Rune Of Neverland

Rune Of Neverland
Chapter 21 - Kencan!? #2


__ADS_3

"Beneran cuma itu aja, kak," Saat ini aku dan Alice sedang duduk di sofa pada ruang utama rumah ini, sementara itu Rika masih menatap kami berdua dengan ragu, cukup banyak yang perluh aku jelaskan.


"Beneran, kami berdua gak ada hubungan apa-apa, kami cuma teman Game, iyakan Alice?" Aku kembali mengatakan kepada Rika sementara itu Alice yang berada di sampingku menganggukkan kepalanya membenarkan penjelasanku.


Rika terdiam sebentar dan menghela napasnya, "Hah... Hari ini ayah dan ibu akan lembur sampai lusa." Sesaat dia melihat Alice, "Kamu boleh nginap di sini, lagi pula di luar hujan lebat."


Alice tersenyum akan tetapi Rika langsung berkata, "Tapi, jangan pikir kamu bisa mesra dengan kak Rudi."


"Sudah aku bilang, kami cuma teman."


"Ha-habis... Bisa-bisanya kakak pulang-pulang bawa cewek gini, apa lagi...." Rika sesaat melirik ke Alice.


"Hah?"


"Uh... Kakak Suka dadanya kan!?"


"Kok, kesana!?"


"Ha-habis koleksi video p*rn* kakak... semuanya cewek dengan dada gede!"


"Ukh! Ri-rika! Kamu meriksa kamarku lagi!?"


"Padahal aku udah menyisipkan yang adik perempuan, kok. Gak di buka, sih!?"


"Jadi itu dari kamu!? Jelas gak akan aku bukalah!"


Sementara aku dan Rika saling ribut sesaat Alice tertawa kecil dengan tingkah kami, kami berdua langsung diam dan menghela napas.


"Ah, ma-maaf," kata Alice agak malu saat kami berdua melihatnya.


"A-aku anak tunggal jadi aku gak pernah seperti kalian, itu... agak lucu, kalian akrab, yah." Kami berdua setelah itu hanya menghela napas, sepertinya kami sedikit terbawa tadi.


"Hah... Alice kamu mandi duluan aja, kamu bisa pinjam baju Rika, aku mau bantu Rika bikin makan malam." Setelah itu Rika ke kamarnya, dia mengambil sepasang baju piyama dan memberikannya ke Alice.


Aku menunjukkan arah kamar mandi dan setelah itu aku dan Rika menyiapkan makan malam, sementara itu dari luar masih jelas terdengar suara hujan, sepertinya malam ini akan sangat lebat, aku harap tidak ada pemadaman listrik.


"Oh, Alice makanan malam, sudah siap, nih." Aku mengatakan itu saat melihat Alice selesai mandi dan mengenakkan piyama dari Rika.


Awalnya aku tidak terlalu memperhatikannya tapi, jika aku perhatikan sepertinya tubuh Alice sedikit.


"Gimana bajunya?" Tanya Rika, Alice sedikit agak ragu menjawab tapi ini sedikit di luar perkiraanku.


"I-ini agak sedikit sempit, terutama di sini." Alice mengatakan itu saat kanci baju piyama Rika hampir lepas karena ukuran yang tidak sesuai, astaga, itu sedikit menunjukkan bagian yang membuatku cukup, gimana, yah, tergoda mungkin.


"Ah! Ukuran ini! Kak jangan liat!" Sontak Rika menutup mataku dengan kedua tangannya.


"I-iya, aku tau Rika, aku mandi sekarang, kalian makan aja duluan." Aku kemudian berjalan ke kamar mandi setelah mengambil pakaian ganti.


*Krett...


Aku membuka pintu kamar mandi, aku mulai menyalakan keran untuk mengisi air, astaga, ukuran itu agak terniang di pikiranku, seharian ini aku terlalu fokus untuk mempertahankan nyawaku dari wahana sialan itu.


Aku sampai tidak sadar kalau aku kencan dengan perempuan secantik Alice, aku memang cuma mengenalnya di dalam game, kami juga bahkan tidak terlalu dekat dan satu hal yang membuat kami terhubung adalah dia merupakan teman pertamaku di RON.


Tapi hari ini kami kencan dan dia bahkan menginap di rumahku dan jika di pikir, Alice cukup besar.


Sontak sesaat aku menggelengkan kepalaku, astaga dia temanku, kenapa aku berpikir tentang itu.


Aku kembali melihat keran, airnya sudah hampir penuh, aku menanggalkan bajuku dan bersiap untuk mandi. Namun, sesaat pas aku akan menaruh bajuku di dalam mesin cuci.


"Akh!? I-ini, kan...." Aku mengambil sesuatu dalam mesin cuci dan melihatnya dengan jelas.


"Se-serius, ukuran Alice segini...." Aku melihat dengan jelas baju dalam dari Alice.


*Bhuk!


