
Hari ini adalah hari kencanku dengan Alicia, sebuah kencan yang bisa di bilang sebagai serangan tiba-tiba untukku.
Aku selama 15 tahun terkahir ini menjomblo dan berulang kali di tolak kencan oleh cewek semasa SMP tiba-tiba saja di ajak dengan teman game ku untuk kencan.
aku paham aku sudah punya cella di hatiku. tapi! ini kencan! kencan pertama, lho!
mana mungkin aku menolak tawaran kencan pertamaku ini, meskipun ada sedikit masalah karena dia menyatakannya di depan lainnya tapi semua sudah beres.
meskipun hatiku sedikit terluka karena cella sama sekali tidak menahan Alicia saat mengajakku kencan.
tapi kembali ke awal sejak awal hubunganku dengan Cella berada di area freanzone, memang sakit tapi sekarang aku hanya sebatas teman dengan Cella. yah, satu hal yang aku harap semoga hubungan ini bisa lebih berkembang, meskipun aku tahu ini akan sulit.
"ini... serius gak salah jalan," kataku saat kami berada di depan gerbang taman bermain.
sementara itu di samping seseorang perempuan berambut pirang panjang, dia adalah Alicia sangat mengagetkan karena dia ternyata memang cantik dan ternyata nama game dan nama asli Alicia tidak terlalu jauh beda yaitu Alice, itu bahkan hampir tidak terlalu jauh beda saat mengucapkannya.
dan satu hal yang mencolok dia mengenakkan baju santai yang menawan, wajahnya cukup membuat orang lain meliriknya dan itu membuatku sedikit deg-degan. astaga aku merasa jadi cowok yang gampang kesemsem.
mungkin karena kelamaan menjomblo, ke sampingkan itu, sekarang entah kenapa kami berada di sebuah taman bermain tua yang bahkan gerbangnya ini hampir rubuh, ini lebih seperti tempat uji nyali dari pada tempat pemuda pemudi kasmaran.
"Di sini, kok," kata Alice sambil memasuki pintu gerbang.
"Gak-gak ini bahkan lebih seperti tempat terbuang dan lagi-"
*Plok.
"Aduh!" Sesaat sesuatu terjatuh dari atas kepalaku, aku melihat ke atas dan itu adalah jalur trek rollercoaster, aku sedikit penasaran padahal tidak ada yang lewat jadi apa yang baru saja mengenai kepalaku.
jadi aku menoleh dan mengambil benda yang mengenai kepalaku.
"...." Sesaat aku diam saat menemukan itu adalah sebuah baut yang sudah berkarat.
Serius, ini yang jatuh tadi, "Alice, kurasa lebih baik kita pergi ke tempat yang lebih normal."
sementara itu, sesaat Alice datang mendekatiku sambil memberikan aku sebuah tiket, "Aku sudah beli tiket."
"Gak-gak jelas tempat ini berbahaya! kau gak liat sekeliling kita!"
"Hmn.. kamu benar Rudi." Bagus sepertinya Alice cukup sadar dengan taman ini.
"Gerbang yang sudah hampir rubuh, tiang rollercoaster yang sudah hampir patah, papan permainan yang sudah hampir tidak terbaca, hum... tempat ini memang sudah tua." Alice mengatakan itu sambil menunjuk berbagai tempat yang dia katakan.
"benar-benar, jadi kalau begitu labih baik kita-" sesaat Alicia memotong ucapanku.
"Tapi karena udah terlanjur beli tiket, ayo kita nikmati taman ini," kata Alice yang kemudian berjalan ke salah satu wahana bermain.
"Gak! kenapa malah itu, bukanya kau sendiri bilang tempat ini sudah tua," teriakku yang sesaat berdiri di depan Alice.
Aku mencoba menjelaskan pada Alice tapi pada akhirnya kami tetap mencoba wahana di taman ini.
"Baiklah Alice, tapi aku akan ingatkan, kau terserah mau coba apapun tapi paling tidak jangan pilih rollercoaster-"
"Beli 2 tiket."
"Baik, 2 tiket rollercoaster paling menakutkan di dunia."
"Hoi! dengar tidak!?" Astaga dia malah langsung membeli 2 tiket rollercoaster.
aku menggaruk kepalaku, astaga kenapa dia malah bertindak seperti ini, sudahlah meski agak aneh mendengar staf dari wahana rollercoaster mengatakan menakutkan di dunia dan tadi baru saja salah satu baut wahana mengenai kepalaku. Tapi, di lihat jalurnya tidak terlalu jauh jadi seharusnya tidak apa-apa, begitulah yang aku pikirkan sebelum melihat papan di samping wahana.
[Peringatan! Rollercoaster ini berusia lebih dari 50 tahu dan wahana ini sebelumnya baru saja memakan korban jiwa, oleh karena itu wahana ini di tutup untuk sementara.]
__ADS_1
"...."
"A-anu ini." aku menunjuk papan itu, sesaat staf langsung mengambil papan itu dan tersenyum ke arahku.
"Aduh maaf, papan itu sudah ada agak lama, tapi tenang wahana ini sudah di perbaiki, kok."
*plok!
sebuah baut jatuh lagi dekatku.
"..., ini baut, kan."
"Hahaha... bukan itu pasti bukan, dari pada itu, silahkan di isi." Staf itu memberiku sebuah kertas.
[Saya tidak akan meminta tanggu jawab atas apa yang akan terjadi saat mengikuti wahana ini _________]
"Apaan ini!" Aku tentu berteriak sekuat mungkin ke arah staf wahana.
