REMINDER [ CERITA HARIAN ]

REMINDER [ CERITA HARIAN ]
REMINDER [ CERITA HARIAN ]


__ADS_3

Ku ambil salah satu mesin, ketiga orang baru itu menatapku dengan serius. Ditambah lagi Mas Putra juga ikut menatapku.


"Coba contohin dulu kalau versi kamu gimana Yun," ujar Mas Putra padaku.


"Oke Mas," Aku mencoba menjelaskan meski rasanya benar benar sangat gugup. Ditambah lagi jantungku terus berdebar kencang. Bahkan Aku tidak berani menatap mata ketiga orang baru itu. Hehe, Aku memang payah.


"Jadi gitu ya Mas, Mbak. Nanti ngeceknya yang pede aja. Maksutnya pede tuh yang kenceng, tapi jangan terlalu kencang juga." Jelasku sedikit belibet. Orang orang disana malah tertawa mendengar penjelasanku.


"Yun, coba jelasin yang lebih detail lagi. Bingung tuh mereka malah sampe ketawa gitu " Mas Putra ikut tertawa.


"Iya Mas, tapi jangan natal Aku segitunya dong, Aku malu." Ucapku sedikit menutup mukaku, yang disambut dengan gelak tawa mereka.


"Aku contohin aja cara ngeceknya, lihat baik baik. Eh barang yang ku bawa ini maksutnya ya, bukan orangnya." Mereka kembali tertawa mendengar penjelasanku. Namun tak urung juga melihat apa yang ku contohkan.


"Nanti kalau habis, minta sama siapa Mbak?" Tanya Mbak Nani, as kakaknya Farel.


"Kalau habis ya Mbak? Nanti bisa tiap pagi tak setor. Atau kalau nanti yang produksi lagi ramai, salah satu dari tim kita akan kesini buat ngajarin motong motongnya."


"Oh gitu, baiklah."


"Hehe iya Mbak, apalagi yang potong lebih ke lelaki. Ini udah ada dua temen. Tetapi kalau mbaknya bisa dan mau sih ngga masalah." Kataku tertawa.


"Hehe lihat dulu Mbak kaya apa." Balas Mbak Nani tertawa.


"Oke, jadi sampai sini cukup paham? Atau ada yang mau ditanyain lagi? Sebelum Yuna kembali buat produksi?" Tanya Mas Putra pada mereka, yang tidak ada balasan dari mereka. Berarti cukup paham lah.


"Baiklah, udah ya Mas ini berarti? Aku bisa balik kan Mas?"


"Iya Yun, boleh." Jawab Mas Putra. Aku beranjak dari tempatku tadi, sebelumnya ku ambil beberapa kantung wadah yang sudah jadi.


"Ini ku ambil ya Mbak? Buatan kemarinya kan ini? Mau dipakai soalnya." Ijinku.


"Oh iya boleh, ambil aja." Sesudahnya, Aku berpamitan dan kembali berjalan menuju ruangan dimana tempat kami produksi barang.


Ku lihat di seberang jalan ada salah seorang OB, ku sapa saja dia. Aku memang orang ramah, tetapi itu berlaku hanya untuk yang sudah ku kenal saja. Bahkan, jika satu perusahaan dan namun bukan satu ruangan, dan tak pernah menyapa, aku pun akan cuek dengan hal seperti itu.


"Kok lama banget Ndro? Ini aja udah mixing dapet setengah lho." Seru Mas Wahyu padaku. Ku jawab saja apa adanya, dan apa yang terjadi.

__ADS_1


"Tadi dicegat dulu mas, sama Mas Putra." Jawabku santai.


"Emang ngapain Putra nyegat kami Yun?" Tanya Mas Jefri menyambung.


"Jadi, ada anak baru Mas. Itu lho, yang kamu minta buat wadah itu. Ditambahin dua tuh."


"Terus apa hubungannya coba?" Mas Wahyu masih saja belum paham. Astaghfirullah, biasanya dirinya jika ada apa apa bisa langsung nyambung, ini kenapa dia sepertinya eror.


"Astaga Masss," Aku menepuk keningku gemas.


"Jadi, kan kebetulan banget tuh Aku kamu minta ambil wadah yang udah dibuat. Nah, Mas Putra itu melihatku melintas. Jadi, dia menahan ku dan memintaku buat mengajari anak baru itu."


"Oh iya ya Ndro, kayanya Aku eror banget."


