
Mata Miho berbinar melihat pemandangan Yang ada didepannya, "Waa~ Laut!"
Saat ini kami baru saja selesai dari pelayaran, warna biru laut terlukis jelas sejauh mata memandang, Hembusan angin dan bunyi dedaunan dari pohon kelapa.
Akhirnya kami berada di pulau kecil yang berada di bagian Selatan, Killika. Sebuah tempat yang cukup populer untuk petualang bersantai di dunia RON.
Dasarnya Killika merupakan sebuah tempat yang di desain sebagai tempat wisata dan oleh karena itu, semua Monster yang ada di sini tidak ada yang berbahaya.
Justru sebaliknya hampir semua Monster di sini memiliki kelucuan dan keimutannya tersendiri dan hampir semua penduduk NPC Killika merupakan seorang Summoner kelas atas, mungkin itu juga yang membuat Monster di sini terbiasa untuk bertemu dengan manusia ataupun dari ras lain.
Saat ini Miho sedang berlari menikmati pantai yang sangat besar, terdapat beberapa Player dan juga NPC yang berjemur ataupun berenang.
"Rudeus! Ayo sini!" Aku rasa Miho terlalu bersemangat sekarang.
"Iya," balasku singkat.
Setelah itu kami berdua menikmati perjalanan kami. Sebenarnya aku ingin langsung menanyakan cara untuk mendapatkan Skill Summon dari NPC di sini. Namun, melihat Miho yang sepertinya menikmati waktu kami, aku rasa itu masih bisa nanti setelah ini.
"Skill Summon?"
"Rudeus mau belajar Skill Summon?"
"Bukannya itu cuma bisa di pelajari dengan job khusus saja." Miho mengatakan itu sambil memakan sebuah makanan tradisional khas dari Killika, sebuah makanan yang terbuat dari buah kelapa yang di keringkan dan diolah menjadi sebuah makanan kering, sekilas mungkin ini terlihat seperti sebuah biskuit tapi memiliki rasa yang agak asin, mungkin dari bahan yang mereka gunakan hingga memiliki rasa seperti ini.
"Yah, bisa di bilang begitu, aku ingin punya monster Summon, pasti akan sangat berguna." Aku juga mulai memakan Kue itu.
Setelah makan, kami langsung pergi ke kepala desa dari pulau Killika, terlihat seorang kakek tua dengan pakaian yang agak lusuh. Namun, terlihat jelas kakek itu masih cukup kuat di usianya yang sudah senja.
"Kamu ingin belajar Sihir pemanggilan?" Saat ini kami berada di dalam rumah dari kepala desa, sebuah rumah sederhana yang terbuat dari kayu dan beratapkan dedaunan dari pohon yang sudah di anyam sebagai tempat bernaung.
"Iya." Sihir itu adalah kalimat yang di gunakan oleh NPC sebagai pengganti kalimat Skill oleh player di dunia RON.
Kepala desa menatapku dengan serius dan kemudian dia meminum teh yang sedari tadi berada di depannya.
"Boleh," ucap Kepala desa setelah meneguk setengah gelas dari teh itu.
"Serius? Bagus-"
Belum sempat aku menyelesaikan kalimatku tiba-tiba saja kepala desa memotong ucapanku, "Tapi!"
"Sebelum itu, aku ingin kamu melakukan sesuatu untuk aku." Seperti yang aku duga ini akan menjadi Quest NPC.
"Apa kamu bisa?" Kepala desa kembali bertanya kepada aku dengan nada serius.
"Tentu apapun akan aku lakukan!" Aku mengatakan itu dengan tegas, menunjukkan bahwa aku serius.
"Hehe... Bagus-bagus."
__ADS_1
"Eh?" Sesaat aku merasakan firasat buruk yang akan datang.
Beberapa saat setelah itu.
"Apa-apaan ini kakek tua!?" Teriakku dengan nada tinggi setelah apa yang kakek itu lakukan.
Saat ini aku mengenakan bikini yang biasa di gunakan oleh perempuan, entah apa yang terjadi, saat aku di beri item itu aku kira itu semacam benda untuk berburu atau jaring untuk menangkap ikan, bukan bikini untuk perempuan seperti ini.
"Hoho... Bagus-bagus, kau terlihat cocok." Kepala desa tertawa puas setelah melihatku.
"Ru-rudi, pfff...."
"Cella! Ja-jangan liat!" Sementara itu aku tanpa sadar mengatakan nama asli Cella, sementara itu dia sepertinya berusaha keras untuk tidak tertawa.
"Kakek, kenapa aku harus seperti ini!?" Aku jelas perluh meminta penjelasan dari kepala desa.
