Rune Of Neverland

Rune Of Neverland
Chapter 12 - Setelah Itu


__ADS_3

"Rudi kenapa?" Bisik Andika kepada Wahyu dan Rian saat melihat keadaanku yang agak buruk sekarang.


"Yah, dari mana kami harus cerita, jadi begini...." Rian menjelaskan garis besar yang terjadi kemarin malam tentang kenyataan kalau Cella sudah ada pacar.


"Begitu," ucap Andika singkat setelah mendengar penjelasan dari Rian.


"Jadi gimana? Apa kita biarkan aja seperti ini? Liat, dia bahkan seperti orang mati sekarang." Wahyu berkata begitu sambil melipatkan kedua tangannya.


Andika mengelus dagunya dan memikirkan sesuatu, "Hmnn...."


"Oh iya, gimana kalau gini...." Andika kemudian menceritakan ide yang dia miliki kepada yang lainnya.


Sementara itu, aku yang berada di tempat lain sedang mengumpulkan sampah, karena ini adalah hari terakhir kami jadi aku ingin membersihkan sampah yang mungkin tertinggal dan tentu saja dengan kenanganku yang di dalamnya.


"Hah.... Gini amat jadi bucin," gumamku pelan.


"Ru-rudi?" Sementara itu sesaat terdengar suara dari belakang, aku membalikkan tubuhku sesaat napasku terhenti saat melihat seseorang yang memanggil namaku.


Itu adalah Cella, aku memundurkan tubuhku beberapa langkah karena terkejut, tidak sering aku berbicara dengan Cella.


Sial, padahal dia sudah punya pacar, padahal aku sudah tahu. Tapi, tetap saja aku masih gugup di depannya.


Apa selalu seperti ini ketika kita mencintai seseorang dengan tulus.


"I-iya, ada apa Cella?" Aku mengucapkan itu dengan sedikit terbata-bata.


"Ka-kamu tidak apa-apa?"


'ukh! Wajah itu, wajah kawatir dari Cella.'


'tidak-tidak, dia sudah ada pacar, sadarlah Rudi!' ucapku dengan keras dalam hati saat detak jantungku mulai kencang karena Cella.


"Kamu gak sakitkan?" Cella kembali bertanya saat aku tidak kunjung menjawab pertanyannya.


"Ti-tidak kok, hahaha.. liat aku sehat, kok." Jawabku cepat, saat ini, aku rasa aku mulai salah tingkah karena wajah Cella saat mengkhawatirkanku.


"Ka-kalau gitu aku kesana, mungkin masih ada dedaunan kering." Aku langsung pergi meninggalkan Cella saat menunjuk ke suatu arah dengan acak.


Sementara itu, Cella hendak bicara lebih lanjut. Tapi, karena aku langsung pergi, akhirnya dia mengurungkan niatnya.


'maaf Cella, karena aku langsung pergi,' kataku dalam hati.


Aku sadar perasaanku ini hanya akan bertepuk sebelah tangan. Jadi, lebih baik aku berusaha menjauh dari pada perasaanku ini membuatku lebih terluka.


Begitulah yang aku inginkan, tapi.


Entah kenapa saat ini, setelah menyelesaikan bersih-bersih kami langsung berbaris dan bersiap untuk kembali dari camping sekolah.


Kami akan pulang menggunakan bus, aku pikir perjalananku akan sunyi, akan tetapi aku sekarang malah duduk tepat di Samping Cella.


"Ru-rudi."


Aku menundukkan kepalaku, sepertinya aku mulai gugup sekarang, "Cella...." Aku mengatakan itu dengan pelan. Sial, kenapa bisa seperti ini.


Padahal aku baru saja bertekat untuk menjaga jarak dari Cella. Tapi, malah seperti ini.

__ADS_1


*Ping...


Sesaat terdengar dari ponselku, selama perkemahan ponsel di pegang oleh guru dan sekarang sudah selesai jadi ponsel kami sudah di kembalikan.


Aku mengeluarkan ponselku dari kantong dan menyalakannya, terlihat ada sebuah pesan masuk.


Aku kemudian membuka pesan dan melihatnya, pesan itu dari Andika yang duduk di bagian belakang bersama Rian dan Wahyu.


Andika : "Rudi! Berusahalah! (〜 ̄▽ ̄)〜"


Sesaat aku menutup ponselku, jadi ini karena kalian! Apa-apaan dengan Emoticon menyebalkan itu.


Aku tahu niat kalian baik. Tapi, aku baru saja menekatkan hatiku untuk merelakan Cella untuk bahagia dengan pacarnya.


"Hah...." Aku menghela napasku dengan berat.


Sementara itu, Cella yang berada di sampingku melihatku dan sepertinya ingin mengatakan sesuatu akan tetapi dia tidak mengatakan apapun.


Dan setelah itu, kami berdua hanya diam selama perjalanan.


