
Mungkin ini agak telat dan bisa di bilang memang telat untuk membahas kehidupan sekolahku sekarang.
Tapi lebih baik dari pada tidak sama sekali, bukan. Aku bersekolah di SMAN 2 dan saat ini masih berada di bangku kelas X.
Hari ini sekolah kami melakukan agenda tahunan mereka yaitu camping, bukan hal khusus di sekolah kami dan kami akan di bagi menjadi 5 orang dan di dalam kelompok bisa berbeda-beda tapi yang jelas akan ada laki-laki dan perempuan, ini di tujukan untuk bisa bekerja sama dengan yang lainnya.
Karena saat melakukan camping kami akan memasak dan mendirikan tenda kami sendiri, tentu ini merupakan kegiatan yang harus di lakukan bersama, terutama di hari berikutnya kami akan Gotong Royong membersihkan daerah hutan. Karena mungkin saja ada orang yang membuang sampah sembarangan atau mengumpulkan dedaunan yang sudah mati.
Dan kesampingkan kegiatan membosankan itu, saat ini akhirnya perjalanan masa mudaku dalam mencari cinta pertamaku di mulai.
Kenapa? Karena selama camping 3 hari ini aku sekelompok dengan Cella, dia adalah cinta pertamaku semenjak aku masuk ke sekolah ini.
Cantik, Pintar, terlebih lagi dia memiliki senyuman yang selalu teringat di pikiranku, aku yakin cella adalah jodohku.
Kenapa? Tentu saja karena kami satu kelompok, apa lagi kalau bukan takdir yang menyatukan kami sekarang.
Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini dan di hari terakhir dari camping ini, aku akan menyatakan perasaanku, tentu saja setelah aku cukup dekat dengan dia.
Waktuku adalah 2 hari, dalam dua hari aku harus bisa membuat kami dekat dengan begitu aku yakin, aku pasti bisa menjadi pacar Cella.
Dan pada saat itu tiba, aku akan menikahi dia! Tapi bukan di dunia nyata, mana mungkin aku melakukan itu, kami masih 15 tahun, KTP saja belum ada. Tapi aku akan melakukan itu di dunia Game yaitu Rune of Neverland.
Di dalam Game itu terdapat fitur pernikahan untuk karakter yang memiliki gender yang berbeda.
Banyak karakter yang melakukannya karena bisa membuka beberapa menu khusus di dalam game, namun! Untuk aku itu adalah hal yang luar biasa untuk menikahi perempuan yang aku sukai meski itu hanya di dalam Game!.
*Bruk!
"Kyaaa!!!"
"Wa-wahyu! Ada apa ini!?"
"Entahlah Rudi, sebelumnya dia baik-baik saja." Kenalkan yang saat ini sedang panik adalah Rian dan yang baru saja jatuh dan sepertinya akan menghadapi Sakaratul Maut adalah Wahyu.
"Ri-rian... Rudi...." Wahyu menatap kami dengan wajahnya yang sudah pucat.
"Wahyu! Bertahanlah!" Rian mengucapkan itu dengan bergetar, meratapi nasib temanya itu sekarang.
"Aa...."
"A-apa Wahyu?"
"Aaaaiiirrr...."
Sontak dengan cepat Rian mengambil segelas air dan membantu Wahyu meneguk gelas tersebut dan sesaat wajah Wahyu mulai membaik.
"Hah... Hah... Aku pikir akan mati tadi," kata Wahyu setelah beberapa saat meminum air.
"Ma-maaf!"
"Hoi! Apa yang kalian masukan kedalam supnya!?" Rian bertanya ke arah dua perempuan yang sedari tadi berada di dekat kami yaitu, Cella dan Karin.
"Ti-tidak ada, kami cuma memasukkan bahan yang menurut kami perluh, kok," kata Karin sebagai pembelaan diri.
__ADS_1
Beberapa menit sebelumnya.
"Cella menurutmu bahan berikutnya apa?"
"Entahlah, aku tidak pernah masak sebelumnya."
"Ah! Bagaimana dengan mayonaise? Ini masakan pertama kita, seharusnya ada bahan yang sepecial, bukan?"
"Hum.. ka-kalau gitu aku mau ada telur" sesaat Cella memecahkan telur dan langsung memasukkannya.
"Ah!? Cella Bukannya harusnya di rebus dulu?"
"Be-benar juga, bagaimana, dong?"
"Sudahlah, kita cuma memasak sup hal buruk apa yang bisa terjadi."
Dan setelah itu mereka memasukkan berbagai macam bahan yang menurut mereka perluh.
Kembali ke waktu sekarang.
