berapa hari itu terusan?"
"Ya ngga papa mas mas. Satu minggu kayanya."
"Terus kalau misalnya nanti dirumah temen Mas itu ada saudaranya yang datang gimana?"
"Ya biarin." Mendengar hal itu, mataku refleks menatap kearah Mas Wahyu yang kebetulan memang memang menatapku. Seolah mengerti apa yang akan dikatakan. Namun Aku hanya diam dan sedikit tertawa tertahan. Begitu pula dengan Mas Jefri yang ku paham dari sorot matanya juga se pemikiran denganku.
"Seriusan Mas? Ngga kangen sama mereka? Udah lama kan ngga ketemu."
"Engga Mas, biasa aja."
"Lha aneh sih Mas soalnya, orangtua pulang anaknya malah pergi gitu." Mas Defri hanya sedikit tertawa. Namun setelahnya tak menanggapi.
Hingga tak terasa, waktu istirahat telah tiba.
"Udah yuk, istirahat dulu lanjutin nanti. Udah jam setengah dua belas soalnya." Ajak Mas Wahyu. Akhirnya kami bersiap untuk segera ganti baju dan istirahat. Dengan aku yang selalu istirahat paling akhir, karena harus mengepel dulu, disini tidak kena OB jadi harus dirawat sendiri. Apalagi disini posisiku sebagai perempuan sendiri.
Namun, meski perempuan sendiri Aku tidak serta merta bisa seenaknya dan harus bisa memposisikan diri.
Satu jam berlalu begitu cepat, karena jam istirahat ku pakai dengan tidur jadi tidak terasa jika jam istirahat telah berlalu.
__ADS_1
Mau tak mau, kami kembali bekerja meski kantuk masih terasa. Semua berjalan lancar seperti biasa. Masih dengan obrolan yang seperti biasa. Sampai jam pulang telh tiba.