Rune Of Neverland

Rune Of Neverland
Chapter 11 - Camping Sekolah #2


__ADS_3

"Serigala gunung, di posisi 1 siap, Roger."


"Mata Elang, di posisi 2 siap, Roger."


Pagi hari, entah apa yang terjadi sepertinya Rian dan Wahyu cukup bersemangat.


"Baik, di sini Capten, lakukan plan A, Roger."


"Kalian itu sedang apa, sih." Aku mulai bertanya saat melihat mereka sepertinya melakukan hal yang mencurigakan, terutama Andika yang berada di atas pohon dengan teropong jarak jauh.


Andika adalah salah satu teman sekelasku, dia tidak sekelompok dengan kami. Tapi kami cukup dekat terutama karena dia juga temanku sejak kecil.


"Kau bilang sedang apa!?" Andika membalas ucapannya dengan suara serius setelah turun dari pohon.


"Dasar Rudi, tidak paham dengan perang yang ada di depan." Wahyu mendekati aku sambil menggelengkan kepalanya.


"Apaan, sih."


"Kau masih tidak paham!?"


"Tentu saja perempuan!"


"Hah?"


"Denger, yah. Saat ini kita di hutan, apa menurutmu mereka tidak akan mandi selama 3 hari?" Kali ini Rian menjelaskan kepadaku dengan nada keren yang seharusnya tidak di gunakan untuk ini.


"Jadi maksud kalian...."


""Tentu saja kita akan mengintip!"" Jawab mereka serentak.


"Sudah kuduga."


"Sssst... Ada yang datang." Sesaat kami semua langsung bersembunyi di semak-semak.


"Kenapa aku ikut juga," gumamku pelan.


"Semuanya bergerak berlahan." Setelah itu kami mulai berjalan  melewati jalan yang tertutup dari jalan utama yang di lalui anak-anak perempuan.


Kami terus mengikuti sampai berada di tepi sungai, terlihat beberapa anak perempuan mulai bersiap untuk mandi.


"Akhirnya, Rian Handycam."


"Roger Andika, ini."


"Beneran, nih."


"Ah, Rudi ada Cella juga."


"Mana!?" Sontak aku langsung mengambil teropong dari Wahyu dan mengarahkannya ke tempat yang Wahyu liat.


*Gluk...


"Ce-cella." Aku menelan ludahku saat melihat Cella, dia sepertinya berbicara dengan yang lainnya sampai dia mulai melepas pakaiannya.


Aku langsung menjauhkan mataku dari tropong.


"Ini salah, ini tidak benar sama sekali...," gumamku sementara itu sepertinya kedua sisi gelap dan terang mulai beradu pendapat di dalam pikiranku.


"Hoi! Rudi, kalau kau gak mau liat biar aku aja." Wahyu hendak mengambil teropong namun aku sama sekali tidak mau melepasnya, aku tidak ingin dia melihat Cella.


"Yosh... Waktunya mengabadikan momen ini." Andika mulai menyorot ke arah perempuan.

__ADS_1


"Mantap, gaya itu, sipp abiss...."


*Brukk!!!


"Anjirrr..! Dari tadi cuma ngambil gambar Amel, Mulu!!!" Andika sontak membanting handycam Rian ke tanah dengan kesal.


Akan sedikit aku jelaskan, Amel merupakan teman sekelas kami dan memiliki bobot yang cukup luar biasa untuk ukuran anak SMA, karena dia benar-benar besar dalam artian sebenarnya.


"Handycamku!"


"Bodoh apa yang kau lakukan!? Itu punya ayahku!"


"Siapa di sana!?"


"Gawat ketahuan!"


"Kabur!" Sesaat kami terkejut saat mendengar suara itu dari arah perempuan, kami langsung pergi berlari sejauh mungkin.


Kami sama sekali tidak mempedulikan handycam Rian yang jelas sudah rusak, kami duduk diam di dekat tenda sambil mulai memanaskan air padas untuk Mi.


Setelah itu beberapa saat Cella dan Karin muncul setelah mandi dari sungai, itu terlihat jelas dengan rambut mereka yang masih agak basah.


"Y-yo... Ka-karin Cella." Andika menyapa mereka agak canggung.


"Andika? Semua lagi sarapan?" Karin bertanya setelah duduk di dekatku.


"Ah, i-iya," balasku singkat.


"Kalian tau, tadi ada yang mengintip kami di sungai," ucap Karin sambil membuka Mi Cup yang aku berikan begitu juga dengan Cella.


"Se-serius."  Suara Andika gemetar.


"Iya, tapi untungnya pengintipnya sudah ketangkap." Cella berkata begitu setelah menuangkan Air panas ke dalam Mi Cup.


"Eh? beneran?"


"Iya, katanya Senior kelas XII. Padahal dia kakak kelas, dia bilang cuma lewat, tapi untung saja kami menemukan handycam yang sengaja dia rusak saat ketahuan." Jelas Karin yang mulai menyantap Mi Cup.


"Jadi dia tidak bisa beralasan, deh."