"Ka-kalau gak percaya, coba aja Rudi makan itu?" Kata Karin yang sepertinya memang tidak sadar dengan apa yang baru saja dia buat.
"Aku!?"
Sesaat Karin memberikan semangkuk sup yang memiliki warna aneh dan yang lebih parah, dari jauh saja, hidungku bisa dengan jelas mencium aroma yang tidak sedap dari sup itu.
Karin, apa kau punya dendam denganku, sudah jelas ini bukan makanan! Aku ingin dengan tegas menolak makanan ini. Namun, sesaat aku melihat wajah Cella dia menatapku dengan berharap.
'sial.. apa aku akan berakhir seperti ini.' Aku berucapkanya dalam hati setelah mengambil satu sendok dan mulai mendekatkannya ke mulutku.
*Gluk...
"I-itu masakan pertama aku." Sesaat Cella mengucapkan itu dengan wajah bersalah, sial! apa tidak ada jalan lain.
Aku menahan napasku dan memantapkan hatiku untuk merasakan makanan pertama yang di buatkan oleh pujaan hatiku yaitu Cella.
Kekuatan Cinta, benar dengan kekuatan Cinta kata orang *** kambing pun bisa berasa Coklat, aku yakin dengan kekuatan Cinta aku bisa bertahan dengan cobaan ini.
*Gluk...
Akhirnya aku memasukkan satu sendok itu kedalam mulutku dan menelannya, sesaat aku merasakan sensasi yang luar biasa.
"Rasa ini...."
"Bagaimana?" Cella bertanya dengan wajah penuh harapan tentu aku akan menjawabnya agar dia tersenyum.
"I-ini Enak-"
*Brukk!!!
"Rudi!?"
Percuma, dengan kekuatan Cinta sekalipun aku tetap tidak bisa mengubah racun menjadi makanan.
__ADS_1
"Rudi! bertahanlah!"
Sesaat kesadaranku mulai memudar semua mulai berwarna putih dan aku melihat seseorang mendekatiku.
"Man Rabbuka?"
"Gyaaaaaaaa!!!!!"
"Ru-rudi, akhirnya kau sadar!"
Sesaat, aku berpikir menemui sesuatu yang seharusnya tidak aku temui.
"Hah... Hah... Aku kira, aku akan mati tadi...." gumamku pelan.
Setelah itu Cella dan Karin meminta maaf karena gagal membuat masakan dan juga hampir membuat kami terlepas dengan dunia ini.
"Hah... Bagaimana dengan makan malam kita sekarang."Keluh Rian yang perutnya mulai berbunyi, saat ini kami tidak bisa turun gunung untuk membeli bahan karena hari sudah mulai malam.
"Maaf, karena kami, kita jadi tidak ada makanan." Karin mengatakan itu dengan rasa bersalah.
"Aku juga, maaf."
"Sudahlah...." Aku mengatakan itu agar mereka tidak terlalu merasa bersalah, aku masuk kedalam tendaku dan mulai memeriksa tasku.
"Lagi pula aku bawa Mi Cup juga, mungkin tidak akan membuat kenyang. Tapi, paling tidak kita masih bisa makan." Aku membagikan ke semuanya.
"Rudi memang bisa di andalkan," kata Rian yang langsung memasak air panas dengan kayu bakar yang kami kumpulkan.
"Makasih." Cella mengucapkan itu dengan sebuah senyuman yang membuat jantungku berdetak kencang.
"I-iya," balasku yang jelas gugup, sial, kenapa aku seperti ini sekarang padahal ini waktunya untuk terlihat keren.
Dan malam itu kami memakan Mi Cup yang aku bawa, sesekali aku memperhatikan Cella dia memang perempuan yang aku sukai.
Meskipun untuk hari ini akhirnya aku sadar ternyata dia tidak bisa masak.
TBC.
.
.
.
Catatan Penulis.
Halo semuanya, apa kabar? mudahan baik,yah.
Ini pertama kalinya ane menyapa kalian secara langsung di cerita Rune of Neverland. sampai chapter 10 ini, ane berharap kalian bisa tetap menikmati cerita yang ane tulis ini.
Sebagai LN pertama ane, LN ini mungkin masih banyak kekurangan dan kesalahan di sana sini. Tapi, ane akan berusaha untuk menulis lebih baik lagi dan membuat cerita ini lebih menarik lagi, agar kalian bisa menikmati dunia yang ada di cerita ini.
dan mungkin cuma itu saja, kedepannya mungkin ane akan muncul lagi seperti ini tapi gak tau juga, yah.
__ADS_1
okeh, jangan lupa Like dan Komen, yah.
Salam Pian... (〜 ̄▽ ̄)〜