"Ah!? Kenapa aku rasanya gak punya Akhlak gini!?" Sontak aku memukul wajahku sendiri, astaga ini godaan, ini tidak benar, aku harus cepat-cepat mandi.


Setelah itu aku langsung mandi dan mencoba tidak memikirkan apapun, meskipun sekali-kali aku tidak sengaja melihat baju dalam itu, astaga kenapa aku separah ini.


"Tu-tunggu...." Saat aku selesai mandi dan mulai memakai pakaianku sesaat aku menyadari sesuatu.


"Da-dalaman Alice di sini, baju Rika agak terlalu kecil...." Aku menghentikan kalimatku sesaat.


"Jadi dia...." Sontak tubuhku membeku dengan kesimpulanku selanjutnya.


"Dia gak pake dalaman...," gumamku pelan.


"...." Aku diam sesaat, aku melihat dinding dan.


*Bruk!


Menghantamkan kepalaku ke dinding.


"Jaga pikiranmu Rudi!"


Setelah aku berdebat dengan pikiranku sepertinya pihak iblis di dalam pikiranku mulai banyak berunding tentang hal buruk yang seharusnya tidak aku pikirkan.

__ADS_1


Aku memijat keningku yang masih memerah dan sedikit sakit, aku melangkah menuju dapur, terlihat Rika dan Alice sudah selesai makan dan sepertinya mulai menonton TV, mereka mulai berbicara. sepertinya mereka mulai dekat.


Aku mulai menyantap makan malamku, selesai itu aku langsung pergi ke kamar, aku mencoba tidak melihat Alice sebisa mungkin.


Setelah sampai ke kamarku, aku langsung merebahkan diriku, aku mulai memainkan Handphoneku, cukup lama sampai aku mendengar sebuah ketukan di luar kamar.


"Masuk aja gak di kunci, ada apa Ri-" Sesaat aku menghentikan ucapanku, aku kira itu adalah Rika tapi ternyata itu adalah Alice.


"A-Alice...," Gumamku.


Alice memasuki kamarku dan kembali menutup pintu kamarku.


"A-ada apa, yah." Kenapa aku jadi gugup gini.


Sementara itu Alice berjalan mendekatiku, "Gak, gak ada apa-apa. Jadi ini kamar kamu, yah."


Alice melihat-lihat sekitar, di sini memang ada beberapa poster Anime dan Game yang aku suka, mungkin dia tertarik.


"Aku mendekati Alice, "Gak ada yang menarik di sini-"


Sesaat kalimatku terpotong saat melihat bagian itu, terlihat jelas kancing itu sudah berusaha sekuat tenaga untuk menahan dua bongkahan besar itu.


*Gluk...


Okeh, sekarang ini godaan dan ini juga membuatku jadi gugup parah, "A-anu Alice, le-lebih baik kamu ke tempat Rika Aj-"


*Test!


"Ah!"


"Akh!" Sesaat kancing baju Alice itu terputus dan dengan keras menghantam keningku.


Sesaat aku langsung memegang keningku yang terasa sakit, sementara itu Alice panik, "Ma-maaf... Ka-kamu gak papa Rudi?"


"I-iya cuma agak sakit, doang. dari pada itu-" Sontak mataku membulat saat dengan jelas aku bisa melihat belahan dari baju yang Alice gunakan.


Dia sama sekali tidak menggunakan dalam seperti yang aku kira, "A-alice! Ba-bajumu!"


Aku langsung menutup mataku dengan kedua telapak tanganku, sementara itu Alice mencoba menutupi bagian depannya akan tetapi.


*Cetaaaaaar!!!


"Kyaaa!"


Sesaat petir menyambar dengan keras dan lampu juga langsung mati, Alice terkejut dan sontak memelukku, "Tu-tunggu Alice!?"


*Bruk!


"A-alice ini-" Sesaat kalimatku terputus, keadaan mungkin cukup gelap tapi aku dengan samar aku bisa melihat Alice menangis.


"Hiks... Hiks... Ma-maaf... aku takut petir...," lirih Alice pelan.


"...."


"Begitu...." setelah itu aku cukup lama diam, sementara itu Alice membenamkan wajahnya, dia sepertinya benar-benar ketakutan.


Aku mencoba menenangkannya, aku mengelus pelan kepalanya, sesaat dia cukup lebih tenang.


*Blam!


"Suara apa tadi kak? kakak gak jatuh, kan-" Semua begitu tenang sampai sesaat Rika memasuki kamarku dengan sebuah senter, sontak wajahnya syok saat melihat aku dan Alice sekarang.


"Ka-kalian berdua...," lirih Rika dengan suaranya yang agak bergetar.


Sontak aku sadar dengan posisi kami sekarang, astaga jelas Rika akan salah paham sekarang.