Rasanya canggung ini, aku sesekali mencuri pandang ke Cella, aku melihat Cella memainkan jarinya sambil sesekali melihat pemandangan di luar dan terkadang juga dia melihatku tapi itu wajar mengingat kami duduk bersebelahan.


Rasanya agak malu saat pandangan kami bertemu.


"A-anu... Rudi." Tiba-tiba saja Cella memulai pembicaraan, aku mengalihkan pandanganku ke Cella meskipun aku masih merasa sedikit canggung.


Saat pandangan kami bertemu sesaat aku merasa gugup, aku rasa aku tidak akan terbiasa untuk bertatapan dengan Cella.


"Soal kemarin malam...." Cella mengucapkan itu, hal ini membuatku mengingat kembali kejadian itu.


"Kemarin malam, yah...." Aku tidak bisa menyembunyikan rasa sedihku.


Sementara itu aku hanya diam mengelola yang baru saja Cella katakan.


"Bercanda, yah...."


"Tapi kemarin-"


Cella sesaat memotong kalimatku, "Kemarin aku gugup."


"So-soalnya aku malu, Aku benar-benar suka game RPG." Suara Cella mengecil saat mengatakan itu.


Tapi, ada satu hal yang aku sadari.


"Imut...." Tanpa aku sadari aku mengucapkan itu.


"Ah." Sementara itu Cella agak terkejut dengan yang aku ucapkan.


"Gak, itu.. A-anu aku...." Aku langsung berpikir keras atas ucapanku barusan.


"Ah, kelinci, kelinci yang ada di Game RON imutkan?" Jelas aku mengucapkan itu dengan gugup.


"Hum, iya." Cella membalas kalimatku dengan semangat.


"Ja-jadi Cella pernikahan, itu." Aku sudah tahu alasan wajah gugupnya kemarin. Tapi, aku masih penasaran dengan yang satunya ini juga.

__ADS_1


"Itu benar, Cuma aku melakukannya dengan sepupuku." Jawab Cella yang kemudian menunjukkan sebuah fotonya dengan seseorang perempuan yang tidak aku kenal yang berada di ponselnya.


"Namanya Sekar, dia juga yang mengajakku main Game RON," kata Cella sambil memasukkan ponselnya kembali.


Sementara itu dalam hatiku, aku tidak bisa menahan rasa senangku, ternyata perjalanan cintaku masih belum berakhir.


"Tapi...." Sesaat wajah Cella menjadi sedikit sedih.


"Sekar akan pindah. Jadi, kami tidak bisa main bareng lagi," Lirih Cella dengan suaranya yang semakin sedih.


"Dia mau fokus kuliah, katanya dia akan berhenti bermain untuk sementara."


"Tapi! kenapa dia menceraikan aku!, padahal masih banyak bonus yang belum aku ambil!" Sesaat aku cukup terkejut karena aku tidak pernah melihat dia seperti itu.


"Ah, Ma-maaf." Cella menutupi wajahnya yang mulai kemerahan karena malu.


Sementara itu, seperti sebuah serangan tiba-tiba, jantungku kembali berdetak cukup kencang karena sikap Cella, astaga dia memang selalu imut.


"Gak, gak apa-apa, kok," balasku yang sepertinya masih tetap gugup.


"Dari pada itu. Jadi, Cella sudah cerai di Game?" Tanyaku setelah rasa gugupku berkurang.


"Iya."


"Begitu."


"Anu, Cella. Jika kamu gak keberatan." Cella menatap ke arahku.


"Menikahlah denganku."


Sesaat napasku terhenti, sementara itu Cella terkejut dengan pernyataanku.


'Gyaaaaaaa!!!' Sementara itu, aku berteriak sekencang mungkin karena mengatakan itu, apa yang baru saja aku katakan.


"Ti-tidak a-anu, maksudku itu, ki-kita main Game bersama," ucapku terbata-bata karena malu.


Setelah itu karena aku terlalu malu, akhirnya aku menutup wajahku dengan kedua telapak tanganku.


Sementara itu Cella yang berada di sampingku hanya diam.


sesaat aku mendengar dia tertawa kecil dan, "boleh."


Aku menurunkan sedikit telapak tanganku saat Cella mengatakannya.


Aku tidak percaya Cella menerima lamaranku.


'ap-apa aku bermimpi, ini tidak bohongkan, Cella menerima lamaran-'


"Kita main RON bersama." Kalimat selanjutnya itu berhasil memotong pikiranku.


"Ah, ja-jadi itu," kataku pelan.


"Iya, ayo kita main sama-sama."


"Rudi." Cella tersenyum ke arahku, sebuah senyum yang selalu membuatku gugup.

__ADS_1


aku tidak percaya, sepertinya, setelah ini aku akan berpetualang dengan orang yang aku Sukai.


TBC.


__ADS_2