"hahaha... aduh pengunjung, bukanya wajar mengisi tanda tangan sebelum mengikuti wahana."
"Gak! ini gak wajar! kita cuma ikut Rollercoaster! bukan banci jumping pakai tanda tangan segala!" setelah itu aku berusaha keras meminta penjelasan tapi karena Alice yang memaksa akhirnya aku ikut, tapi perasaanku betul-betul buruk sekarang.
saat ini aku dan Alicia hanya berdua mengikuti rollercoaster, kami duduk di bangku depan, kami memasang pengaman dan sepertinya perasaanku kali ini tidak salah.
*Klik.
"hah... paling tidak pengaman ini bekerja," kataku saat para staf mulai menekan tombol dan rollercoaster mulai berjalan.
rollercoaster bergerak berlahan, kami mulai naik, Alice di sampingku terlihat antusias.
aku mencoba untuk tetap tenang, tapi.
*Klik.
Sesaat pengaman dari rollercoaster tiba-tiba saja naik saat kami tepat berada di puncak jalur rollercoaster.
"Ah... Gawat...."
*Wuuzzzz!!!
"Gyaaaaa!!!! mati aku!!!! mati aku!!!! mati aku!!!" selama itu, entah berapa aku mengatakan itu yang jelas aku berusaha menggenggam bangku yang aku pakai sekuat tenaga.
sesaat ke sadaranku hilang saat rollercoaster mulai melambat, seseorang muncul dari ke jauhan dan.
"Man rabbuka?"
"Gyaaaaa!!!"
"Ah, Rudi kamu bangun." Alicia duduk di sampingku.
Entah kenapa aku melihat sosok yang sama setelah memakan makanan cella dulu.
"Hah.. kupikir aku akan mati tadi," gumamku, terlihat masih cukup banyak butiran keringat di keningku, aku rasa aku mendapatkan trauma lainnya.
"Baik karena Rudi udah bangun jadi-"
*Tes...
"Eh?" Sesaat ucapan Alice terputus saat tiba-tiba saja butiran air mulai turun dari langit.
"Ah, hujan." Alice sesaat kembali menepi saat hujan mulai meneteskan airnya.
__ADS_1
sementara itu aku bernapas lega, aku rasa kali ini nyawaku selamat dari berbagai mesin pembunuh di sini.
"yaa... hujan," kata Alice agak kecewa.
"Syukurlah."
setelah itu kami diam cukup lama, agak cukup canggung jadi aku ingin mencoba memulai pembicaraan.
"Alice?"
"Hm?"
aku menatap hujan yang terus turun, "kenapa kau mengajakku kencan?"
benar, ini cukup membuatku penasaran, padahal kami tidak saling kenal, kami hanya teman game, tapi kenapa dia berani melakukan ini.
"Umn... sebenarnya..." setelah itu Alice menceritakan berbagai hal. tapi, yang pasti dia mengajakku karena ingin mendapatkan pengalaman pacaran, dia adalah seorang penulis, meskipun usia kami sama, tapi, dia bekerja sebagai seorang penulis.
dia sudah membuat beberapa buku, sebagian buku yang dia tulis adalah cerita fantasy, akan tetapi, editornya mulai menyarankan untuk menulis gender cerita baru yang tidak pernah dia tulis.
menurut Alice ini cukup bagus untuk menulis hal baru namun dia tidak memiliki pengalaman romantis pada siapapun oleh karena itu dia ingin mencoba, dan orang yang dia pilih adalah aku.
seharusnya aku ini cukup beruntung menjadi orang pertama dia, tapi karena nyawaku baru saja terancam 2 jam yang lalu akan aku anggap ini nasib sial.
"Jadi begitu," kataku kepada Alice.
"Menemukan sesuatu? maksudku setelah kita ke sini?" aku bertanya kepada Alice yang kemudian di jawab dengan gelengan kepalanya.
"Tidak... Aku tidak mengerti." begitulah yang Alice katakan setelah itu.
"Begitu." setelah itu hujan agak Redah, aku bangun dari tempat dudukku dan melihat Alice "Ayo."
Alice menatapku, dia tersenyum dan kemudian bangun dari tempat duduknya.
"Kalau begitu aku ingin-" Sesaat aku langsung memotong ucapan Alice.
"Kita pulang." aku mengatakan itu sambil melangkah melewati gerbang.
"Eh?"
"Jangan bilang eh!? peduli amat dengan bukumu! aku baru aja hampir kehilangan nyawa tau!" aku terus berjalan sedangkan Alice mencoba memegang tanganku dia berusaha menahanku untuk tidak pergi tapi aku tetap tidak peduli.
ini tentang nyawa, aku tidak peduli kau ingin menulis buku. tapi, jangan libatkan nyawaku juga di dalamnya.
aku terus berjalan sampai sesaat tetesan hujan kembali turun dan membasahi jalan yang kami lalui.
aku dan Alice setelah itu berusaha mencari tempat berteduh dan karena sudah tidak terlalu jauh lagi dengan rumahku akhirnya aku juga membawa Alice pulang.
*Kreeett..
"Assalamualaikum," kataku saat aku dan Alice memasuki pintu rumahku.
"Wallaikumsallam, kakak aku baru-"
*Bruk!
sesaat kalimat Rika terputus saat melihat Alice memasuki rumah kami, dia terlihat agak syok, bahkan dia sampai menjatuhkan buku pelajaran yang dia pegang.
"Ka-kakak perempuan ini...." Rika mengatakan itu dengan suara bergetar.
sementara itu aku menghela napasku dengan berat, "Hah...." Ini akan merepotkan.
__ADS_1
TBC.