"...."


Sementara itu kami hanya memakan Mi dalam diam tanpa bertanya lebih lanjut, satu hal yang kami pahami saat ini, maaf senior.


Maafkan junior kamu yang berdosa ini, sampai kapanpun kami akan selalu mengingat jasamu.


Setelah menyantap Mi, Andika kembali ke kelompoknya dan pagi ini kami mulai Gotong Royong membersihkan area hutan dari sampah.


Semuanya melakukan tugas mereka masing-masing, sesekali aku melihat Cella.


Senyumnya memang selalu indah, aku selalu menyukai senyum itu.


Kemudian waktu cepat berlalu sampai kini kami berada di jam bebas. Karena hari mulai malam dan kami juga sudah membeli bahan makanan akhirnya aku mulai memasak bahan yang kami beli.


"Umn... Enak." Karin mengatakan itu saat menyantap masakanku.


"Benar, sudah aku duga Rudi memang selalu bisa di andalkan," ucap Rian sambil terus memakan, makanan yang aku buat.


Sementara itu, Cella terlihat senang, itu kembali membuatku sedikit malu.


"Oh iya, kalian main gak Game yang baru-baru ini populer?" Wahyu memulai membuka pembicaraan setelah kami menyantap makanan.

__ADS_1


"Owh... Game Rune of Neverland itu, kan?" Jawab Karin.


"Iya, kalian main?"


"Iya, kami berdua main, Iyakan Cella?" Lanjut Karin.


"Iya, Gamenya seru." Cella mengucapkan itu dengan senang.


"Seru Gamenya atau seru karena ada pacarnya." Seperti hantaman tajam dari Karin sesaat mengatakan itu.


"Ukh... Hee... Jadi Cella sudah menikah di Gamenya?" Rian sedikit ragu bertanya karena dia tau benar kalau aku menyukai Cella.


"Tentu saja! Dia sudah menikah di Game, lagi pula banyak bonus yang bisa di buka dengan menikah" Karin menjawab pertanyaan dari Rian yang seharusnya di jawab dengan Cella.


"Bonus, yah. Berarti Cella menikah dengan Karin, kan?"


"Gak, dia menikah dengan pacarnya." Jawab Karin singkat.


Sangat singkat. Namun, jelas ini seperti Sambaran petir di malam hari. Aku menatap api unggun dengan kosong.


'pacar, Karin bilang dia menikah dengan pacar.' Aku terus berulang kali mengucapkan kalimat itu di dalam pikiranku.


"Rudi? Kau gak papa?" Sementara itu Wahyu menggoyangkan bahuku karena dia agak kawatir karena aku hanya diam saja.


Aku sama sekali tidak berkedip saat memandang api unggun, kini pikiranku hanyut dengan pernyataan dari Karin, aku mencoba menolak. Namun, melihat ekspresi gugup dari Cella jelas itu tidak bohong.


"Hoi, Rudi?" Aku hanya tetap diam saat Wahyu mulai menggoyangkan bahuku lebih keras.


*Bruk!


"Ru-rudi!?" Sesaat Wahyu panik saat aku terjatuh seperti batu saat berada di posisi duduk.


Malam itu aku di bawa ke dalam tenda oleh Rian dan Wahyu, masih dalam posisi yang sama aku hanya diam sambil menatap dengan pandangan kosong.


"Ru-rudi tidak apa-apa?" Suara Cella terdengar dari luar, biasanya aku akan senang saat dia menghawatirkanku namun, untuk malam ini itu membuatku sakit.


"Sepertinya Dia terpukul," bisik Rian pelan ke wahyu.


"Iya, aku paham dengan perasaannya." Wahyu membenarkan perkataan Rian dengan menganggukkan kepalanya.


"Jadi, setelah ini apa?"


"Entahlah Rian, sepertinya dia perluh waktu sendiri."


Setelah mengatakan itu mereka semua kembali duduk di dekat api unggun, aku menatap langit-langit tenda dengan kosong, pikiranku kacau.


Sejak awal aku paham Cella merupakan perempuan populer yang tentu di sukai banyak anak laki-laki, aku tahu itu. Tapi aku tetap menyukainya.


Sejak awal aku melihat senyum itu aku sudah jatuh cinta, tapi sekarang aku sudah mendengar jelas dia sudah pacaran.


Itu cukup membuatku sakit, aku mulai menarik selimutku dan mencoba tidur untuk malam itu, aku mencoba untuk tidur lebih cepat malam ini dan Tanpa aku sadari Camping selama 3 hari berlalu dengan Cepat.


Kami mengemasi barang kami, tenda dan bungkus Mi yang kami makan sebelumnya.


Cella tersenyum ke arahku saat kami bertatapan dan dia menanyakan keadaanku, aku hanya membalasnya dengan singkat dan mencoba menjaga jarak dengannya.


Dia menyadarinya namun tidak bertanya apapun. Ini bukan salah Cella jika dia punya pacar sekarang.


Tapi aku.


Aku sejak awal memang tidak memiliki hubungan apapun.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2