"Hoho... Aku ingin kamu mengikuti festival kebudayaan kami di sini." Dan entah sejak kapan kakek itu juga sekarang mengenakkan bikini.
"Hahaha... Ma-maaf." Miho sama sekali tidak bisa menahan tawanya sekarang.
Ini pertama kalinya aku melihat Cella tertawa lepas seperti itu.
\=\=\=\=\=\=\=<>\=\=\=\=\=\=\=
Seorang kakek-kakek ingin kamu mengikuti Festival kebudayaan di pulau Killika. Apa kamu ingin membantunya?
[ ]Terima
[ ]Tidak
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sebuah jendela informasi sistem muncul.
Aku menghela napasku dengan berat, "Sepertinya tidak ada jalan lain."
"Ya."
"Hoho... Bagus-bagus anak muda, baiklah waktunya kita pergi, festival ini sebentar lagi akan di mulai." Kakek mengucapkan itu dan kemudian keluar dari rumah tanpa ragu sedikit pun.
"Ada apa anak muda, kau tidak akan keluar?" Kakek itu melihatku yang masih bersembunyi di balik pintu rumahnya.
"Mana mungkin! Aku perluh persiapan mental dulu!" Jelas aku mana mungkin keluar dari rumah dengan bikini perempuan tanpa persiapan hati.
"Hihihi... Ayo Rudeus." Miho menarik tanganku sambil tetap tertawa kecil.
"Mi-miho...."
__ADS_1
Astaga aku malu setengah mati sekarang.
Sesaat kami keluar di jalan dipenuhi dengan laki-laki yang mengenakkan bikini, ada apa dengan budaya di sini sebenarnya.
"Hah... Apa-apaan dengan Quest ini, apa setiap orang yang belajar Sihir Pemanggilan seperti ini," ucapku lesu yang berjalan telat di belakang kepala desa.
"Tidak, hanya kau, kebetulan kau datang saat Festival, jadi aku ingin berbagi kebahagiaan, kau beruntung anak muda," ujar kakek itu sambil tetap berjalan santai.
"Tu-tunggu maksudmu biasanya kami tidak perluh seperti ini," tanyaku yang saat ini merasa datang di hari yang salah.
"Tentu, biasanya aku hanya meminta mereka bayar atau mencarikan bahan di hutan"
"...." Aku diam sesaat.
"Jadi," Aku kembali bertanya ke pada kepala desa.
"Kau beruntung,"
"Gak! jelas ini sial!"
Setelah itu semua penduduk pulau berkumpul di tengah lapangan kosong di dekat pantai, semua saling berbaris dan membentuk lingkaran besar, semua yang berbaris di depan adalah laki-laki yang mengenakkan bikini.
Rasanya hatiku aku sakit saat melihat lebih dari 100 laki-laki mengenakkan bikini. kemana semua Keperkasaan kami sekarang.
Kepala desa memisahkan dari dari barisan dan kemudian berjalan ketengah lingkaran, dia terbatuk kecil, "Uhuk... baiklah semuanya."
"Semua rakyatku, hari ini adalah hari berbahagia kita, kita merayakan hari dimana penduduk Killika merdeka." Kepala desa berbicara dengan wibawa yang terlihat jelas. Namun, itu rusak Berat karena bikini yang dia kenakan.
"Dulu, saat leluhur kita mengusir bajak laut, mereka berhasil menipu mereka dengan berpura-pura menjadi perempuan."
"Oleh karena itu, banggalah! Senanglah dengan bikini yang kalian gunakan! Karena itulah sekarang kita bisa berdiri di sini tanpa beban!" Sekarang aku paham kenapa semuanya mengenakkan bikini, ini merupakan bentuk penghormatan kepada leluhur yang berhasil memerdekakan diri dari bajak laut.
Sebenarnya aku salut mendengar pidato dari kepala desa, tapi itu tetap terhalang saat aku merasa dingin di bagian selangkanganku saat tertiup angin.
"Baiklah semua rakyatku! mari kita merayakan hari ini dengan gembira!" Kepala desa menutup pidatonya.
Sesaat alunan musik Khas dari alat musik tradisional mulai di mainkan, semua mulai menari dan tertawa, suasana sangat di selimuti oleh kebahagian.
"Eh? Tu-tunggu Miho!" Miho yang berada di dekatku tersenyum dan kemudian menarikku depan membuatku berada di tengah-tengah kerumunan yang sedang menikmati tarian mereka.
"Ayo." Miho membujukku untuk ikut menari.
"Rudeus."
"Haha... mau bagaimana lagi." Aku kemudian menggenggam telapak tangan Miho dan mulai menari mengikuti alunan musik yang di mainkan.
Kami berdua tertawa dan menikmati alunan yang saat ini menggiring langkah kami berdua.
__ADS_1
TBC.