"Ri-rika, tunggu ini bukan seperti itu," kataku yang langsung mengubah posisiku jadi duduk, akan tetapi ini justru membuat ini semakin salah, Rika bisa melihat jelas baju Alice yang kancingnya sudah terbuka,


dia melihat jelas bagian depan Alice yang begitu menantang.


"Ah! Ri-rika... I-ini-"


"Kakak!!!"


Setelah itu aku harus menghabiskan satu jam penuh untuk menjelaskannya ke Rika, Sementara itu Lampu sama sekali tidak ada tanda-tanda akan menyala dalam waktu dekat.


Hujan di luar juga masih turun dengan derasnya, "Be-beneranya cuma itu!?"


"Sungguh, itu gak sengaja Rika." Aku mengatakan itu berulang kali meskipun wajah Rika sama sekali tidak percaya.


"Hum!" Rika memalingkan wajahnya, dia terlihat kesal.


"Haha... Dari pada itu, sudah agak malam, mungkin lebih baik kita tidur, Alice kamu tidur di kamar Ri-"


*Ctaaaaar!!!


"Kyaaa!" Sesaat Alice langsung memelukku lagi, sementara itu Rika terlihat kembali kesal sekarang.

__ADS_1


"Kakak!"


"Bu-bukan aku!"


Setelah itu Alice melepaskanku setelah beberapa saat, "Hiks... Ma-maaf," lirih Alice pelan.


Rika menghela napasnya pelan, "Hah... Ayo Alice, kita tidur di kamarku aja."


Alice tidak langsung menjawab, "A-anu... Rika... bi-bisa kita di sini aja...," Gumam Alice.


"Tu-tunggu di sini?" Aku menanggapi ucapan Alice.


"I-iya... Bertiga, aku takut...."


Rika tidak langsung menanggapi Alice, dia masih melihat Alice yang matanya masih memerah, "Hah... Baiklah, aku akan mengambil lilin," kata Rika yang kemudian keluar kamar untuk mengambil lilin.


"Makasih, Rika."


"Kamu gak masalah Rika?" Tanyaku saat Rika menyalakan sebuah lilin dan menaruhnya di sudut kamar.


"Gak papa, dia beneran takut kak...," kata Rika sambil mengeluarkan kasur cadangan yang cukup besar dalam lemari.


Dan setelah itu kami mencoba untuk tidur dan entah kenapa sekarang aku berada di tengah tempat tidur, Rika di bagian kiriku dan Alice berada di bagian kananku.


'Sial, gak bisa tidur,' ucapku dalam hati.


Tik... Tik... Tik...


Bunyi jam mulai terdengar jelas saat hujan sudah mulai mereda, dengan samar aku melihat ke arah jam, kini sudah jam 2 pagi dan aku sama sekali tidak bisa tidur.


Aku mengalihkan pandanganku di sana aku melihat Rika tertidur dengan pulas, sementara itu Alice juga, tetapi ada sesuatu yang menggangguku. yaitu, baju Alice, astaga meskipun agak samar itu terlihat jelas.


"...." Untuk beberapa saat aku terdiam sampai.


'Kalau gini, mah. Mana bisa tidur!' Aku langsung pergi keluar dari kamar, godaan apa lagi ini dan malam itu aku akhirnya tidur di sofa.


Meskipun cukup sulit. Tetapi, jelas lebih baik dari pada di dalam kamarku yang penuh godaan sekarang.


Setelah itu pagi hari, aku sama sekali tidak membahas kemarin malam, Rika memasak sarapan dan kami bertiga makan bersama-sama.


Meskipun aku hanya diam dan sepertinya mereka berdua jadi cukup dekat, mereka berdua saling bercerita tentang sesuatu.


"Yakin, aku gak perluh antar?" Tanyaku ke Alice saat dia baru saja keluar Rumahku.


"Iya, aku nanti naik taxi, kok." Alice sesaat tersenyum ke arahku.


"Dari pada itu, terima kasih."


"Hah?"


"Aku jadi sedikit paham tentang cinta." Setelah itu dia langsung pulang, sedikit membingungkan.


Dia bilang sedikit paham tentang cinta, sudahlah, aku tidak perluh terlalu memikirkannya.


Bagus kalau dia sedikit paham sekarang dan mulai besok kami akan melakukan penaklukkan Dungeon lagi.


Aku harap semua lancar, begitulah yang aku pikirkan.


Meskipun akan tetapi.


*Slaaash!


\=\=\=\=\=\=\=<>\=\=\=\=\=\=\=


Player Leon telah terbunuh oleh Boss Monster.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Hah... Hah... Ru-rudeus, sepertinya me-memang cuma sampai di sini...," lirih Elwin pelan, darah terus mengalir membasahi kepalanya.


"Hah... Hah... Elwin."


\=\=\=\=\=\=\=<>\=\=\=\=\=\=\=


Boss Monster : Dark Dragon


Level : 550


Rank : SS


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


*Graaaooorrr!!!


"Elwin! Awas!"


TBC.

__ADS_1


__ADS_2