"Kamu kurang Jajan Mas, seriusan" balasku ngakak, diikuti julitan dari mas Jefri.


"Anak barunya ada berapa Yun?" Tanya Pak Danang padaku, Aku emnoleh ke arah Pak Danang dan menjawabnya.


"Dua Pak, jadinya ada tiga orang. Tapi ngga tau juga kan kali ditambah." Aku tertawa.


Dan dari sekian obrolan kami, sementara untuk saat ini hanya tentang pekerjaan. Mengingat permintaan semakin deras. Akan tetapi, itu juga Alhamdulillah bagi kami. Dengan begitu, akan lancar sampai lebaran tiba karena memang mengingat puasa tinggal dua hari lagi.


"Ndro, kamu sanggup ngga kalau kira kira besok bawa 500 pcs?" Tanya Mas Wahyu tiba tiba di sela pekerjaan.


"Apanya Mas?"


"Packing Ndro, apalagi."


"Emang targetnya berapa?"


"Ini tuh kata Mbak Sekar target mulai ditambah lagi jadi 1000. Kalau Pak Danang gimana?" Tanya Mas Wahyu lagi beralih ke Pak Danang.


"500 Mas? Bisa ngga ya, tergantung anakku e mas. Tapi boleh deh dicoba dulu."


"Baiklah, Pak Danang udah oke Ndro. Kalau kamu gimana?"


"Aku? Kayanya juga bisa Mas, tapi ngga tau bawanya bisa apa engga. Tau sendiri kan packingnya segede apa, kalau ngga ditata rapi mana bisa bawa. Kalau kamu mau bawain pas berangkat sih Aku oke aja." Aku tertawa diakhir kataku.

__ADS_1


Mas Wahyu melirik dengan ogah padaku, namun Aku tahu itu hanya bercanda. Aku semakin tertawa, menggodanya itu sungguh seru. Apalagi pada Mas Wahyu. Aku suka banget kalau dia marah marah, terlihat lucu.


Tapi bagi di devisi lain, pada takut jika sudah bertemu dengan Mas Wahyu, karena mukanya yang selalu judes dan menatap dengan sinis. Mas Wahyu itu menurutku ngga serem. Cuma terkadang cara bercandanya terlalu ekstrim. Aku yang sering kena sasaran dirinya.


"Jajan ngga Jef?" Tanya Mas Wahyu tiba tiba pada Mas Jefri.


"Engga dulu Bang, ini lagi insyaf Aku." Balas Mas Jefri. Mas Wahyu terkekeh kecil mendengarnya.


"Alhamdulillah banget Jef, kamu sahur?"


"Elah Bang, ini belum puasa. Inget."


"Lho, kamu ikut NU apa Muhammadiyah?"


"Yun, punya kita Muhammadiyah kan ya?" Tanya Mas Jefri padaku.


"Hoo Mas, sebagian besar warga kita emang Muhammadiyah."


"Muhammadiyah Bang berarti."


"Kalau Aku sih fleksibel. Tapi kayanya tetep ikut NU."


"Ngga papa Bang, sama aja menurutku. Cuma kalau NU kan ngga genap. Iya ngga Pak?"


"Hoo Jef, tapi itu semua kan balik lagi ke yang menjalaninya " jelas pak Danang.


"Terus? Kamu bawa bekal? Itu si Reni ngga ngamuk ngamuk kalau kamu ngga keluar?"


"Engga bawa Bang." Mas Jefri tertawa, ku lihat Mas Wahyu geregetan lalu menabok Mas Jefri. Lucu sekali interaksi mereka, Alhamdulillah banget ngga cuma Aku yang jadi sasaran Mas Wahyu. Aku tertawa dalam hati.


"Aduh Bang, sakit ini. Tangan Segede gitu nabok Aku yang seuprit gini." Aku tertawa melihat Mas Jefri mengelus lenganya


"Sakit ngga Mas?" Tanyaku sambil tertawa melihat hal itu.


"Engga kok Yun, cuma kaya habis di sengat tawon berame rame." Aku semakin ngakak mendengar hal itu.


Teringat oleh Mas Defri, Aku tidak tau selera bercandanya seperti apa. Hal lucu seperti ini saja dia tidak tertawa, menoleh pun bahkan tidak. Hal ini yang masih menjadi misteri bagiku. Tetapi Aku diam dulu, baru kalau sudah lama dan tidak ada perubahan, baru curhat ke Mas Wahyu. Hehe.

__ADS_1


__ADS_2